Selasa, 17 Juli 2018

RUMAH YANG BERKAH (Art.Salayok131)



Hampir sebagian besar hidup kita dihabiskan di rumah atau tempat tinggal. Karena itulah kita berusaha membangun rumah yang senyaman mungkin. Kita kerahkan segalanya baik pikiran ataupun harta untuk mewujudkan sebuah rumah yang penuh dengan kedamaian dan kasih sayang, nyaman dan tentram.

Namun, banyak di antara kita yang lupa bahwa sesungguhnya rumah impian itu bukan terletak pada bentuk fisiknya, akan tetapi ada pada keberkahannya. Karenanya, Allah mengajarkan kita untuk berdo'a meminta tempat tinggal yang berkah bukan tempat tinggal yang sekedar indah. Allah berfirman:

وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

"Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat." (QS. Al-Mu'minun: 29)

Kapan sebuah rumah itu menjadi hunian yang berkah?! Pada saat rumah itu dipenuhi dengan kebaikan. Orang-orang yang tinggal adalah orang-orang yang ta'at kepada Allah, sehingga rumah dihiasi dengan ibadah.

Rumah yang berkah adalah rumah yang penuh dengan shalat sunnah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

صَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ المَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا المَكْتُوبَةَ

"Wahai sekalian manusia, shalatlah kalian di rumah kalian. Karena sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya, kecuali shalat wajib." (HR. Bukhari: 698, Muslim: 781)

Rumah berkah penuh dengan lantunan al-Qur'an. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, seperti perumpamaan orang hidup dan mati.” (HR. Muslim: 779)

Rumah yang berkah tidak dihiasi dengan patung atau gambar makhluk bernyawa. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةٌ

“Para malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar.” (HR. Bukhari: 3226, Muslim: 2106)

Inilah rumah yang indah dan berkah, yaitu penuh dengan ibadah. Sebaliknya, jika sebuah rumah tidak pernah ada bacaan al-Qur'an, jarang didirikan shalat, penuh dengan patung dan gambar makhluk bernyawa maka betapa pun indahnya bangunannya, rumah itu tidak mempunyai keberkahan.

Oleh sebab itu, bangunlah rumah dengan keberkahan, penuhi dengan ibadah. Jangan hanya mempercantik bangunannya saja sedangkan ia tak ubahnya seperti kuburan. Ingat selalu, bahwa yang kita harapkan dari rumah itu adalah keberkahannya bukan sekadar keindahan bangunannya.
 

Sabtu, 14 Juli 2018

BULAN-BULAN HARAM


Memasuki awal dari bulan Dzul Qa'dah dan nanti akan diikuti oleh Dzul Hijjah serta Muharram. Tiga bulan itu ditambah dengan bulan Rajab adalah empat bulan haram, yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'ala dalam firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ 

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di bulan-bulan itu. (QS. At-Taubah: 36)

Artinya, tiga bulan ini kita akan berada di bulan haram yang mulia. Ada apa dengan bulan-bulan ini?! Ali bin Abi Thalhah rahimahullah mengatakan bahwa diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau menjelaskan perihal maksud dari ayat; "Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di bulan-bulan itu", maksudnya adalah:

فِي كُلِّهِنَّ، ثُمَّ اِخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وَعَظّمَ حُرُمَاتِهن، وَجَعَلَ الذَنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَم وَ العَمَلَ الصَّالِحَ وَالأَجْرَ أَعْظَم 

"Pada semua bulan, kemudian Allah mengkhususkan darinya empat bulan, menjadikan empat bulan itu sebagai bulan haram. Mengagungkan kemuliaannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut lebih besar sebagaimana amal shalih serta pahala juga lebih besar." (Tafsir al-Qur'anul Azhim: 4/148)

Itulah dia, memang bulan-bulan haram ini menawarkan kepada kita kesempatan untuk melipatgandakan amal shalih. Kebaikan yang kita lakukan di bulan ini lebih besar nilai pahalanya. Namun di sisi lain, sebaliknya setiap keburukan dan maksiat yang kita lakukan di bulan ini dosanya juga lebih besar jika dibanding di bulan yang lain. Imam Qatadah rahimahullah mengatakan:

اِعْلَمُوْا أَنَّ الظُّلْمَ فِي الأَشْهُرِ الحُرُم أَعْظَمُ خَطِيْئَةً وَوِزْرًا فِيمَا سِوَى ذَلِكَ

"Ketahuilah, bahwa kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada selain bulan-bulan tersebut." (Jamiul ulumi wal Hikam: 2/317)

Oleh sebab itu, pahamilah hal ini. Bulan-bulan haram adalah bulan yang mulia. Maka seyogyanya digunakan untuk menambah amal shalih bukan semakin larut dalam maksiat yang akhirnya menambah jumlah beban dosa yang harus kita pikul.

Selasa, 10 Juli 2018

MANHAJ DAKWAH AHLI BID'AH


Oleh: al-ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Di antara manhaj dakwah bid'ah penyesat umat yang harus kita ketahui dan kita jauhi adalah sebagai berikut:

1. Berdakwah dengan mendirikan partai atau golongan

Lembaga apa pun namanya yang memecah belah umat karena fanatik kepada golongan atau kelompok, hukumnya haram. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ 

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. (QS. Al-An'am: 159)

2. Berdakwah dengan nasyid atau syair-syair

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: "Tidak benar ada nasyid Islam, kita tidak menjumpai kitab ulama salaf membolehkan hal itu, akan tetapi ini perbuatan orang sufi yang mereka sebut samma'." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil al-Mulimmah: 1/177)

3. Berdakwah dengan musik 

Nyanyian dan musik hukumnya haram berdasarkan firman Allah di dalam surat Luqman: 6 dan sabda Rasulullah shallallahu wasalam:

 لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ والحَرِيْرَ وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ

"Sungguh akan ada diantara umatku ini kaum yang menghalalkan zina, sutra (untuk pria), khamar, dan alat musik." (HR. Bukhari: 17/296)

4. Berdakwah dengan cerita dan dongeng

Imam Malik rahimahullah berkata: "Sungguh aku membenci cerita-cerita yang dibaca di masjid, tidak boleh duduk bersama mereka, karena dongeng itu bid'ah dan mereka tidak boleh menjadi khatib." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/183)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: "Boleh orang itu bercerita bila cerita itu ada di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahih seperti menceritakan keberadaan umat yang dahulu bila bermaksud untuk mengambil pelajaran." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/183)

5. Berdakwah dengan sandiwara

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: "Sandiwara tidak boleh dilakukan di masjid atau di tempat lain, akan tetapi di masjid lebih berat dosanya. Sandiwara termasuk hal yang sia-sia dan permainan. Tidak boleh diamalkan dan bukan termasuk amalan umat Islam, akan tetapi pekerjaan orang kafir." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/182)

Untuk lebih jelasnya silakan baca kitab at-Tamtsil Haqiqatuhu, Tarikhuhu wa Hukmuhu oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

6. Wisata atau safari dakwah hizbiyah

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya tentang wisata atau safari dakwah, maka beliau menjawab: "Kamu jangan tinggalkan masjid dan majelis ilmu, tinggalkan wisata yang mereka sebut wisata dakwah, karena kita tidak tahu hakikatnya dan di balik itu dan tidak tahi siapa pematerinya, tapi kalian telah memiliki masjid dan sekolah serta ma'had, tekuni majelis mereka. Karena waktu sekarang waktu fitnah, orang Islam bagaikan kambing hidup di antara serigala. Dia ingin menerkam, maka tekuni di masjid dan majelis mereka dan jangan banyak keluar ikut safari dakwah." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/193)

Dan masih banyak metode dakwah yang sesat dan menyesatkan. Misalnya dakwah dengan melawak, mendahulukan khilafah, mewajibkan keluar atau khuruj beberapa  beberapa hari setiap bulannya, memperingati hari ulang tahun bid'ah dan perbuatan maksiat lainnya.
_____________________

Sumber: Majalah Al-Furqon 82 tahun 1429H/2008M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma'had Al-Furqon, Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur 61153

SEBAB PERBEDAAN PENDAPAT ANTAR ULAMA


Di antara faktor yang menyebabkan perselisihan pendapat di kalangan para ulama antara lain:

1. Belum sampai dalil kepadanya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada para sahabat. Seperti kisah Umar yang bermusyawarah tentang wabah penyakit tha'un yang melanda Syam. (HR. Bukhari: 5729)

2. Adakalanya hadits telah sampai kepadanya namun ia belum sepenuhnya percaya kepada pembawa beritanya. Dan ia mengira bahwa hadits itu bertentangan dengan dalil yang lebih kuat. Seperti kisah Umar bin Khaththab yang menolak hadits yang dibawa oleh Fathimah binti Qais radliyallaahu anha (HR. Muslim: 1480) karena menurutnya bertentangan dengan dalil yang lebih kuat.

3. Adakalanya hadits telah sampai kepadanya tapi ia kemudian lupa. Sebagaimana yang terjadi pada kisah Umar bin Khaththab bersama Ammar bin Yasir radhiyallahu anhum. (HR. Bukhari: 346, Muslim: 368)

4. Dalil telah sampai namun ia salah memahaminya. Sebagaimana yang terjadi pada para sahabat ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan mereka supaya bergegas ke Bani Quraizhah. (HR. Bukhari: 946, Muslim: 1770)

5. Dalil telah sampai kepadanya dan ia sudah memahaminya. Akan tetapi, hukum yang ada pada dalil itu sudah dimansukh (dihapus). Sebagaimana yang terjadi pada kisah Ibnu Mas'ud bersama Alqamah dan al-Aswad perihal letak tangan ketika rukuk. (HR. Muslim: 534)

6. Telah sampai dalil kepadanya namun ia menyakini bahwa dalil itu ditentang oleh dalil yang lebih kuat. Sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Abbas perihal riba fadhl.

7. Seorang alim mengambil hadits dha'if atau beristidhlal dengan istidhlal yang lemah.
_______________

Referensi: Al-Khilafu bainal Ulama Asbabuhu wa Mauqifuna Minhu, oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Sabtu, 07 Juli 2018

SUDAH BENARKAH ISLAMKU?


Pernahkah kita, dikala duduk seorang diri bertanya pada diri kita sendiri, "Sudah benarkah Islam yang aku jalani ini? Apakah Islam yang aku amalkan hari ini sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi pada 15 abad silam?"

Pertanyaan seperti itu penting, karena kenyataannya memang kita ditakdirkan hidup di akhir zaman. Jauh dari mata air Islam itu sendiri. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan zaman yang setelahnya lebih buruk dari sebelumnya.” (HR. Bukhari: 7068)

Jangan terlalu percaya diri karena kita lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang Islami. Ayah ibu kita muslim, kita tinggal bersama kaum muslimin. Lantas kemudian kita pun tidak mau kembali muhasabah dan belajar tentang agama ini. Bukan bermaksud apa-apa, hanya karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

بَدَأَ الإِسْلامُ غَرِيبًا ، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

"Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka beruntung orang-orang yang asing." (HR. Muslim: 145)

Dijelaskan oleh al-Imam Abul Hasan as-Sindi rahimahullah (wafat: 1137H), perihal makna "Islam itu akan kembali asing", beliau mengatakan:

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا، بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرًا

"Islam akan kembali asing disebabkan karena sedikitnya orang yang benar-benar mengamalkannya dan menolong (memberikan kontribusi) kepadanya meskipun pemeluknya banyak." (Hasyiah Ibni Majah: 4/349 Cet. Darul Ma'rifah, Beirut)

Subnalllah, bukankah itu terjadi di zaman kita ini. Di saat banyak orang yang mengaku muslim namun tidak perhatian dan tidak mengamalkan Islam dengan sesungguhnya. Sangat jauh dari amalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ketika ada orang-orang yang benar mengamalkannya justru dianggap asing. Dengan ringannya mereka dikata-katai; "Beragama Islam itu yang biasa-biasa sajalah."  Ketika ada wanita bercadar kemudian dilarang lantaran anggapan bahwa cadar itu bukan bagian dari Islam, hanya budaya Arab saja.

Oleh sebab itu, mari kita bersama-sama kembali intropeksi. Tanyakanlah pada diri kita, "Sudah benarkah kita menjadi muslim yang sesungguhnya? Ataukah justru kita termasuk orang yang ikut dalam kelompok yang banyak itu. Sekadar mengaku muslim tapi tidak kenal dengan Islam itu sendiri." Ini bukan urusan kita dengan orang lain, tapi urusan kita dengan hati sanubari kita sendiri. Lakukanlah sekarang sebelum datang penyesalan.

Kamis, 05 Juli 2018

DIA LEBIH BAIK DARI DIRIKU



Menyadari kadar diri serta mau mengakui kelebihan orang lain adalah akhlak yang tinggi. Tapi, tidak banyak yang mampu melakukannya. Kita masih sulit menerima kenyataan, mulut masih berat untuk mengucapkan; "Dia lebih baik dari diriku, dia lebih faqih, semoga Allah memberkahinya."

Padahal, salah satu sifat para nabi adalah mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain serta memuliakannya. Tidak malu dengan kekurangan yang ada pada diri mereka. Lihatlah Nabi Musa 'alaihi salam, yang memperlihatkan kepada kita akhlak yang mulia ini. Sebagaimana yang dihikayatkan oleh Allah dalam al-Qur'an:

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku. (QS. Al-Qashash: 34)

Pertanyaannya, apakah Nabi Musa menjadi rendah dengan hal itu?! Jelas tidak, justru hal itu semakin menambah kemualian dirinya. Sehingga benar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seorang bertawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)

Bandingkan dengan Iblis, yang tidak mau mengakui kelebihan Adam sehingga tidah ayal akhirnya ia pun dengan angkuh mengatakan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shad: 76)

Pernyataannya, apakah dengan pernyataannya tersebut kemudian ia menjadi mulia?! Tidak, justru sebaliknya ia bertambah hina dan memalukan.

Berarti kesimpulannya, mau mengakui kedudukan dan kelebihan orang lain adalah akhlaknya para Nabi sedangkan mengingkari dan tak mau mengakui adalah akhlaknya Iblis.

Sekarang tinggal tentukan pilihan kita. Apakah akan meniru para nabi ataukah meniru Iblis. Sebagai seorang muslim yang baik tentu kita akan memilih jalannya para nabi. Oleh sebab itu, jangan malu untuk mengucapkan;  "Dia lebih berilmu dan lebih faqih dariku," "Dia lebih hafal dan lebih bertakwa," "Dia lebih baik dari diriku."

Rabu, 04 Juli 2018

RENCANA BAIK DAN IDEALISME


Banyak diantara kita yang mangkrak dalam melakukan kebaikan. Rencana demi rencana telah digulirkan. Namun, semua masih dalam angan-angan yang tidak tahu kapan akan menjadi nyata. Sebabnya apa? Salah satunya adalah kita terlalu memaksakan diri untuk menjadi seorang yang idealis.

Menginginkan segala sesuatunya baik dan sempurna adalah hal yang boleh-boleh saja dan bahkan dianjurkan. Akan tetapi, tentu hal itu harus dibarengi dengan kemampuan yang ada. Mulai melakukan kebaikan meski pun kecil, jauh lebih utama daripada rencana besar namun tak kunjung menjadi nyata.

Karenanya, syari'at kita menganjurkan untuk memilih pekerjaan yang kita mampu, kemudian memulai untuk merealisasikannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ! خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ

“Wahai sekalian manusia, ambillah pekerjaan sesuai dengan kemampuan kalian.” (HR. Bukhari: 5861, Muslim: 782)

Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang continue dan konsisten, meski hanya sedikit dan kecil. Buat apa besar tapi hanya satu kali, atau bahkan malah masih baru rencana saja semenjak sekian lama. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR. Bukhari: 6464, Muslim: 783)

Kita bukan menafikan idealisme, hanya bagaimana kita dapat memulai langkah pertama dalam kebaikan yang telah kita niatkan, baru kemudian setelah itu melakukan perbaikan dan penyempurnaan hingga tercapai kesempurnaan. Karena dalam agama kita pun, disyariatkan apabila kita beramal harus ditekuni, diperbagusi, sehingga menghasilkan pekerjaan yang baik. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah cinta jika salah seorang diantaramu melakukan suatu amalan, ia benar-benar menekuninya.” (HR. Thabarani dalam al-Ausath: 891, ash-Shahihah: 1113)

Oleh sebab itu, cintailah kebaikan dan jadilah kunci pembukanya dimana pun kita berada. Segera aplikasikan niatan baik kita meski harus dengan hal kecil tanpa menunggu semua lengkap tersedia. Jangan sampai idealisme justru menghambat rencana baik kita hingga akhirnya ia pun terkikis oleh perjalanan masa dan terkubur untuk selama-lamanya.