Tampilkan postingan dengan label Akhlak dan Tazkitun Nufus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak dan Tazkitun Nufus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2018

NAIK HAJI KE TANAH SUCI



Naik Haji, adalah satu diantara sekian banyak harapan kita. Sebuah perjalanan ibadah menuju tempat termulia di jagad raya. Pautan hati tempat bersimpuh khusyuk di hadapan ilahi rabbi. Rindu sangat sanubari tatkala mata menatap ka'bah dari sini. Lebih dari itu, balasan dari ibadah ini pun satu hal yang sangat kita dambakan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

"Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." (HR. Bukhari: 1773, Muslim: 1349)

Allah telah mewajibkan hambanya yang memiliki kemampuan untuk menunaikan ibadah yang satu ini. Allah berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran: 97)

Bahkan ia merupakan tonggak agama Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَ إِيْتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَ حَجِّ الْبَيْتِ ، وَ صَوْمِ رَمَضَانَ 

"Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, naik haji, dan puasa Ramadhan." (HR. Bukhari: 8, Muslim: 16)

Maka bagi siapa yang telah mampu tapi tidak mau, masih saja menunda-nunda maka keislamannya dipertanyakan. Jika ia mati dalam keadaan demikian maka ia berdosa besar. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu pernah mengatakan:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ مُوْسِرٌ لَمْ يَحُجَّ، فَلْيَمُتْ عَلَى حَالٍ شَاءَ، يَهُوْدِيًّا أَوْ نَصْرَنِيًّا

"Barangsiapa yang mati dalam keadaan kaya tapi belum menunaikan haji, maka matilah dalam keadaan yang ia mau; Yahudi atau Nasrani." (Al-Mushannaf Abi Syaibah: 14670, Ta'liqah ala Syarhis Sunnah Al-Imam al-Muzani: 134)

Oleh sebab itu, bagi Anda yang memiliki kelapangan rezeki dan kemampuan segeralah untuk menunaikan ibadah ini. Tahukah Anda?! Di sana banyak orang yang sangat rindu tapi tak mampu. Ingin rasanya memeluk gunung, tapi apalah daya tangan tak sampai. Sekarang Anda memiliki kesempatan itu maka jangan disia-siakan. Ingat haji yang mabrur balasannya adalah surga. Tidakkah Anda ingin ke sana?!

Rabu, 18 Juli 2018

BEKAL PERJALANAN (Art.Salayok132)


Betapa sibuknya kita ketika hendak bepergian jauh. Lihat saja pada libur panjang dalam "acara mudik lebaran." Berbagai kebutuhan kita siapkan bahkan jauh sebelum hari keberangkatan datang. Semua, karena kita tak ingin mendapat halangan baik sebelum atau di tengah perjalanan sehingga mengakibatkan kita tak bisa sampai ke tempat tujuan.

Akhirnya tidak sedikit di antara kita yang kemudian benar-benar mempersiapkan segalanya. Bahkan saking banyaknya, perbekalannya tidak mampu dibawa kecuali harus dengan kendaraan. Inilah yang diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya berkaitan dengan salah satu hikmah dan manfaat dari hewan ternak:

وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan ia (hewan ternak itu) memikul beban-bebanmu menuju suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Nahl: 7)

Sejenak kalau direnungkan, jika demikian keadaan kita dalam mempersiapkan bekal perjalanan dunia lantas bagaimanakah dengan perjalanan akhirat yang tentu lebih jauh dan melelahkan?! Inilah yang diungkapkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, setelah beliau menyebutkan ayat tadi beliau kemudian berkata:

فَهَذَا شَأْنُ الاِنْتِقَالِ فِي الدُّنْيَا مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ، فَكَيْفَ الاِنْتِقَالُ مِنَ الدُّنْيَا إِلَى دَارِ القَرَارِ

"Ini adalah perpindahan di dunia dari satu negeri ke negeri yang lain. Lantas bagaimana dengan perpindahan dari dunia menuju negeri keabadian?!" (Miftah Dar as-Sa'adah: 1/26)

Sudah barang tentu jauh lebih membutuhkan perbekalan. Karenanya Umar bin Abdul Aziz rahimahullah dahulu pada khutbahnya pernah mengatakan:

 إِنَّ لِكُلِّ سَفَرٍ زَادًا لَا مَحَالَة، فَتَزَوَّدُوْا لِسَفَرِكُمْ مِنَ الدُّنْيَا إِلَى الآخِرَة

“Sesungguhnya setiap perjalanan pasti membutuhkan bekal, maka berbekallah untuk perjalanan kalian dari dunia menuju akhirat.” (Hilyahtul Auliya’ cet. Darul Fikr: 5/291)

Oleh sebab itu, betapa tidak bijaknya jika untuk perjalanan dunia kita kerahkan segenap kemampuan untuk menyiapkan perbekalan sedangkan untuk perjalanan akhirat yang jauh lebih panjang, berat dan melelahkan kita hanya biasa-biasa saja. Seolah tak peduli padahal perjalanan itu pasti akan kita lalui.

Maka sekarang, mari mempersiapkan bekal perjalanan ini. Jangan katakan "esok, lusa atau nanti", tapi mulailah detik ini. Perjalanan ini sangat panjang, kematian pasti datang. Sedang kita tak tahu kapan ia menjelang.


Sabtu, 14 Juli 2018

BULAN-BULAN HARAM


Memasuki awal dari bulan Dzul Qa'dah dan nanti akan diikuti oleh Dzul Hijjah serta Muharram. Tiga bulan itu ditambah dengan bulan Rajab adalah empat bulan haram, yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'ala dalam firman-Nya:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ 

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di bulan-bulan itu. (QS. At-Taubah: 36)

Artinya, tiga bulan ini kita akan berada di bulan haram yang mulia. Ada apa dengan bulan-bulan ini?! Ali bin Abi Thalhah rahimahullah mengatakan bahwa diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, beliau menjelaskan perihal maksud dari ayat; "Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di bulan-bulan itu", maksudnya adalah:

فِي كُلِّهِنَّ، ثُمَّ اِخْتَصَّ مِنْ ذَلِكَ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ فَجَعَلَهُنَّ حَرَامًا، وَعَظّمَ حُرُمَاتِهن، وَجَعَلَ الذَنْبَ فِيْهِنَّ أَعْظَم وَ العَمَلَ الصَّالِحَ وَالأَجْرَ أَعْظَم 

"Pada semua bulan, kemudian Allah mengkhususkan darinya empat bulan, menjadikan empat bulan itu sebagai bulan haram. Mengagungkan kemuliaannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut lebih besar sebagaimana amal shalih serta pahala juga lebih besar." (Tafsir al-Qur'anul Azhim: 4/148)

Itulah dia, memang bulan-bulan haram ini menawarkan kepada kita kesempatan untuk melipatgandakan amal shalih. Kebaikan yang kita lakukan di bulan ini lebih besar nilai pahalanya. Namun di sisi lain, sebaliknya setiap keburukan dan maksiat yang kita lakukan di bulan ini dosanya juga lebih besar jika dibanding di bulan yang lain. Imam Qatadah rahimahullah mengatakan:

اِعْلَمُوْا أَنَّ الظُّلْمَ فِي الأَشْهُرِ الحُرُم أَعْظَمُ خَطِيْئَةً وَوِزْرًا فِيمَا سِوَى ذَلِكَ

"Ketahuilah, bahwa kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya daripada selain bulan-bulan tersebut." (Jamiul ulumi wal Hikam: 2/317)

Oleh sebab itu, pahamilah hal ini. Bulan-bulan haram adalah bulan yang mulia. Maka seyogyanya digunakan untuk menambah amal shalih bukan semakin larut dalam maksiat yang akhirnya menambah jumlah beban dosa yang harus kita pikul.

Sabtu, 07 Juli 2018

SUDAH BENARKAH ISLAMKU?


Pernahkah kita, dikala duduk seorang diri bertanya pada diri kita sendiri, "Sudah benarkah Islam yang aku jalani ini? Apakah Islam yang aku amalkan hari ini sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu alaihi pada 15 abad silam?"

Pertanyaan seperti itu penting, karena kenyataannya memang kita ditakdirkan hidup di akhir zaman. Jauh dari mata air Islam itu sendiri. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan zaman yang setelahnya lebih buruk dari sebelumnya.” (HR. Bukhari: 7068)

Jangan terlalu percaya diri karena kita lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang Islami. Ayah ibu kita muslim, kita tinggal bersama kaum muslimin. Lantas kemudian kita pun tidak mau kembali muhasabah dan belajar tentang agama ini. Bukan bermaksud apa-apa, hanya karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

بَدَأَ الإِسْلامُ غَرِيبًا ، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

"Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka beruntung orang-orang yang asing." (HR. Muslim: 145)

Dijelaskan oleh al-Imam Abul Hasan as-Sindi rahimahullah (wafat: 1137H), perihal makna "Islam itu akan kembali asing", beliau mengatakan:

وَسَيَعُودُ غَرِيبًا، بِقِلَّةِ مَنْ يَقُوم بِهِ وَيُعِين عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ أَهْله كَثِيرًا

"Islam akan kembali asing disebabkan karena sedikitnya orang yang benar-benar mengamalkannya dan menolong (memberikan kontribusi) kepadanya meskipun pemeluknya banyak." (Hasyiah Ibni Majah: 4/349 Cet. Darul Ma'rifah, Beirut)

Subnalllah, bukankah itu terjadi di zaman kita ini. Di saat banyak orang yang mengaku muslim namun tidak perhatian dan tidak mengamalkan Islam dengan sesungguhnya. Sangat jauh dari amalan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ketika ada orang-orang yang benar mengamalkannya justru dianggap asing. Dengan ringannya mereka dikata-katai; "Beragama Islam itu yang biasa-biasa sajalah."  Ketika ada wanita bercadar kemudian dilarang lantaran anggapan bahwa cadar itu bukan bagian dari Islam, hanya budaya Arab saja.

Oleh sebab itu, mari kita bersama-sama kembali intropeksi. Tanyakanlah pada diri kita, "Sudah benarkah kita menjadi muslim yang sesungguhnya? Ataukah justru kita termasuk orang yang ikut dalam kelompok yang banyak itu. Sekadar mengaku muslim tapi tidak kenal dengan Islam itu sendiri." Ini bukan urusan kita dengan orang lain, tapi urusan kita dengan hati sanubari kita sendiri. Lakukanlah sekarang sebelum datang penyesalan.

Kamis, 05 Juli 2018

DIA LEBIH BAIK DARI DIRIKU



Menyadari kadar diri serta mau mengakui kelebihan orang lain adalah akhlak yang tinggi. Tapi, tidak banyak yang mampu melakukannya. Kita masih sulit menerima kenyataan, mulut masih berat untuk mengucapkan; "Dia lebih baik dari diriku, dia lebih faqih, semoga Allah memberkahinya."

Padahal, salah satu sifat para nabi adalah mengakui kelebihan yang dimiliki oleh orang lain serta memuliakannya. Tidak malu dengan kekurangan yang ada pada diri mereka. Lihatlah Nabi Musa 'alaihi salam, yang memperlihatkan kepada kita akhlak yang mulia ini. Sebagaimana yang dihikayatkan oleh Allah dalam al-Qur'an:

وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا

Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku. (QS. Al-Qashash: 34)

Pertanyaannya, apakah Nabi Musa menjadi rendah dengan hal itu?! Jelas tidak, justru hal itu semakin menambah kemualian dirinya. Sehingga benar sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Tidaklah seorang bertawadhu’ karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim: 2588)

Bandingkan dengan Iblis, yang tidak mau mengakui kelebihan Adam sehingga tidah ayal akhirnya ia pun dengan angkuh mengatakan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah:

قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shad: 76)

Pernyataannya, apakah dengan pernyataannya tersebut kemudian ia menjadi mulia?! Tidak, justru sebaliknya ia bertambah hina dan memalukan.

Berarti kesimpulannya, mau mengakui kedudukan dan kelebihan orang lain adalah akhlaknya para Nabi sedangkan mengingkari dan tak mau mengakui adalah akhlaknya Iblis.

Sekarang tinggal tentukan pilihan kita. Apakah akan meniru para nabi ataukah meniru Iblis. Sebagai seorang muslim yang baik tentu kita akan memilih jalannya para nabi. Oleh sebab itu, jangan malu untuk mengucapkan;  "Dia lebih berilmu dan lebih faqih dariku," "Dia lebih hafal dan lebih bertakwa," "Dia lebih baik dari diriku."

Kamis, 21 Juni 2018

SELAMATKAN DIRI MESKI HANYA DENGAN SEPARUH KURMA


Jangan pernah berangan-angan untuk singgah di neraka walau hanya sekejap mata. Tidak ada yang sanggup dengan pedih siksaannya. Sebab, siksa teringannya saja sangat mengerikan. Satu celupannya saja sudah cukup untuk membuat manusia lupa dengan semua kenikmatan yang pernah mereka rasakan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ : يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ ؟ فَيَقُولُ : لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ

"Didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya di dunia yang termasuk penghuni neraka pada hari kiamat lalu dicelupkan ke neraka sekali celupan, setelah itu dikatakan padanya: 'Wahai anak cucu Adam, apakah kau pernah melihat kebaikan sedikit pun, apakah kau pernah merasakan kenikmatan sedikit pun? ' Ia menjawab: 'Tidak, demi Allah, wahai Rabb.'" (HR. Muslim: 2807)

Makanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kita agar berusaha keras menghindarkan diri dari neraka, meski hanya bersedekah separuh kurma. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda:

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنْ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ

"Barangsiapa di antara kalian yang mampu menghalangi dirinya dari neraka walau dengan sedekah separuh kurma maka lakukanlah." (HR. Muslim: 1016)

Oleh sebab itu, sisihkanlah sebagian harta untuk disedekahkan agar menjadi penghalang dari neraka. Karena sedekah adalah satu hal yang dapat menghalangi manusia dari kerasnya siksa neraka.

Rabu, 20 Juni 2018

TIDUR SETELAH SUBUH



Kadang kala, karena ketidaktahuan kita kehilangan banyak hal berharga. Kita habiskan waktu dan segalanya hanya untuk mengumpulkan batu-batu berkilauan yang kita kira bernilai padahal itu hanyalah pecahan kaca yang telah lama terendam air laut, sedang batu permata yang sesungguhnya justru kita buang.

Waktu antara subuh hingga terbit matahari, adalah waktu yang sangat berharga. Kenapa? Karena ada keberkahan di waktu itu bagi mereka yang mampu memanfaatkannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, At Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236)

Do'a dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi, tidak banyak yang mengetahuinya sehingga waktu itu berlalu begitu saja dengan percuma. Dihabiskan untuk menyambung tidur karena sebelumnya bergadang karena alasan yang tidak terlalu penting.

Di sinilah kesalahan kita, "waktu tidur" kita gunakan untuk bergadang sedang "waktu bangun" kita gunakan untuk tidur. Waktu setelah isya, makhruh untuk hanya sekadar ngobrol ngalor-ngidul. Dengan kata lain jika tidak ada keperluan penting lebih baik cepat tidur. Dari Abu Barzah radhiyallahu anhu, ia mengatakan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْل العِشَاءِ وَالحَدِيْثَ بَعْدَهَا

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat Isya' dan berbincang setelahnya." (HR. Bukhari: 568, Muslim: 647)

Demikian juga dengan tidur setelah subuh hingga terbit matahari hukumnya juga makhruh. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

المَكْرُوْهُ عِنْدَهُمْ: النَّوْمُ بَيْنَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَطُلُوْعِ الشَّمْسِ؛ فَإِنَّهُ وَقْتُ غَنِيْمَةٍ

"Hal yang makruh menurut mereka (para ulama): tidur antara selesai shalat subuh hingga terbit matahari. Karena itu adalah waktu ghanimah." (Madarijus Salikin: 1/324)

"Waktu ghanimah" yaitu waktu meraup kebaikan yang banyak. Makanya para salafush shalih sangat perhatian dalam hal ini. Di antaranya sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah:

عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّهُ قَالَ : كَانَ الزُّبَيْرُ يَنْهَى بَنِيْهِ عَنِ التَّصَبُّحِ

Dari Urwah bin Zubair, ia menuturkan: "Bahwa Zubair bin al-Awwam radhiyallahu anhu melarang anak-anaknya untuk tidur di waktu subuh." (al-Mushannaf: 25442)

Bahkan diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa ia melihat salah seorang anaknya tidur pada waktu subuh maka ia pun mengatakan:

قُمْ، أَتَنَامُ فِي السَّاعَةِ الَّتِي تُقَسَّمُ فِيْهَا الأَرْزَاقُ؟!

"Bagun!! Apakah engkau akan tidur di waktu rezeki sedang dibagikan." (al-Adabu Asy-Sya'iyyah: 3/147)

Oleh sebab itu, perhatikanlah baik-baik waktu setelah subuh, manfaatkan sesuai dengan anjuran Allah dan Rasul-Nya. Waktu setelah subuh adalah waktu yang sangat berharga maka jangan sampai terbuang sia-sia hanya dengan tidur semata.

Minggu, 17 Juni 2018

PUASA SYAWWAL DAN TANDA DITERIMANYA IBADAH YANG LALU


Salah satu sunnah yang seyogyanya dilakukan oleh seorang muslim dan muslimah sepeninggalan bulan Ramadhan adalah berpuasa enam hari di bulan Syawwal. Karena keutamaannya yang besar sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian ia iringi dengan puasa enam hari di bulan Syawwal maka ia seolah telah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim: 1164)

Disamping itu, puasa enam hari di bulan Syawwal ini sangat penting kedudukannya jika dilihat dan dikaitkan dengan ibadah yang telah kita lakukan sebelumnya di bulan Ramadhan. Sebab, diantara tanda diterimanya amalan ibadah kita sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama yaitu ketika kita dimudahkan untuk mengikutkannya dengan amalan ibadah berikutnya.

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah menerangkan tentang hal ini. Setelah beliau menyebutkan hadits-hadits tentang anjuran puasa enam hari di bulan Syawwal beliau kemudian mengatakan:

إِنَّ مُعَاوَدَةَ الصِّيَامِ بَعْدَ صِيَامِ رَمَضَانَ عَلَامَةٌ عَلَى قَبُوْلِ صَوْمِ رَمَضَان، ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻘَﺒَّﻞَ ﻋَﻤَﻞَ ﻋَﺒْﺪٍ ﻭَﻓَّﻘَﻪُ ﻟِﻌَﻤَﻞٍ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ: ﺛَﻮَﺍﺏُ ﺍﻟﺤَﺴَﻨَﺔِ ﺍﻟﺤَﺴَﻨَﺔُ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ ﻓَﻤَﻦُ ﻋَﻤِﻞَ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﺛُﻢَّ ﺍِﺗَّﺒَﻌَﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﺑِﺤَﺴَﻨَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻼَﻣَﺔً ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺒُﻮْﻝِ ﺍﻟﺤَﺴَﻨَﺔِ ﺍﻷُﻭْﻟَﻰﻛَﻤَﺎ ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺣَﺴَﻨَﺔً ﺛُﻢَّ ﺍِﺗَّﺒَﻌَﻬَﺎ ﺑِﺴَﻴِّﺌَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﺫَﻟِﻚَ ﻋَﻼَﻣَﺔَ ﺭَﺩِّ ﺍﻟﺤَﺴَﻨَﺔِ ﻭَ ﻋَﺪَﻡِ ﻗَﺒُﻮْﻟِﻬَﺎ

"Sesungguhnya membiasakan puasa setelah puasa Ramadhan adalah salah satu tanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan. Karena Allah apabila menerima amalan seorang hamba, maka Ia akan memberikan kemampuan kepadanya untuk beramal shalih lagi setelahnya, sebagaimana kata sebagian ulama: 'Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya, barangsiapa melakukan suatu kebaikan kemudian ia ikutkan dengan kebaikan yang lain maka itu adalah tanda diterimanya amal kebaikannya yang sebelumnya, sebagaimana orang yang melakukan kebaikan kemudian ia ikutkan dengan kejelekan maka itu adalah tanda ditolak dan tidak diterimanya kebaikan yang telah ia kerjakan sebelumnya.'" (Lathaiful Ma'arif: 394)

Oleh sebab itu, mari bersungguh-sungguh untuk melakukan puasa enam hari di bulan Syawwal ini. Sehingga kita seolah berpuasa selama setahun penuh dan moga-moga menjadi sebuah petanda diterimanya amal ibadah kita di bulan Ramadhan yang lalu.

Jumat, 01 Juni 2018

JANGAN BANGGA, KREDIT ITU HUTANG!


Hidup sederhana dan tak perlu memaksakan diri lebih baik daripada hidup bergelimang harta namun tak pernah merasa tenang, selalu gundah di waktu malam dan hina di waktu siang.

Itulah yang dipesankan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada umatnya. Dalam sebuah hadits, beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا قَالُوا : وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الدَّيْنُ

"Janganlah membuat takut diri kalian setelah ia merasa aman." Para sahabat bertanya: "Apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Hutang." (HR. Ahmad: 16869, ash-Shahihah: 2420)

Seorang yang beriman pasti akan merasa gundah dan gelisah jika terbelit hutang. Tidur tidak akan tenang, harinya akan dipenuhi dengan ketakutan. Bagaimana tidak demikian sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

Orang yang mati syahid dengan keutamaan yang begitu besar. Semua dosa diampuni kecuali hutang. Lantas bagaimana dengan orang yang bukan syahid.

Hutang harus dilunasi, kemana pun ia lari untuk menghindar, bahkan mati sekalipun tidak serta merta menyelesaikan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078)

Hutang tetap hutang, harus diselesaikan. Jika tidak selesai di dunia maka akan diselesaikan di akhirat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414)

Maka dari itu, tidak ada kebanggaan bagi seorang yang hidup mewah dan serba ada namun terbelit dalam hutang. Punya rumah tetapi kredit. Punya mobil, motor, dst, tapi juga kredit. Belanja ini dan itu, tinggal gesekkan kartu kredit. Bermudah-mudahan dalam kredit, padahal kredit itu sendiri adalah hutang.

Oleh sebab itu, kembali ke wasiat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tadi. Jangan gadaikan diri kita pada sesuatu yang menakutkan. Selama masih bisa hidup tanpa berhutang, lakukanlah. Meski hidup sederhana dan apa adanya. Zahir al-Minangkabawi

Rabu, 30 Mei 2018

IMAM MUJAHID - GHIBAH DAN DUSTA SAAT BERPUASA


Imam Mujahid rahimahullah, salah seorang ulama rujukan dalam tafsir di zaman tabi'in. Beliau rahimahullah pernah mengatakan:

خَصْلَتَانِ مَنْ حَفِظَهُمَا سَلِمَ لَهُ صَوْمُهُ : الغِيْبَةُ والكَذِبُ

"Ada dua kebiasaan buruk yang barang siapa menjaga diri darinya maka puasanya akan selamat yaitu bergunjing serta berdusta." (Umdatul Qari': 10/394) alih bahasa atsar: Fahmi Idris, Bekasi
___________________

Puasa itu bisa rusak dan bahkan bisa jadi tidak memberikan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)

Apa sebabnya? Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumannya.” (HB. Bukhari: 1903)

Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan ghibah dan perkataan dusta, karena keduanya adalah sebab rusaknya puasa kita.

Senin, 28 Mei 2018

SYAIKH ABDURRAHMAN AS-SA'DI (KabaUrangDulu030)


Adakah rasa belas kasih di hati kita? Lihat tandanya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-sa'di rahimahullah mengatakan:

وَعَلاَمَةُ الرَّحْمَةِ المَوْجُوْدَةِ فِيْ قَلْبِ العَبْدِ أنْ يَكُونَ مَحِّبًا لِوصُولِ الخَيْرِ لِكَافَّةِ الخَلْق عُمُومًا، وَلِلمُؤمِنِينَ خُصُوصًا، كَارَهًا حُصُولَ الشَرِّ وَالضَّرَرِ عَلَيهِمْ

"Tanda adanya belas kasih di hati seorang hamba, ia senang berbuat baik kepada semua makhluk, terutama kepada orang-orang mukmin, dia benci berbuat buruk dan menyakiti mereka." (Bahjah Qulubil Abrar: 170) alih bahasa atsar: Muliani

____________________

Seperti satu tubuh, demikianlah perumpamaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bagi sesama orang mukmin dalam hal kasih sayang dan kecintaan mereka. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Permisalan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, kasih sayang,  dan rasa simpati mereka seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya merasa sakit maka semuanya akan turut  terjaga semalaman dan merasa panas demam." (HR. Bukhari: 5665, Muslim: 2586)

Seorang mukmin, ketika melihat saudaranya, ia melihat dengan padangan kasih sayang. Jika saudaranya terjerumus dalam maksiat ia bukan malah menjauhi serta berlaku kasar padanya. Akan tetapi, justru sebaliknya, ia dekati kemudian ia bantu agar saudaranya dapat kembali.

Ingat, bahwa kita ingin menjadi hamba terbaik. Menjadi orang shalih dan mushlih yaitu menjadi pribadi yang baik sekaligus memperbaiki. Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Terlalu egois, jika kita hanya memikirkan diri sendiri kemudian tidak peduli. Hidup di dunia hanya sekali, jadikanlah ia lebih berarti.

Rabu, 23 Mei 2018

IMAM AZ-ZUHRI (KabaUrangDulu027)


Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullah, seorang imam dalam hadits dan termasuk generasi tabi'in. Disebutkan oleh para ulama tentang apa yang beliau lakukan pada saat masuk bulan Ramadhan, di antaranya yaitu apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah:

وَكَانَ الزُّهْرِيُّ إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ قَالَ؛ فَإِنَّمَا هُوَ تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ، وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ

"Dahulu Az-Zuhri ketika masuk bulan Ramadhan mengatakan: Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan membaca al-Qur'an dan memberi makan.'" (Lathaiful Ma'arif :318) alih bahasa atsar: Hendri

_________________

Bulan panen pahala bagi orang yang benar sungguh dan jujur dengan niatnya. Disamping berpuasa dan amalan wajib lainnya, disyari'atkan memperbanyak membaca al-qur'an dan memberi makan kepada orang lain, terutama untuk santapan berbuka mereka. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberi makan seorang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala semisal pahala orang itu tanpa dikurangi dari pahalanya sedikit pun.” (HR. Tirmidzi: 807)

Oleh sebab itu, bagi Anda yang berkelapangan rezki, ini adalah bulan untuk meraup keuntungan besar. Jangan sia-siakan, berikan makanan pada orang yang sedang berpuasa agar Anda mendapatkan pahala semisal pahala mereka.

Minggu, 20 Mei 2018

MANFAATKAN UMURMU UNTUK KEMATIANMU


Oleh: al-ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Orang berusia tua yang paling baik adalah yang mampu memanfaatkan umurnya untuk beribadah kepada Allah, dan mampu membendung hawa nafsunya dari godaan setan yang terkutuk.

Abdullah bin Busr berkata, “Ada seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah siapa manusia yang paling baik?’ Beliau menjawab:

مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ 

‘Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.’” (HR. Tirmidzi; shahih: ash-Shahihah: 1836, al-Misyakah: 5285 (tahqiq kedua), ar-Raudh: 926)

Orang yang mampu memanfaatkan sedetik dari umurnya untuk beribadah kepada Allah, paling baiknya manusia di sisi Allah, dia beruntung karena tidak ada waktu bagi mereka melainkan untuk kebahagiaan dirinya dan umat.

Amr bin Maimun al-Audy berkata, “Rasulullah pernah menasihati seorang pria:

اغتنمْ خمسًا قبل خمسٍ شبابَك قبل هرمكَ وصحتَك قبل سَقمِكَ وغناكَ قبل فقرِك وفراغَك قبل شغلِك وحياتَكَ قبل موتِكَ

‘Ambillah kesempatan lima sebelum datang lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, senggangmu sebelum sibuk, hidupmu sebelum mati.’” (HR. Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 3/168)

Gunakan kesempatan dan kesehatan untuk beribadah, karena pada umumnya manusia lupa ibadah ketika sehat dan pada waktu luang, sebaliknya semangat ingin beribadah tumbuh ketika dilanda kesakitan dan bencana, namun hanya semangat karena kekuatan tidak ada. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no.5933)

JABIR BIN ABDILLAH (KabaUrangDulu025)


Seorang sahabat yang mulia, Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma pernah mengatakan:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَ بَصَرُكَ وَ لِسَانُكَ عَنِ الكَذِبِ وَ الآثَمِ، وَ دَعْ أَذَي الخَادِمِ، وَ لْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَ سَكِيْنَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَ لاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صِيَامِكَ وَ فِطْرِكَ سَوَاء

"Jika kamu berpuasa maka puasakanlah juga pendengaranmu, penglihatanmu dan perkataanmu dari kedustaan dan segala dosa. Hindarkanlah dari menyakiti pelayanmu. Jadikanlah dirimu penuh kewibawaan dan ketenangan di hari puasamu. Janganlah kau jadikan hari puasamu sama dengan hari berbukamu." (Shahih Muslim: 1116) alih bahasa atsar: Fahmi Idris, Bekasi

____________________

Memang demikianlah seharusnya, ketika kita tengah berpuasa pada hakikatnya kita tidak hanya menghalangi diri dari makan dan minum saja. Banyak hal yang mesti kita jauhi, sesuatu yang dibulan biasa haram dan terlarang maka dibulan Ramadhan jauh lebih haram.

Ramadhan adalah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri. Dengan berpuasa kita berusaha menjadi lebih baik. Oleh sebab itu perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala ada orang lain yang menghina dan mencoba menghidupkan api kemarahan kita, cukuplah dengan mengatakan aku sedang berpuasa. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

"Apabila seorang dari kalian tengah berpuasa maka janganlah ia mengucapkan ucapan yang keji dan melakukan perbuatan bodoh. Apabila ada seorang yang menghina dan mengutuknya maka hendaklah ia mengatakan: 'Aku sedang berpuasa.'" (HR. Bukhari: 1894, Muslim: 1151)

Maka dari itu, marilah menjadi seorang yang benar-benar mewujudkan puasa yang sesungguhnya. Menahan diri dari segala bentuk dosa.

Jumat, 18 Mei 2018

BERPUASA TAPI MASIH SAJA MELONTARKAN TUDUHAN DUSTA (Art.Salayok113)


Hari-hari ini memang sedang panasnya tuduhan dusta dan cercaan kepada mereka yang berjenggot atau wanita yang bercadar akibat imbas dari kasus teroris beberapa hari belakangan.

Banyak orang yang kemudian termakan isu dan bisikan busuk setan-setan itu, sehingga lantas kemudian turut menghina dan memojokkan sebagian orang yang berpenampilan tidak seperti dirinya. Padahal dia muslim dan yang dia tuduh itu juga muslim atau muslimah.

Dengan mudah lidahnya berucap, tangan ringan untuk berkomentar dan menulis sesuatu yang tidak layak bagi seorang muslim apalagi dalam keadaan berpuasa. Ingatlah nasehat singkat dari sahabat mulia, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الطَعَامِ وَ الشَّرَابِ، وَلَكِنْ مِنَ الكَذِبِ وَالبَاطِلِ وَاللَّغْوِ

"Puasa itu tidak hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, juga menahan diri dari perkataan dusta, bathil dan sia-sia." (Mausu'ah Nadhratin Na'im: 2661) Alih bahasa atsar: Nurhapni Munthe, Jonggol

Inilah yang wajib kita ketahui dan harus selalu kita ingat. Agar kita tidak termasuk dalam kelompok besar manusia yang merugi itu. Berpuasa, tetapi mulutnya tidak henti-hentinya juga mengeluarkan barang busuk. Celakaan, hinaan, makian, tuduhan dusta, ghibah, dst.

Namun, kalau tidak mau berhenti dan menahan diri juga, ya silahkan saja. Tapi ingat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)

Sungguh rugi besar. Sebabnya kenapa? Tidak lain karena dua bibir dan daging tak bertulang itu. Mulut yang tidak dijaga dari sesuatu yang diharamkan Allah. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumannya.” (HB. Bukhari: 1903)

Oleh sebab itu, kita yang mengaku muslim atau muslimah dan sedang berpuasa, maka tinggalkanlah semuanya. Baik hinaan dan tuduhan dusta secara langsung maupun dengan tulisan berupa komentar di akun media massa, tahan lisan kalau tidak mau puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Zahir al-Minangkabawi

Kamis, 17 Mei 2018

SUFYAN ATS-TSAURI (KabaUrangDulu023)


Ustman bin Zaidah rahimahullah pernah menuturkan perihal nasehat yang disampaikan Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah kepadanya. Ia mengatakan:

كَتَبَ إِلَيَّ سُفْيَانُ الثَوْرِي : إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَصِحَّ جِسْمُكَ،  وَيَقِلَّ نَوْمُكَ، فَأَقِل مِنَ الْأَكْلِ

Sufyan ats-Tsauri pernah menuliskan pesan untukku: "Apabila kamu ingin memiliki badan yang sehat dan sedikit tidur maka kurangilah makan." (Jamiul Ulumi wal Hikam: 2/472) Alih bahasa: Ismianti, Bogor

__________________

Salafunas shalih menyadari betul hakikat hidup di dunia ini. Hidup hanya sekali, untuk menyiapkan bekal menuju perjalanan panjang bertemu Allah. Mereka sangat memahami Firman Allah:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian. (QS. Al-Hijr: 99)

Hidup ini adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah, maka sangat di sayangkan jika hidup hanya untuk banyak tidur. Oleh sebab itu, memperhatikan makanan supaya jangan berlebihan adalah satu hal yang dapat menyehatkan badan dan mengurangi tidur.

SA'ID BIN MUSAYYIB (KabaUrangDulu022)



Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, diriwayatkan dari seorang tabi'in yang mulia Sa'id bin Musayyib rahimahullah, bahwa ia pernah berkata:

مَنْ هَمَّ بِصَلَاةٍ، أَوْ صِيَامٍ، أَوْ حَجٍّ، أَوْ عُمْرَةٍ، أَوْ غَزْوٍ، فَحِيْلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذٰلِكَ، بَلَّغَهُ اللّٰهُ تَعَالَى مَانَوَى.

"Barang siapa yang berniat untuk shalat, puasa, haji, umrah atau berperang kemudian ada penghalang antara dia dengan yang ia niatkan maka Allah akan (menyampaikannya) memberikan pahala atas apa yang di niatkan." (Jami'ul Ulumi wal Hikam: 2/320) Alih bahasa atsar: Elin Hermawati, Bogor
________________________

Itulah kemurahan Allah subhanahu wata'ala kepada para hamba-Nya. Niat dan tekad yang kuat untuk melakukan kebaikan, itulah yang tidak boleh kita lupakan. Sebab Allah memang Maha Pemurah, memberikan ganjaran pahala terhadap niat-niat itu, meski belum melakukannya.

Apabila niat baik itu terwujud melalui perbuatan maka akan dibalas minimalnya sepuluh pahala dan maksimalnya tak terhingga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

"Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan kejahatan, kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berniat kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat lantas ia amalkan, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan, bahkan lipatganda tidak terbatas. Barang siapa yang berniat melakukan kejahatan kemudian tidak jadi ia amalkan, Allah menulis satu kebaikan sempurna disisi-Nya, dan jika ia berniat jahat lalu ia lakukan maka Allah menulisnya sebagai satu kejahatan saja." (HR. Bukhari: 6491, Muslim: 131)

Oleh sebab itu, sekecil apapun niat untuk berbuat kebaikan, niatkanlah, karena Allah Maha Pemurah.

Selasa, 15 Mei 2018

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (KabaUrangDulu021)


Manusia termulia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sahabat agung yang memiliki banyak keutamaan; Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah mengatakan:

لَا خَيْرَ فِيْ قَوْلٍ لاَ يَرَادُ بِهِ وَجْهُ اللهِ، وَ لَا خَيْرَ فِيْ مَالٍ لَا يُنْفَقُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ يَغْلِبُ جَهْلُهُ حِلْمَهُ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ يَخَافُ فِيْ اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"Tidak ada kebaikan pada ucapan yang tidak mengharapkan wajah Allah. Dan tidak ada kebaikan pada harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan pada seseorang yang kebodohannya mengalahkan sifat santunnya. Dan tidak ada kebaikan pula pada seseorang yang takut akan celaan manusia padahal ia berada di jalan Allah." (Kitabuz Zuhd Abu Dawud as-Sijistani: 51) alih bahasa atsar: Siti Rismiati, Cileungsi

__________________

Demikianlah nasehat singkat sabahat mulia. Hidup ini adalah untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wata'ala. Oleh sebab itu, tapakilah selalu jalan yang benar, jangan berpaling ke kiri atau ke kanan. Setelah itu, beristiqamah dan jangan pedulikan lagi celaan dan cibiran manusia. Ingat bahwa Allah pernah berfirman:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ 

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS. Al-Maidah: 53)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda tentang golongan yang selamat:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ 

"Akan senantiasa segolongan dari umatku mengerjakan perintah Allah, mereka tidak termudharati oleh orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah." (HR. Muslim: 1037)

Benar kata orang-orang bijak dahulu, "Jika engkau berada di atas kebenaran, teruslah berjalan. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu." zahir

Senin, 14 Mei 2018

SALAFUS SHALIH (KabaUrangDulu020)


Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menyebutkan bahwa ada di antara salafus shalih yang dahulu pernah mengatakan:

أَدْرَكْتُ قَوْمًا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ عُيُوْبٌ، فَذَكَرُوْا عُيُوْبَ النَّاسِ، فَذَكَرَ النَّاسُ لَهُمْ عُيُوْبًا.  وَأَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَتْ لَهُمْ عُيُوْبٌ، فَكَفُّوْا عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ  فَنُسِيَتْ عُيُوْبُهُمْ

"Aku mendapati suatu kaum yang tidak punya aib sama sekali, lalu mereka menyebut-nyebut aib orang lain, maka orang lain pun menyebut-nyebut aib mereka.  Dan aku juga mendapati kaum lain yang memiliki banyak aib, namun mereka menutupi aib-aib orang lain maka aib mereka pun dilupakan orang." (Jami'ul Ulum Wal Hikam: 2/291) Alih bahasa atsar: Rahmat, Padang

____________________

Siapa dia antara kita yang ingin aibnya terbongkar dan diketahui oleh orang-orang. Semua kita ingin agar aib-aibnya terkubur bersama berjalannya waktu, sehingga tak seorang pun yang tahu. Dan ternyata, cara terbaik untuk mendapatkan hal itu adalah dengan menutupi aib-aib orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim: 2699)

Karena memang balasan sesuai dengan amal yang telah dilakukan. Oleh sebab itu, pejamkan mata, sumbat telinga dan jaga hati, untuk menutupi aib saudara kita yang lain. Zahir al-Minangkabawi

Jumat, 11 Mei 2018

HASAN AL-BASHRI (KabaUrangDulu018)


Sebagai seorang mukmin kita harus tahu bagaimana sikap yang benar dalam bermuamalah dan berinteraksi dengan sesama manusia. Hasan al-bashri pernah mengatakan:

الْمُؤْمِنُ لاَ يَجْهَلُ وَإِنْ جُهِّلَ عَلَيْهِ حَلِمَ، وَلَا يَظْلِمُ وَإِنْ ظُلِمَ غَفَرَ، وَلاَ يَبْخَلُ وَإِنْ بُخِّلَ عَلَيْهِ صَبَرَ

"Seorang mukmin itu tidaklah bodoh, dan jika dibodohi maka dia akan bersikap santun. Dia bukanlah seorang yang zalim dan ketika dizalimi, dia memaafkan. Dia bukanlah orang yang bakhil, ketika dibakhili, dia bersabar." (Rasail Ibnu Abid Dunya: 27) Alih bahasa: Nunung Nuryani, Bogor

__________________

Demikianlah seorang mukmin yang sesungguhnya. Ia tidak akan mau berpegang pada konsep "keburukan harus dibalas dengan keburukan yang serupa", namun sebaliknya, dadanya lapang menerima perlakuan yang menyakitkan. Ia senantiasa ingat bahwa Allah berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ 

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. (QS. Al-Mu'minun: 96)

Dengan begitu, hidupnya terasa lapang. Karena ia yakin dengan janji Allah dan hari pembalasan.