Tampilkan postingan dengan label Artikel Tematik Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Tematik Ilmiah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2018

MENGHIDUPKAN BULAN RAMADHAN


Oleh: Zahir al-Minangkabawi hafizhahullah 

Bulan Ramadhan adalah bulan kebahagiaan, dikarenakan banyaknya pintu kebaikan yang ada di dalamnya. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada para sahabat dengan sabdanya:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa atas kalian. Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini juga, ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalangi dari kebaikannya maka sungguh ia terhalangi untuk mendapatkannya.” (HR. Ahmad 12/59)

Oleh sebab itu, bulan Ramadhan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Menghidupkan siang dan malamnya dengan amal-amal kebajikan.

DI ANTARA AMALAN UNTUK MENGHIDUPKAN BULAN RAMADHAN

Pertama, makan sahur. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari: 1923)

Meski hukumnya tidak wajib, namun hendaknya kita berusaha untuk tidak meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Makan sahur itu penuh berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya seteguk air. Sesungguhnya Allah dan Malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad: 11086)

Kedua, tidak melakukan perbuatan sia-sia dan meninggalkan perkataan kotor. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)

Apa sebabnya? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumannya.” (HB. Bukhari: 1903)

Ketiga, memperbanyak sedekah. Ibnu Abbas menuturkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Bulan dimana Jibril menemuinya pada setiap malam Ramadhan untuk mengajari al-Qur’an. Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari: 6)

Keempat, menyegerakan berbuka dan memberi makan orang yang berbuka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari: 1957)

Dan jika mampu, jangan lupa untuk memberi makan orang lain yang berbuka karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, maka baginya pahala semisal pahala orang itu tanpa dikurangi dari pahalanya sedikit pun.” (HR. Tirmidzi: 807)

Kelima, shalat tarawih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang mengerjakan shalat malam di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari: 37)

Dan hendaknya mengerjakan shalat tarawih bersama imam, jangan pulang sebelum imam selesai. Berapa pun jumlah rakaatnya. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Barang siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, akan ditulis baginya shalat sepanjang malam.” (HR. Tirmidzi: 806)

Keenam, berinteraksi dengan al-Qur'an. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ 

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang bathil. (QS. al-Baqarah: 185)

CARA INTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

1. Banyak membacanya. Mu’adz bin Jabal radliyallaahu anhu menceritakan:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ: أَيُّ الْجِهَادِ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا. قَالَ: فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا 

“Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah kemudian bertanya: “Jihad apakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah menjawab: “Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah.” Kemudian orang itu bertanya lagi: “Siapakah orang yang berpuasa yang paling banyak pahalanya?” Rasulullah menjawab: “Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah.”’

Para ulama telah menjelaskan bahwa dzikir yang paling utama adalah membaca al-Quran. Kenapa? Karena membaca al-Qur’an mengandung obat bagi hati serta penyembuh segala penyakit. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Oleh sebab itu, memperbanyak membaca al-Quran dan mempelajari al-Qur’an dibulan ini termasuk amalan yang sangat dianjurkan. Bahkan, Malaikat Jibril selalu datang setiap malam Ramadhan untuk mengecek dan membacakan al-Qur’an kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

2. Mengamalkan dan merenungi kandungannya.

Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an adalah sebagai pentunjuk bagi umat manusia. Bagaimana seorang akan mendapat pentunjuk jika ia tidak mau merenungi dan mengamalkan kandungan al-Qu’an.

Abu Abdirrahman as-Sulami menceritakan: “Dahulu para sahabat Nabi mengajarkan kami al-Qur’an, semisal Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan yang lainnya, mereka jika belajar sepuluh ayat, tidak pindah hingga mengamalkannya. Mereka belajar dan mengamalkan al-Qur’an bersamaan.” (Syarh Muqaddimah Tafsir hal. 22)

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shad: 29)

Bahkan Allah mencela orang-orang yang tidak mau merenungi dan mempelajari al-Qur’an:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan:

“Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang yang tidak mentadaburi al-Qur’an dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk tanda terkuncinya hati dan terhalanginya kebaikan dari mereka.” (Ushul fi Tafsir hal. 25)

Demikianlah beberapa amalan untuk menghidupkan bulan suci ini. Semoga bermanfaat.

Jumat, 23 Maret 2018

KEUTAMAAN SIFAT TAWAKAL



Tawakal adalah sifat terpuji yang diperintahkan oleh Allah ta'ala. Allah berfirman:

{وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا} [الفرقان : 58]

Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (QS. Al-Furqan: 58)

Defenisi Tawakal

Tawakal secara bahasa berasal dari suku kata waw kaf lam yang bermakna bersandar kepada orang lain dalam satu perkara. Ibnu Sidah mengatakan: "Bertawakal kepada Allah artinya berserah diri kepada-Nya." (Mausu'ah Nadhratun Na'im: 1377)

Tawakal secara istilah adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ibnu Rajab:

حَقِيْقَةُ التَّوَكُّلِ هُوَ صِدْقُ اعْتِمَادِ القَلْبِ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي اسْتِجْلَابِ المَصَالِحِ وَ دَفْعِ المَضَارِّ مِنْ أُمُوْرِ الدُنْيَا وَ الآخِرَةِ كُلِّهَا وَكِلَة الأُمُوْرِ كُلِّهَا إِلَيْهِ وَ تَحْقِيْقِ الإِيْمَانِ بِأَنَّهُ لَا يُعْطِيْ وَلَا يَمْنَعُ وَلَا يَضُرّ وَلَا يَنْفَع سِوَاهُ

"Hakikat tawakal adalah kejujuran penyandaran hati kepada Allah dalam meminta kemaslahatan dan menolak kemudharatan dalam urusan dunia dan akhirat semuanya. Menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya. Serta mengimani bahwa tidak ada yang mampu memberi, menghalangi, memberikan mudharat dan manfaat selain-Nya." (Jami'ul Ulumi wal Hikam: 2/497)

Faidah dan Keutamaan Tawakkal

1. Ciri orang yang beriman

Seorang mukmin adalah orang yang mempunyai sifat tawakkal. Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2)

2. Diberi rezeki dan kecukupan

Barang siapa yang bertawakal maka Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Allah berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath-Thalaq: 3)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

"Andai saja kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya kalian diberi rizki seperti rizkinya burung, pergi dengan perut kosong di pagi hari dan pulang di sore hari dengan perut terisi penuh." (HR. Tirmidzi: 2433)

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengatakan:

قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: تَوَكَّل تُسْقَ إِلَيْكَ الأَرْزَاق بِلَا تَعْبٍ وَلَا تَكَلُّفٍ

"Sebagian ulama salaf mengatakan, 'Tawakal akan mengalirkan rezeki kepadamu tanpa keletihan dan usaha keras.'"(Jami'ul Ulumi wal Hikam: 2/502)

3. Masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab
Diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhu:

خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلُ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّجُلَانِ وَالنَّبِيُّ مَعَهُ الرَّهْطُ وَالنَّبِيُّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ وَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَرَجَوْتُ أَنْ تَكُونَ أُمَّتِي فَقِيلَ هَذَا مُوسَى وَقَوْمُهُ ثُمَّ قِيلَ لِي انْظُرْ فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَقِيلَ لِي انْظُرْ هَكَذَا وَهَكَذَا فَرَأَيْتُ سَوَادًا كَثِيرًا سَدَّ الْأُفُقَ فَقِيلَ هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ وَمَعَ هَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ فَتَفَرَّقَ النَّاسُ وَلَمْ يُبَيَّنْ لَهُمْ فَتَذَاكَرَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا أَمَّا نَحْنُ فَوُلِدْنَا فِي الشِّرْكِ وَلَكِنَّا آمَنَّا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَلَكِنْ هَؤُلَاءِ هُمْ أَبْنَاؤُنَا فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ هُمْ الَّذِينَ لَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ فَقَامَ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ أَمِنْهُمْ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ فَقَامَ آخَرُ فَقَالَ أَمِنْهُمْ أَنَا فَقَالَ سَبَقَكَ بِهَا عُكَاشَةُ

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami lalu beliau bersabda: "Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi lewat bersama satu orang, seorang Nabi bersama dua orang saja, seorang Nabi bersama sekelompok orang dan seorang Nabi tanpa seorang pun bersamanya. Lalu tiba-tiba ditampakkan kepadaku kumpulan manusia yang banyak memenuhi ufuk, aku berharap mereka adalah ummatku, namun dikatakan padaku; 'Ini adalah Musa dan kaumnya, lalu di katakana pula kepadaku; "Tapi lihatlah di ujung sebelah sana.' Ternyata aku melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak, kemudian dikatakan lagi padaku; 'Lihat juga yang sebelah sana.' Ternyata aku juga melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak lagi, lalu dikatakan padaku; 'Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab." Setelah itu orang-orang bubar dan belum sempat ada penjelasan kepada mereka, sehingga para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saling membicarakan hal itu, mereka berkata; "Adapun kita dilahirkan dalam kesyirikan akan tetapi kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mungkin mereka adalah para anak cucu kita." Lantas peristiwa tersebut sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: "Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah bertathayur (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak pernah meminta untuk diruqyah dan tidak mau menggunakan Kay (pengobatan dengan besi panas), dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal." Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata; "Apakah aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya." Kemudian yang lainnya berdiri lalu bertanya; "Apakah aku juga termasuk di antara mereka?" Beliau menjawab: "Ukasyah telah mendahuluimu dalam hal ini." (HR. Bukhari: 5752, Muslim: 220)

Diriwayatkan dari Sa'id bin Jubair, ia pernah bercerita:

لَدَغَنِي عَقْرَبٌ فَأَقْسَمَتْ عَلَيَّ أُمِّيْ أَنْ أسْترْقِيَ، فَأَعْطَيْتُ الرَّاقِي يَدِيَ الَّتِي لِمْ تُلْدَغْ وَ كَرِهْتُ أَنْ أُحْنِثَهَا

"Seekor kalajengking menyengatku, lantas ibuku bersumpah supaya aku diruqiyah. Kemudian aku pun memberikan tanganku yang tidak disengat kepada peruqiyahnya dan aku tidak suka harus membuat ibu membatalkan sumpahnya." (Munajjidul Khatib: 1/57)

3. Menghilangkan rasa takut

Dari Jabir bin Abdillah, ia bercerita:

غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةً قِبَلَ نَجْدٍ فَأَدْرَكَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَادٍ كَثِيرِ الْعِضَاهِ فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحْتَ شَجَرَةٍ فَعَلَّقَ سَيْفَهُ بِغُصْنٍ مِنْ أَغْصَانِهَا قَالَ وَتَفَرَّقَ النَّاسُ فِي الْوَادِي يَسْتَظِلُّونَ بِالشَّجَرِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَجُلًا أَتَانِي وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِي فَلَمْ أَشْعُرْ إِلَّا وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِي يَدِهِ فَقَالَ لِي مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي قَالَ قُلْتُ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّانِيَةِ مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّي قَالَ قُلْتُ اللَّهُ قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Kami berperang bersama-sama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu peperangan di daerah Nejed. Kami jumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di sebuah lembah yang di sana banyak tumbuh pohon-pohon besar dan berduri. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhenti di bawah sebatang pohon, lalu beliau gantungkan pedangnya pada sebatang dahan pohon. Jabir berkata; 'Pada saat itu, para sahabat pergi berpecar di lembah itu. Masing-masing mencari tempat bernaung di bawah pohon. Kemudian Rasulullah mengatakan: "Tadi ketika aku sedang tidur di bawah pohon, ada seseorang yang mendatangiku seraya mengambil pedangku. Tak lama kemudian aku pun terjaga dari tidur, sedangkan ia telah berdiri di atas kepalaku. Aku telah mengetahui bahwasannya ia telah siap dengan pedang di tangannya. Dia berkata; 'Hai Muhammad, siapakah yang dapat menghalangiku untuk membunuhmu? Dengan tegas aku menjawab; 'Allah.' Dia bertanya lagi; 'Siapakah yang dapat menghalangiku untuk membunuhmu? Aku menjawab; 'Allah.' Akhirnya orang tersebut menyarungkan kembali pedangku itu dan inilah orangnya sedang duduk." Ternyata Rasulullah tidak menyerang sama sekali untuk membalasnya. (HR. Bukhari: 2910 Muslim: 843)

Dari Abu Bakar ash Shiddiq, ia menuturkan:

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْغَارِ فَرَأَيْتُ آثَارَ الْمُشْرِكِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ رَفَعَ قَدَمَهُ رَآنَا قَالَ مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا

Aku pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Gua Hira, lalu aku melihat jejak-jejak orang Musyrikin. Maka aku berkata; Ya Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka mengangkat kakinya tentu dia akan melihat kita. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidakkah engkau beranggapan jika ada dua orang, maka Allah lah yang ketiganya?." (HR. Bukhari: 4663)

4. Mendapatkan perlindungan Allah
Dari Ibnu Abbas, ia menuturkan:

{ حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ }
قَالَهَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام حِينَ أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَقَالَهَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَالُوا
{ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ }

Hasbunallah wa ni'mal wakil adalah ucapan Ibrahim Alaihis Salam ketika di lemparkan ke api. Juga diucapkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika orang-orang kafir berkata; "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung." (HR. Bukhari: 4563)

5. Mencegah kesyirikan

Rasulullah bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

"Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-. Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal." (HR. Abu Dawud: 3411, Tirmidzi: 1539)

6. Masuk surga

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَقْوَامٌ أَفْئِدَتُهُمْ مِثْلُ أَفْئِدَةِ الطَّيْرِ

"Beberapa kaum masuk surga, hati mereka seperti hati burung." (HR. Muslim: 2840)

7. Membuat tenang

Rasulullah pernah bersabda kepada para sahabat:

كَيْفَ أَنْعَمُ وَصَاحِبُ الْقَرْنِ قَدْ الْتَقَمَ الْقَرْنَ وَاسْتَمَعَ الْإِذْنَ مَتَى يُؤْمَرُ بِالنَّفْخِ فَيَنْفُخُ فَكَأَنَّ ذَلِكَ ثَقُلَ عَلَى أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُمْ قُولُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا

"Bagaimana aku bersenang-senang sementara malaikat peniup sangkakala telah menelan tanduk (terompet) dan mendengar izin kapankan diperintahkan untuk meniup lalu ia akan meniup." Sepertinya hal itu terasa berat oleh para sahabat nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam lalu beliau bersabda kepada mereka: "Ucapkan: HASBUNALLAAH WA NI'MAL WAKILL 'ALALLAAHI TAWAKKALNAA." (HR. Tirmidzi: 2431)

Tawakal Tidak Menafikan Usaha

Seorang yang bertawakal tetap harus mengambil sebab, tidak boleh meninggalkan usaha. Dari Anas bin Malik, ia menceritakan:

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ قَالَ اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

Ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? Beliau menjawab: "Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah." (HR. Tirmidzi: 2441)

Ibnu Abbas menuturkan:

كَانَ أَهْلُ الْيَمَنِ يَحُجُّونَ وَلَا يَتَزَوَّدُونَ وَيَقُولُونَ نَحْنُ الْمُتَوَكِّلُونَ فَإِذَا قَدِمُوا مَكَّةَ سَأَلُوا النَّاسَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى }

"Dahulu para penduduk Yaman berhajji namun mereka tidak membawa bekal dan mereka berkata, kami adalah orang-orang yang bertawakal. Ketika mereka tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada manusia. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat 197 dari QS Al Baqarah) yang artinya ("Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa".) (HR. Bukhari: 1523)

Oleh sebab itu, barang siapa yang meninggalkan usaha dengan alasan tawakal maka sungguh ia telah salah besar. Imam Ahmad pernah mengatakan:

يَنْبَغِيْ لِلنَّاسِ كُلِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَ لَكِنْ يُعَوِّدُوْنَ أَنْفُسَهُمْ بِالْكَسْبِ فَمَنْ قَالَ بِخِلَافِ هَذَا القَوْلِ فَهَذَا قَوْلُ إِنْسَانِ أَحْمَق

"Selayaknya semua manusia bertawakal kepada Allah. Akan tetapi, hendaknya mereka membiasakan diri untuk bekerja. Barangsiapa yang berpendapat berbeda dengan pendapat ini, maka pendapat tersebut adalah pendapat orang yang dungu." (Mausu'ah Nadhratun Na'im: 1397)
Demikianlah pembahasan singkat tentang tawakal, semoga bermanfaat.

Referensi:
1. Musu'ah Nadhratun Na'im cet. Darul Wasilah, KSA
2. Jami'ul Ulumi wal Hikam cet. Muassasah ar Risalah
3. Munajjidul Khatib cet. Dar Ibn Hazm

Kamis, 08 Maret 2018

MENGAPA DO'A MEREKA TERKABUL??


Oleh: Zahir Al-Minangkabawi

Do’a adalah solusi dari setiap permasalahan. Sebab, saat seorang berdoa, pada dasarnya dia sedang berkomunikasi langsung dengan Allah. Sedangkan, Allah-lah yang mentakdirkan segala sesuatu. Oleh sebab itu, ketika dia berdoa, pada hakikatnya dia meminta solusi kepada Dzat yang memberikan masalah tersebut.

TIDAK SEMUANYA TERKABUL

Tidak semua do’a akan dikabulkan Allah. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Jika tidak terpenuhi, maka doa tidak akan terkabul. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ


“Kemudian beliau (Nabi) menyebutkan seorang yang menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, menegadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata:’Ya Tuhanku, Ya Tuhanku’. Bagaimana do’anya tersebut akan dikabulkan sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia tumbuh dengan sesuatu yang haram?” (HR. Muslim) 

Namun ada beberapa keadaan yang menjadikan doa terkabul meskipun tidak terpenuhi syarat-syarat tersebut. Siapa pun yang berdo’a dalam keadaan itu, niscaya akan dikabulkan. Diantaranya adalah dalam keadaan terdesak (saat kondisi amat sulit) dan dalam keadaan terzhalimi. Allah berfirman:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ

“Bukankah Allah yang memperkenankan do’a orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepadanya.” (QS. An-Naml: 62)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لا تُرَدُّ دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ فَاجِرًا، فُجُورُهُ عَلَى نَفْسِهِ

“Tidak akan tertolak do’a seorang yang terzhalimi meskipun ia adalah seorang pelaku dosa, sedangkan dosanya untuk dirinya sendiri.” (HR.Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabir)

MENGHADIRKAN HATI

Jika diamati hadits di atas, akan muncul satu pertanyaan. Mengapa do’anya dikabulkan. Bukankah dia adalah pelaku dosa? Sementara itu, banyak do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang baik namun tidak diterima.

Jawabannya, meski dia seorang pelaku dosa, tapi dalam keadaan itu dia benar-benar ikhlas, menghadirkan hatinya. Tidak ada sesuatu pun yang membuatnya lalai dari do’anya tersebut.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menjelaskan sebab dari tidak terkabulnya do’a dengan sabdanya:

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdo’alah kalian kepada Allah sedang kalian merasa yakin akan dikabulkan. Ketahuilah sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan do’a dari hati yang lalai.” (HR.Tirmidzi)

SIBUK MENCARI BARANG HILANG

Untuk lebih memperjelas, perhatikanlah sebuah hadits riwayat Imam Muslim berikut:

Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:

  مَنْ يَصْعَدُ الثَّنِيَّةَ ثَنِيَّةَ الْمُرَارِ فَإِنَّهُ يُحَطُّ عَنْهُ مَا حُطَّ عَنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ ». قَالَ فَكَانَ أَوَّلَ مَنْ صَعِدَهَا خَيْلُنَا خَيْلُ بَنِى الْخَزْرَجِ ثُمَّ تَتَامَّ النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَكُلُّكُمْ مَغْفُورٌ لَهُ إِلاَّ صَاحِبَ الْجَمَلِ الأَحْمَرِ ». فَأَتَيْنَاهُ فَقُلْنَا لَهُ تَعَالَ يَسْتَغْفِرْ لَكَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ وَاللَّهِ لأَنْ أَجِدَ ضَالَّتِى أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لِى صَاحِبُكُمْ. قَالَ وَكَانَ رَجُلٌ يَنْشُدُ ضَالَّةً لَهُ.

“Barang siapa yang naik ke bukit Murar maka akan diampuni dosanya seperti diampuninya Bani Israil.” Jabir berkata: “Maka yang pertama kali menaikinya adalah rombongan kami (Bani Khazraj) baru setelah itu datang yang lain semuanya.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Kalian semua telah diampuni kecuali pemilik unta merah”

Jabir berkata: “Lantas kami pun mendatanginya seraya mengatakan: ‘Kemarilah, supaya kamu dimintakan (kepada Allah) ampunan oleh Rasulullah!’ Dia menjawab: ‘Demi Allah aku lebih suka bila menemukan barangku yang hilang ketimbang dimintakan ampunan’ Jabir berkata :”Dan memang dia tengah mencari barangnya yang hilang” (HR.Muslim)

Di sini konteknya dia tengah sibuk mencari barangnya yang hilang, sehingga lalai dari ampunan dan mengikhlaskan hati kepada Allah.

DO’A MEREKA TERKABUL

Seorang yang sedang dalam kondisi sulit atau dalam kondisi terzhalimi, hatinya benar-benar fokus ketika berdo’a. Oleh sebab itulah do’anya terkabul.

Berikut beberapa contoh dari keadaan diatas:

1. Do’a Nabi Nuh dan Ibrahim
Nabi Nuh berdo’a:

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ


“Dia (Nuh) berkata: ‘Wahai Tahanku sesunggunya aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang tidak aku ketahui hakikatnya. Kalau engkau tidak mengampuniku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku temasuk orang yang rugi” (QS.Hud: 48)

Nabi Ibrahim berdoa:

قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لَأَكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّين

Dia (Ibrahim) berkata: ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat’” (QS.Al-An’am: 77)

Jika dicermati redaksi dari kedua do’a diatas, maka akan jelas bahwa do’a tersebut berasal dari dua orang yang berada dalam kondisi amat sulit. Sebab, konsekuensi dari tidak dikabulkannya do’a tersebut adalah kerugian (kehancuran) dan kesesatan.

2. Do’a Iblis

Berangkat dari pembahasan diatas. Dapat dipahami bahwa Allah akan mengabulkan do’a siapa saja yang berada dalam kondisi tersebut, tanpa memandang siapa yang berdoa. Dari sana pula dipahami kenapa Allah mengabulkan do’a Iblis

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (34) وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (35) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (36) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (37) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ


”Allah berfirman: “(Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat” Ia (Iblis) berkata: “Wahai Tuhanku (kalau begitu) berilah aku penangguhan sampai hari (manusia) dibangkitkan”Allah berfirman: “(Baiklah) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai hari yang telah ditentukan (kiamat).” (QS.Al-Hijr: 34-38)

Dalam kondisi itu Iblis benar-benar mengosongkan hatinya dari segala sesuatu yang melalaikannya dari do’a. Sebab, ia sedang dalam kondisi amat sulit. Tidak ada lagi yang tersisa selain itu (doa), setelah dia tertimpa kutukan.

3. Do’a Ka’ab bin Malik dan dua temannya

Berkenaan dengan Ka’ab dan dua orang temannya ini, Allah sendiri yang menggambarkan kondisi mereka saat mereka berdo’a meminta taubat.

Allah berfirman:

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ


“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan. Hingga ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah terasa sempit pula bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksaan Allah, melainkan kepada-Nya saja, kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS.At-Taubah: 118)

Hati mereka telah kosong . Tidak ada yang mereka pikirkan selain harapan terhadap keridhaan Allah.

Demikianlah dua kondisi terkabulnya do’a, serta hikmah dari keduanya. Semoga bermanfaat.

Rabu, 07 Maret 2018

BEKAL DALAM MENCARI NAFKAH


Oleh: Zahir Al-Minangkabawi

Memang benar tujuan utama seorang muslim itu adalah akhirat, kehidupan yang hakiki. Bagaimana ia bisa menapaki kaki di surga-Nya Allah, negeri kebahagiaan yang abadi. Tidak ada air mata dan kata duka. Semuanya kesenangan dan kenikmatan, kekal terus menerus tidak terputus.

Namun meskipun begitu, sekarang kita masih hidup di alam dunia. Dan inilah dunia sebagaimana yang ada di hadapan kita. Kita membutuhkan sesuatu yang bisa menopang kehidupan, menegakkan tulang punggung dan menguatkan persendian; makan, minum, pakaian dan tempat tinggal serta kebutuhan yang lain. Walaupun dunia hanyalah tempat persinggahan sementara tapi kita tidak boleh melupakannya. Oleh karena itu Allah berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) akhirat dan janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (QS. al-Qashash: 77)

ISLAM TIDAK MELUPAKANNYA

Islam sebagai agama yang sempurna, tidak melupakan sisi kehidupan dunia seorang muslim. Bahkan Islam menganjurkan mereka untuk berusaha dan mencari rezeki. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

"Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan." (QS. an-Naba’: 11)

Dalam ayat yang lain:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah. Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung." (QS. al-Jumu’ah: 10)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seorang makan makanan yang lebih baik daripada hasil usahanya sendiri. Sungguh Nabi Dawud ‘Alaihissalam, beliau makan dari hasil jerih payahnya sendiri.” (HR. Bukhari: 2072)

Inilah para Nabi dan Rasul Allah, orang-orang yang paling paham dengan hakikat kehidupan, yang paling terdepan dalam menjadikan akhirat sebagai tujuan. Paling takwa dan paling zuhud terhadap dunia. Namun mereka tetap bekerja dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka.

Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

كَانَ زَكَرِيَّاءُ نَجَّارًا

“Nabi Zakariya adalah seorang tukang kayu.” (HR. Muslim: 2379)

Ibnu ‘Abbas pernah mengatakan:

“Nabi Adam adalah seorang petani, Nabi Nuh seorang tukang kayu, Nabi Idris seorang penjahit baju, Nabi Ibrahim dan Luth bercocok tanam, Nabi Shalih seorang pedagang, Nabi Dawud pembuat baju besi, Nabi Musa, Syu’aib dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pengembala kambing.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 105)

Tidak ada celaan bagi seorang yang berusaha dan bekerja untuk kehidupannya, selama tujuannya adalah kebaikan dan dalam batasan-batasan yang telah ditetapkan.

Bahkan bisa jadi setiap tetesan keringat, rasa penat dan keletihan akibat bekerja seharian menjadi nilai ibadah bagi dirinya. Karena ia bekerja untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan ayah; menafkahi istri dan anak-anaknya. Ia bekerja untuk menjalankan dan menegakkan agamanya. Menjaga dirinya dari menampungkan tangan, meminta-minta kepada manusia.

Abdullah bin Mubarak. Suatu ketika pernah dijumpai oleh seorang sahabatnya dalam keadaan menangis.
“Apa gerangan yang membuatmu menangis wahai Abu Abdirrahman?” tanya sahabatnya.
“Aku kehilangan semua barang daganganku” jawab Abdullah bin Mubarak.
“Apakah engkau menangis karena harta?” tanya sahabatnya lagi.
Maka Abdullah bin Mubarak menjawab:
“Barang-barang itu adalah sumber penghidupan untuk menegakkan agamaku.” (Raudhatul Uqala’ hlm. 225, dinukil dari majalah Al-Furqon edisi 74 hlm. 46)

Oleh karena itu, agar usaha kita dalam mengais rezeki Allah diberkahi, membawa kebaikan untuk dunia dan akhirat maka ada beberapa hal yang harus kita perhatikan:

1. Meluruskan Niat

Untuk apa sebuah kapal berlayar kalau bukan untuk suatu tujuan; sebuah tempat atau pelabuhan. Ada banyak tujuan dalam mencari rezeki dan penghidupan. Beragam seperti beragamnya bentuk dan rupa manusia.

Ada yang tujuannya untuk kesenangan semata. Untuk hidup bahagia dengan berfoya-foya menurut mereka. Ada yang mencari rezeki untuk ditumpuknya, untuk persiapan membangun istana dunia. Namun ada pula untuk tujuan  lain yang baik; untuk menjaga diri dari meminta-minta, menghinakan diri di hadapan manusia. Atau untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Maka luruskanlah niat. Jadikanlah tujuan kita untuk kebaikan; kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup setelahnya.

Ingatlah bahwa semua amalan dan apa yang kita kerjakan tergantung kepada niatnya. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Semua amalan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari: 1)

Niatkanlah usaha mencari rezeki tersebut sebagai sarana untuk menunjang ibadah kepada Allah serta untuk menunaikan kewajiban nafkah yang telah diembankan, agar usaha mencari rezeki tersebut bernilai ibadah di sisi Allah, karena para ulama mengatakan: ”Hukum sarana atau wasilah itu sesuai dengan tujuannya.”

2. Memilih usaha dan pekerjaan yang halal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Ka’ab bin Ujrah:

يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ ، إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Wahai Ka’ab, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta haram. Neraka lebih berhak baginya.” (HR. Tirmidzi: 614, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 1729)

Pilihlah usaha yang halal walaupun hasilnya sedikit, karena itu akan mendatangkan keberkahan. Nikmatnya harta bukan pada banyaknya tapi pada keberkahannya. Betapa banyak orang yang menderita justru karena banyaknya harta yang dia punya. Hidup resah dan gelisah, hati gundah. Tidak ada ketenangan dan ketenteraman, yang ada hanyalah kesibukan serta rasa letih yang berkepanjangan.

3. Jangan menuruti hawa nafsu

Memperturutkan hawa nafsu tiada baiknya, karena Allah berfirman:

 إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yusuf: 53)

Dapat makan dua kali sehari, pakaian dua persalinan, rumah sederhana yang bisa melindungi diri dan keluarga dari panasnya terik mentari, dinginnya malam serta guyuran hujan, kita sudah bisa hidup. Tapi nafsulah yang meminta lebih dari itu, sehingga dalam memenuhi keperluan hidup kerap kali kita lupa dengan kesederhanaan. (Diambil dari perkataan Buya Hamka dalam Lembaga Hidup dengan sedikit gubahan)

Menuruti hawa nafsu memang tiada habisnya. Karena watak dan tabiat manusia selalu merasa tidak puas, senantiasa merasa kurang.

Kalau tabiat ini yang diperturutkan pasti manusia lebih hina dari binatang. Sifat rakus, loba dan tamak bercokol di dalam dada. Tidak peduli lagi halal haram. Asal keinginan bisa terpenuhi semua akan dilakukan. Terjang semua batasan, campakkan rasa malu. Tutup mata dari pandangan manusia, sumbat telinga dari ocehan mereka.

Tidak ada yang bisa menghentikan ketamakannya ini selain apabila telah sampai waktunya, saat tanah telah menyumbat mulut dan seluruh rongga pada tubuhnya.

4. Meyakini rezeki di tangan Allah

Allah berfirman:

 إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan Lagi Sangat Kokoh. (QS. adz-Dzariyat: 58)

Tanamkanlah ayat ini dalam diri, yakini sepenuh hati bahwa rezeki itu di tangan Allah. Allah-lah yang membagi-bagikannya kepada semua makhluk-Nya agar kita tidak terlalu berbangga dan menyandarkan semua yang diperoleh kepada kemampuan diri dan usaha sendiri.

Saat rezeki lapang, usaha lancar maka yakinilah itu semua dari Allah kemudian syukuri. Saat rezeki sempit, usaha sulit pun yakini bahwa itu dari Allah kemudian bersabar.

Terimalah apa yang telah dianugerahkan Allah. Sedikit atau banyak tidak masalah jika hati mempunyai sifat qana’ah. Nabi bersabda:

وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ

“Ridhalah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR. Tirmidzi: 2305, dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2349)

Berusaha, bersungguh-sungguh dan tawakal, itulah yang harus kita lakukan. Jangan takut dan khawatir karena Allah tidak akan pernah  menyia-nyiakan para hamba-Nya yang senantiasa bersujud dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Andaikan kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung. Berangkat di pagi hari dalam keadaan lapar pulang di petang hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi: 2344, dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah no. 310)
 
5. Perhatikan shalat

Ibadah apa yang lebih agung daripada shalat sedangkan shalatlah ibadah pertama yang akan dihisab, ditanya dan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ

“Yang pertama kali di hisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.” (HR. Ibnu Majah: 1426, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2574)

Lantas apa yang hendak kita jawab jika seandainya shalat kita rusak akibat terlalu berlebihan dalam mengais rezeki. Seruan adzan terdengar oleh telinga, tapi ia berlalu begitu saja karena kita tengah sibuk mengejar dan menumpuk dunia. Padahal kita sadar sepenuhnya bahwa panggilan itu untuk kita.

Perhatikanlah shalat, beribadahlah kepada Allah dengan sepenuhnya karena itu adalah salah satu kunci di antara kunci-kunci rezeki.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى وَأَسُدَّ فَقْرَكَ ، وَإِلاَّ تَفْعَلْ مَلَأْتُ يَدَيْكَ شُغْلاً وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ

“Sesungguhnya Allah berfirman: ’Wahai anak Adam, fokuslah untuk beribadah kepada-Ku niscaya akan Aku penuhi dadamu (hatimu) dengan kekayaan dan Aku cukupkan kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan maka Aku akan penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu.’” (HR. Tirmidzi: 2466, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 3166)

Semoga bermanfaat, wallahul muwaffiq. Srowo, Sidayu, Gresik, 4 November 2016

JANGAN CELA MASA


Oleh: Zahir Al-Minangkabawi

Buya HAMKA pernah mengatakan:

“Di dalam syair-syair Arab, dalam pusaka 1.000 tahun yang telah lalu, terdapat syair-syair yang nadanya menyesali zaman itu. Hal itu menandakan bahwa menyesali zaman ialah penyakit manusia pada tiap-tiap zaman. Mereka menyesali zamannya dan memuji zaman yang telah lalu. Kita yang seribu tahun di belakang menyesali zaman kita dan mengingat-ngingat zaman yang dikutuki oleh orang yang hidup di zaman itu pula. Demikianlah berturut-turut, orang mengutuki zamannya. Padahal, zaman tak bersalah, melainkan manusia sendiri yang bersalah.”  (Falsafah Hidup hal: 196-197)

SELALU BERKELUH KESAH

Manusia diciptakan dengan beragam sifat dan karakter. Ada yang baik dan ada juga yang buruk. Sifat dasar ini dapat berubah. Sifat dasar baik, bisa menjadi lebih baik atau bisa juga hilang, berganti dengan sifat jelek. Begitu juga sifat dasar yang buruk, bisa diubah menjadi baik atau bisa juga malah tambah buruk.

Di antara sifat buruk manusia adalah sering berkeluh kesah dan tidak pernah merasa puas. Bahkan dalam setiap kondisi, baik saat lapang maupun saat sempit. Allah berfirman:

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا(٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah. Bila mendapatkan kebaikan ia menjadi bakhil.” (QS. al-Ma’arij: 19-21)

Dari watak suka berkeluh kesah ini, muncul satu sifat yang amat tercela yaitu sifat suka mencela. Jika dicermati, nyaris tidak ada yang lepas dari celaan manusia. Mulai dari hal sepele sampai hal yang besar.

Di antara yang sering dicela manusia adalah zaman. Mereka memperlakukan zaman seolah zamanlah yang menjadi sebab dari segala ketidaknyamanan hidup. Pergantian hari, bulan, tahun, cuaca, iklim, suasana, dst, selalu disertai dengan celaan. Baik dengan terang-terangan maupun dengan indikasi.

Di setiap generasi, ada saja orang yang mengutuki zamannya. Dia tidak puas dengan zamannya itu. Orang-orang yang hidup sekarang mencela zamannya, lalu menyanjung zaman yang lalu. Padahal zaman yang lalu itu pun dicela oleh orang-orang yang hidup di zaman itu. Sehingga, tidak ada satu zaman pun yang kosong dari celaan.


SEORANG MUSLIM TIDAK PANTAS MENCELA ZAMAN

Sebagai seorang muslim, kita harus mengetahui bahwa mencela zaman adalah suatu yang terlarang dan tidak layak, baik secara syariat maupun secara akal sehat.

Di antara yang menunjukkan hal di atas adalah:

1. MENCELA ZAMAN SAMA DENGAN MENCELA ALLAH

Saat seorang menghina satu makanan karena makanan tersebut tidak enak misalnya, pada hakikatnya ia sedang menghina tukang masaknya. Meskipun dia tidak mengungkapkannya. Begitu pula ketika seorang mencela zaman, pada dasarnya dia sedang mencela yang menciptakan zaman tersebut. Berarti, sadar atau tidak, dia sedang mencela Allah. Oleh sebab itu, Allah akan tersakiti jika ada hamba-Nya yang mencela zaman atau masa.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Allah berfirman: ’Anak Adam telah menyakiti-Ku. Ia mencela masa padahal Akulah (yang menciptakan) masa. di tangan-Ku segala urusan, Akulah yang membolak-balikan malam dan siang.’” (HR. Bukhari 4826, Muslim 2246)

2. MENCELA ZAMAN ADALAH PERBUATAN JAHILIYYAH

Allah berfirman:

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّون

“Dan mereka berkata: ’kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” (QS. al-Jatsiyah: 24)

Ibnu Jarir menyebutkan sebuah riwayat, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Orang-orang jahiliyyah dahulu mengatakan: ‘Yang membinasakan kita hanyalah malam dan siang. Itulah yang membinasakan kita, mematikan serta menghidupkan kita.’ Maka Allah berfirman: “Dan mereka berkata....(Al-Jatsiyah 24).” (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayil Qur’an: 22/79)

3. MENCELA ZAMAN TIDAK MERUBAH KEADAAN

Jika direnungkan lebih dalam,  mencela zaman adalah perbuatan yang sia-sia. Celaan tidak akan mengubah keadaan sedikit pun. Bahkan justru menambah sesak dada. Udara tidak akan berubah jadi dingin ketika kita mencelanya karena panas. Hari-hari takkan kembali saat kita mengeluhkannya karena cepatnya ia berlalu. Lantas apa gunanya celaan itu?

Al-Mu’afa bin Sulaiman pernah berjalan kaki bersama seorang temannya. Lalu temannya itu bergumam: “Dingin sekali hari ini?!”
“Apakah kau sudah merasa hangat sekarang?” sahut Al-Mu’afa
“Tidak,” jawabnya.
Al-Mu’afa berkata: ”Jadi apa gunanya memaki?! Seandainya engkau membaca tasbih, pasti lebih baik.” (Istamti’ Bihayatik hal. 244)

HUKUM MENCELA ZAMAN

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin menerangkan secara rinci hukum mencela zaman. Beliau mengatakan:

“Mencela masa/zaman ada tiga kategori:

Pertama, bila yang dimaksud adalah sebagai berita belaka bukan maksud mencela, maka hukumnya boleh. Seperti perkataan seorang, 'Cuaca panas hari ini membuat kita letih', atau disebabkan cuaca yang dingin, dan semisalnya karena semua perbuatan tergantung kepada niatnya sementara lafazh tersebut boleh diungkapkan bila hanya sekadar berita.

Kedua, seseorang mencela zaman karena beranggapan bahwa ia adalah pelaku sesuatu, seperti bila yang dimaksudkannya dengan celaan itu, bahwa zaman itulah yang merubah kondisi menjadi baik atau jelek. Maka, ini adalah perbuatan syirik yang paling besar. Sebab, orang tersebut telah berkeyakinan ada Khaliq lain yang sejajar dengan Allah. Artinya, dia telah menyandarkan kejadian-kejadian kepada selain Allah.

Ketiga, seorang mencela zaman dengan keyakinannya bahwa pelaku sesuatu itu adalah Allah. Akan tetapi, dia mencelanya karena ia adalah wadah bagi semua hal-hal yang tidak disukai. Maka, ini haram hukumnya karena menafikan wajibnya bersabar. Jadi, perbuatan ini bukan kekufuran karena orang tersebut tidak mencela Allah secara langsung. Andai kata, dia mencela Allah q secara langsung, maka pastilah dia telah kafir hukumnya.” (Fatwa-fatwa Terkini 1/33)

Terakhir hendaklah kita jangan sampai mencela masa. Karena masa atau zaman  hanyalah satu di antara makhluk-makhluk Allah. Bagaimana pun kondisi suatu zaman hadapi dengan sabar. Jangan salahkan zaman, tetapi salahkanlah diri sendiri. Wallahu A’lam. Srowo Sidayu Gresik Jatim, 14 November 2016

SOLUSI DARI FITNAH AKHIR ZAMAN


Oleh: Zahir al-Minangkabawi

Allah subnahu wa ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

”Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. al-Anfal: 25)

MUQADDIMAH

Hari-hari ini adalah hari yang berat bagi umat Islam. Berbagai fitnah (cobaan) seolah tidak henti-hentinya menimpa, mulai dari huru-hara, kerusuhan, penindasan, perpecahan, saling hajr, bahkan saling mengafirkan yang nantinya berbuntut pengeboman di mana-mana. Dan tidak luput fitnah yang berasal dari musuh-musuh Islam. Nyaris tidak ada negeri kaum muslimin yang selamat, sampai pun dua kota suci umat Islam; Makah dan Madinah.

Masih segar dalam ingatan peristiwa yang terjadi di musim haji pada beberapa tahun yang lalu, banyak jamaah haji yang  meninggal dunia dan tidak sedikit yang luka-luka akibat ulah orang-orang Syiah. Begitu pula setelahnya, aksi teror (pengeboman) yang terjadi di masjid Nabawi yang juga menelan korban.

Belum sembuh luka yang lama, sudah datang luka yang baru. Masih hangat peristiwa yang terjadi di Irak, Mesir, Libya, Yaman, Suria, sekarang terjadi lagi di Myanmar (Burma). Penindasan terhadap Islam dan kaum muslimin yang membuat kita bersedih.

Tidak hanya itu, ternyata fitnah-fitnah tersebut juga menimpa kita umat Islam Indonesia. Kita merasakan gejolak fitnah itu di beberapa bulan terakhir ini. Oleh karena itu perlu kiranya kita merenungi dan mencari jalan keluar agar selamat dari fitnah-fitnah tersebut.

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Al-Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

"Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya yang beriman terhadap fitnah yaitu ujian dan cobaan yang akan menimpa orang-orang  jahat dan juga selainnya. Allah tidak mengkhususkan pelaku maksiat atau orang-orang yang terlibat langsung dengan dosa saja, tetapi berlaku umum dan mencangkup keduanya (pelaku dosa dan orang-orang baik) ketika dosa tersebut tidak dicegah." (Tafsir Ibnu Katsir 4/37)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Mutharrif, ia menuturkan:

“Kami pernah bertanya kepada Zubair (bin Awwam): ‘Wahai Abu Abdillah, apa yang sedang menimpa kalian (para sahabat)? Kalian disusahkan oleh urusan terbunuhnya khalifah (Utsman bin Affan), lalu kalian menuntut darahnya.’ Maka Zubair menjawab: ‘Sesungguhnya kami telah membaca di masa Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Utsman, (ayat): Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu (QS. al-Anfal: 25), namun kami tidak mengira bahwa kami masuk dalam ayat itu sampai ketika fitnah itu terjadi dan menimpa kami.’” (Musnad Imam Ahmad 4/165)

MAKNA FITNAH DALAM AL-QUR’AN

Di dalam al-Qur’an atau sunnah banyak terdapat kata fitnah dengan makna yang berbeda sesuai dengan konteksnya masing-masing. Di antara makna fitnah: (Lihat makna-makna lain dalam kitab Nadhratu an-Na’im fi Makarimi Akhlaq ar-Rasul al-Karim 11/5184-5190)

1. Ujian dan cobaan, seperti dalam ayat:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah, bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. al-Anfal: 28)

2. Adzab, seperti dalam ayat:

 إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ

Sesungguhnya Kami menjadikannya (pohon zaqqum itu) sebagai fitnah bagi orang-orang yang zalim. (QS. ash-Shaffat: 63)

3. Syirik dan kekufuran, seperti dalam ayat:

 وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Anfal: 39)

4. Kesesatan, seperti dalam ayat:

 وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Barangsiapa yang Allah menghendaki fitnah (kesesatan)nya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) daripada Allah. (QS. al-Maidah: 41)

5. Dosa, seperti dalam ayat:

 وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah." Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir. (QS. at-Taubah: 49)

MACAM-MACAM FITNAH

Imam Ibnul Qayyim mengatakan:

Fitnah ada dua macam; fitnah asy-syubhat (inilah fitnah yang lebih besar) dan fitnah asy-syahwat. Bisa jadi seorang ditimpa oleh keduanya dan bisa jadi juga hanya salah satunya saja. Allah menyebutkan kedua fitnah ini dalam firman-Nya:

كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

(Keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin) adalah seperti keadaan orang-orang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta dan anak-anaknya dari kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagian kamu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu memperbincangkan (hal yang batil) sebagaimana mereka memperbincangkannya. mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka Itulah orang-orang yang merugi. (QS. at-Taubah: 69)

Maknanya: mereka bersenang-senang dengan bagian mereka berupa dunia dan syahwat (kesenangan)nya. Al-Khalaq yaitu bagian yang telah ditentukan. Kemudian firman-Nya: “dan engkau memperbincangkan sebagaimana mereka memperbincangkannya.” Dan perbincangan ini adalah hal yang batil dan itulah asy-syubhat. (Diringkaskan dari kitab Ighatsatu al-Lahfan min Mashayidi asy-Syaithan 2/160-162 Diringkaskan dari kitab Ighatsatu al-Lahfan min Mashayidi asy-Syaithan 2/160-162)

HADITS-HADITS TENTANG FITNAH DI AKHIR ZAMAN

Jauh-jauh hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak hadits telah mengabarkan bagaimana keadaan di akhir zaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 سَتَكُونُ فِتَنٌ (فِتْنَةٌ) الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي مَنْ تَشَرَّفَ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ فَمَنْ وَجَدَ فِيهَا (مِنْهَا) مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ

“Akan terjadi fitnah; orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik daripada orang yang berjalan, orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Orang yang mendekatinya akan binasa. Barang siapa mendapatkan tempat berlindung darinya, hendaklah ia berlindung.” (HR. Bukhari: 3601)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah beramal, (sebelum datang) fitnah laksana potongan malam yang gelap gulita. Seorang pada pagi hari dalam keadaan beriman, sorenya menjadi kafir, atau sorenya dia beriman paginya telah menjadi kafir. Ia tega menjual agamanya dengan sesuatu (kepentingan) dari dunia.” (HR. Muslim: 118)

Jika dicermati, apa yang dikabarkan oleh Rasulullah itu telah menjadi nyata pada zaman ini. Banyak orang yang tersesat akibat fitnah-fitnah tersebut. Ditambah dengan lemahnya iman, sehingga kita dapat menyaksikan orang-orang dengan mudahnya menjual agama mereka dengan harta, wanita, atau jabatan.

Peristiwa baru-baru ini (saat artikel ini ditulis) menjadi bukti dari apa yang kita kemukakan. Seorang yang mengaku muslim tapi justru membela orang kafir yang jelas-jelas melakukan pelecehan terhadap al-Qur’an. Na’udzu billah.

BENTUK-BENTUK FITNAH DI AKHIR ZAMAN

Secara umum kehidupan itu ibarat aliran sungai, semakin jauh dari sumbernya maka airnya akan semakin keruh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya).” (HR. Bukhari: 7068)

Sekarang sudah 14 abad lebih kita terpisah dari mata airnya (zaman kenabian). Kita merasakan airnya telah berubah menjadi kotor. Banyaknya fitnah yang terjadi menjadi bukti dari kebenaran ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara fitnah yang terjadi di akhir zaman:

1. Perpecahan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

“Sesungguhnya siapa dari kalian yang hidup setelahku, niscaya akan menyaksikan (mendapati) perselisihan yang banyak.” (HR. Abu Dawud: 4609)

Dalam hadits yang lain:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga, tujuh puluh dua akan masuk neraka, hanya satu yang akan masuk surga dan itulah al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud: 4599)

Sebagian ulama mengatakan bahwa pokok (gembong) dari kelompok-kelompok sesat itu ada enam yaitu: al-Haruriyyah, al-Qadariyyah, al-Jahmiyyah, al-Murji’ah, ar-Rafidhah, al-Jabriyyah. Setiap kelompok kemudian terpecah menjadi dua belas sehingga semuanya berjumlah tujuh puluh dua. (Lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis hal. 41)

2. Pengepungan musuh-musuh

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

“Hampir saja umat-umat itu (musuh) mengerumuni kalian seperti orang-orang yang makan mengerumuni nampannya.” Seorang bertanya: “Apakah karena sedikitnya jumlah kita pada waktu itu?”. Nabi menjawab: “Bahkan kalian saat itu banyak, akan tetapi kalian tak ubahnya seperti buih banjir. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah tancapkan al-Wahn di hati kalian.” Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah apa itu al-Wahn?” Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan benci (takut) mati.” (HR. Abu Dawud: 4299)

Musuh Islam itu banyak, baik dari luar maupun dari dalam tubuh Islam sendiri. Musuh dari dalam saja sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang perpecahan umat ada tujuh puluh dua golongan, belum lagi orang-orang munafik. Sedangkan musuh dari luar juga tak kalah banyak. Mereka tidak akan pernah berhenti atau merasa lelah untuk merusak umat Islam.

Allah berfirman:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS. al-Baqarah: 120)

3. Takfir (vonis kafir)

Sekilas mungkin kita akan merasa heran dengan kejadian pada beberapa waktu yang lalu, yaitu  aksi bom bunuh diri di masjid Nabawi yang ternyata setelah diidentifikasi pelakunya adalah seorang muslim. Namun jika kita pelajari, niscaya kita akan memahaminya. Sebab, motivasi dari peristiwa tersebut adalah sebuah idiologi yang keliru yaitu vonis kafir terhadap pemerintah Arab Saudi.

Inilah salah satu fitnah terbesar di zaman ini, yaitu fitnah takfir. Para pengusungnya adalah orang-orang yang pendek akal, jauh dari ulama, dan muda belia. Rasulullah telah menggambarkan ciri-ciri mereka ini sejak sekian abad yang lalu. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Akan datang di akhir zaman nanti suatu kaum; muda belia, pendek akal, mereka mengatakan sebaik-baik perkataan. Namun mereka keluar dari Islam seperti melesatnya anak panah dari busurnya, iman mereka tidak melewati kerongkongan, di manapun kalian menjumpai mereka maka bunuhlah, karena membunuh mereka adalah pahala di hari kiamat nanti.” (HR. Bukhari: 3611)

4. Pembalikan fakta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خُدَّاعَاتٌ . يُصَدَّقُ فِيْهَا الكَاذِبُ وَيُكَّذَبُ فِيْهَا الصَّادِقُ . وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الأَمِيْنُ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu; pendusta akan dibenarkan sedangkan orang yang jujur justru dikatakan dusta dan orang yang khianat akan diberi amanat sedangkan orang yang terpercaya akan dituduh khianat.” (HR. Ibnu Majah: 4036 Dihasankan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah no. 1887)

Dan inilah zamannya telah tiba, tidak samar lagi bagi siapa saja yang mau mencermati. Semuanya seolah menjadi terbalik, kebenaran dikatakan kesalahan dan pelanggaran, sedangkan kesesatan ramai-ramai dikatakan benar.

Orang-orang yang mengajak kepada jalan yang lurus (tauhid) disematkan kepada mereka nama-nama yang dusta. Mereka dituduh pemecah belah, fanatik, eksklusif dan sebagainya. Sedangkan orang-orang yang sejatinya perusak agama dan penyeru ke pintu neraka justru dikatakan ulama dan orang-orang yang berjasa.

JALAN KELUAR DARI FITNAH AKHIR ZAMAN

Ketika Rasulullah mengabarkan tentang fitnah-fitnah yang akan terjadi di akhir zaman, beliau tidak membiarkan begitu saja tanpa memberi solusi, namun beliau juga memberikan petunjuk-petunjuk agar selamat dari fitnah-fitnah tersebut. Di antara solusi yang diberikan oleh syariat Islam yaitu:

1. Bertakwa kepada Allah

Takwa adalah solusi dari segala bentuk permasalahan, termasuk dari fitnah akhir zaman. Allah berfirman:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. ath-Thalaq: 2)

Pada saat terjadi fitnah Ibnu al-Asy’ats yang memberontak di zaman khilafah Umawiyyah. Suasana menjadi ricuh, terjadi huru-hara, banyak orang yang terseret dalam fitnah ini. Ketika itu  Thalq bin Habib seorang ulama besar di zaman tersebut mengatakan: “Hadapilah (cegahlah fitnah ini) dengan takwa.” (Siyar A’lam an-Nubala’: 8/175)

2. Menuntut ilmu dan mendekat kepada ulama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barang siapa yang diinginkan Allah menjadi baik, maka Allah pahamkan ia dengan agamanya.” (HR. Bukhari: 71, Muslim: 1037)

Syaikh Husain al-Awaisyah mengatakan: "Allah memberikannya taufik untuk menjauh dari jalan-jalan kesesatan dan  (makar) setan." (Fiqh ad-Da’wah wa Tazkiyatu an-Nafs hal. 113)

Dengan ilmu seorang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan mendekat kepada para ulama seorang akan terbimbing di jalan yang benar. Sebab, para ulama seperti rembulan dan bintang-bintang yang akan menerangi jalan, serta memberi petunjuk kepada orang yang sedang berjalan.

Para ulama mengetahui fitnah bahkan jauh sebelum fitnah itu terjadi sedangkan orang-orang biasa (awam) baru menyadarinya setelah fitnah itu berlalu.

3. Berpegang teguh dengan syariat Islam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin) sekalipun ia seorang budak Habsyi. Sebab, barang siapa yang hidup setelahku (berumur panjang) niscaya akan melihat (mendapati) perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan juga sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan geraham dan hati-hatilah dengan perkara yang baru. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud: 4609 Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 42)

Selama kita berpegang teguh dengan syariat Islam, maka kita tidak akan tersesat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Muaththa’ no. 3338)

4. Bergabung dengan jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka

Imam Muslim dalam kitabnya memberi judul satu bab dengan:

“Bab wajibnya bergabung bersama jama’ah kaum muslimin saat terjadi fitnah dan dalam setiap kondisi, dan haramnya keluar dari ketaatan kepada pemimpin (berontak) serta memisahkan diri dari jama’ah.” (Shahih Muslim hal. 829)

Bergabung dengan jama’ah kaum muslimin adalah salah satu solusi yang berikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika terjadi fitnah (huru-hara, kekacauan, perpecahan). Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Hudzaifah bin al-Yaman, beliau menuturkan:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ : عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ ، عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِ تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ ، وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ.

“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena aku khawatir akan menimpaku. Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, dahulu kami berada pada masa jahiliyyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami, apakah setelah kebaikan ini akan datang keburukan?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’  Aku bertanya lagi: ‘Apakah setelah keburukan itu akan datang lagi kebaikan?’ Beliau menjawab: ‘Ya, tetapi di dalamnya ada dukhn (kotorannya).’ Aku bertanya lagi: ‘Apa kotoran itu?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu suatu kaum yang memimpin tanpa mengikuti petunjukku, engkau mengenal mereka sekaligus engkau ingkari.’ Aku kembali bertanya: ‘Apakah setelah kebaikan (yang bercampur dengan kotoran) itu akan datang lagi keburukan?’ Beliau menjawab: ‘Ya, yaitu para penyeru yang mengajak ke pintu Jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka maka akan dilemparkan ke dalamnya.’ Aku kembali bertanya: ‘Wahai Rasulullah, Sifatkanlah mereka kepada kami.’ Beliau menjelaskan: ‘Mereka berasal dari kulit kalian dan berbicara dengan bahasa kalian.’ Aku katakan: ‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku bila aku menemui keburukan (zaman) tersebut?’ Beliau menjawab: ‘Bergabunglah dengan jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka.’ Aku kembali bertanya: ‘Bagaimana jika saat itu tidak ada jama’ah kaum muslimin dan juga tidak ada pemimpin mereka?’ Beliau menjawab: ‘Tinggalkan semua firqah (kelompok) meskipun engkau harus menggigit akar pohon. Tetaplah seperti itu sampai kematian menjemputmu.’” (HR. Bukhari: 7084, Muslim: 1847)

5. Berhati-hati dan tidak tergesa-gesa

Di saat kemelut seperti ini sikap kehati-hatian merupakan sebuah keniscayaan. Sebab, fitnah itu -sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah- bagai malam yang gelap gulita. Jika tidak hati-hati dalam bertindak maka kemungkinan jatuh terperosok dalam fitnah sangat besar.

Abdullah bin Mas’ud pernah mengatakan:

تَكُونُ أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ فَعَلَيْكُمْ بِالتَّؤَدَةِ , فَإِنَّ أَحَدَكُمْ أَنْ يَكُونَ تَابِعًا فِي الْخَيْرِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَكُونَ رَأْسًا فِي الشَّرِّ

“Akan terjadi perkara-perkara yang syubhat (samar), maka hendaknya kalian bersikap hati-hati. Karena sesungguhnya jika seorang dari kalian menjadi pengikut dalam kebaikan jauh lebih baik dari pada menjadi pemimpin (gembong) dalam kesesatan.” (Syu’ab al-Iman 13/15)

6. Bersabar

Terkadang fitnah yang terjadi berupa huru-hara, kerusuhan, dan sebagainya, membuat sesak dada dan amarah memuncak, seperti yang terjadi di negara kita baru-baru ini. Kasus penghinaan terhadap al-Qur’an yang sedang santer, membuat dada setiap muslim dipenuhi oleh kemarahan serta kegeraman. Dalam kondisi seperti ini kesabaran sangat dibutuhkan. Sebab, setiap perkara genting harus dihadapi dengan kepala dingin. Amarah tidak akan menyelesaikan, bahkan semakin menambah kusut permasalahan.

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya sebuah hadits dari Zubair bin Adi, ia menuturkan:

“Kami mendatangi Anas bin Malik mengadukan apa yang kami dapati dari Al-Hajjaj (dia adalah salah seorang amir (gubernur) di zaman khilafah Umawiyyah. Ia adalah seorang yang zalim, bengis, dan sering menumpahkan darah. Tidak hanya rakyat biasa tapi termasuk juga para ulama. Lihat: Siyar A’lam an-Nubala’ karya Imam Dzahabi), maka Anas mengatakan:

اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

‘Bersabarlah, karena sesungguhnya tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya), (bersabarlah) sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian. Demikianlah yang aku dengar dari Nabi kalian Shallallaahu alaihi wa sallam.’” (HR. Bukhari: 7068)

7. Menjauhi sumber-sumber fitnah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهْوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يُبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ

“Barang siapa mendengar (kedatangan) ad-Dajjal maka hendaklah ia menjauhinya (menyingkir). Demi Allah, sesungguhnya seorang laki-laki akan mendatanginya sedangkan ia menyangka bahwa ia adalah seorang mukmin, tapi kemudian ia mengikuti setiap syubhat yang ditebarkannya.” (HR. Abu Dawud : 4321 dishahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykah no. 5488)

Oleh sebab itu, pada zaman ini selagi seorang mampu untuk banyak menetap di rumah, tidak menyibukkan diri di luar, maka itu adalah suatu kebaikan. Sebab, berbaur dengan manusia dalam hal-hal yang kurang bermanfaat adalah salah satu pintu menuju fitnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Uqbah bin Amir ketika ia bertanya tentang “keselamatan”:

أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, merasa cukuplah dengan rumahmu (jangan banyak keluar rumah) dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi: 2406 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2741)

8. Berlindung kepada Allah

Inilah salah satu solusi yang paling ampuh dalam menghadapi fitnah di akhir zaman. Sebab, apa yang terjadi dalam kehidupan ini; yang baik ataupun yang buruk (dalam pandangan manusia) semuanya adalah takdir Allah. Sebagaimana Allah yang menakdirkan terjadinya fitnah, maka Allah pula yang akan menakdirkan orang-orang yang dikehendaki-Nya terhindar dari fitnah. Oleh karena itu memohon kepada Allah agar diselamatkan dari fitnah adalah keharusan bagi setiap mukmin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Berlindunglah kepada Allah dari segala bentuk fitnah yang tampak maupun yang tidak tampak.” (HR. Muslim: 7392)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa berlindung dari fitnah di setiap shalat. Dari Abu Hurairah, ia mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur, adzab neraka, fitnah kehidupan dan kematian serta fitnah al-Masih ad-Dajjal.’” (HR. Bukhari: 1377)

PENUTUP

Kita harus menyadari bahwa saat ini kita hidup di zaman fitnah. Kenyataan-kenyataan yang terjadi di sekitar kita sudah cukup menjadi bukti dari apa yang kita katakan. Oleh sebab itu, kita harus berusaha keras agar tidak terjerumus dalam fitnah dengan senantiasa mengikuti petunjuk-petunjuk agama serta berdo’a agar Allah melindungi kita semua.

Rasulullah mengajarkan sebuah do’a agar hati kita tetap diteguhkan di atas jalan yang benar. Dari Anas bin Malik, ia menuturkan: bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering berdo’a dengan do’a:

يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi: 2140, Ibnu Majah: 3834 Dihasankan oleh al-Albani dalam al-Silsilah ash-Shahihah no. 2091)

Demikianlah pembahasan singkat ini, semoga dapat memberi manfaat. Wallahu A’lam. Ditulis di Ma’had Al-Furqon al-Islami, Srowo, Gresik, Jatim pada 16 Desember 2016

BERSAMA GOLONGAN YANG SELAMAT


Oleh: Zahir al-Minangkabawi

Perjalanan hidup manusia tidak selamanya datar, tapi terkadang mendaki dan menurun. Suatu masa berada dalam kejayaan dan di masa yang lain terpuruk dalam kehinaan. Begitu seterusnya silih berganti hingga nanti berakhirnya kehidupan ini. Seperti itu pula kehidupan beragama, bagi mereka yang membaca sejarah umat Islam akan mengetahui bagaimana keadaan Islam dari masa ke masa.

Secara umum kehidupan itu ibarat aliran sungai, semakin jauh dari sumbernya maka airnya akan semakin keruh. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ

”Tidaklah datang suatu zaman kepada kalian melainkan yang setelahnya lebih buruk darinya (sebelumnya).” (HR. Bukhari: 7068)

Sekarang kita berada di akhir zaman, empat belas abad di belakang zaman keemasan; zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya. Dengan kurun selama itu, tentu kita harus menyadari banyaknya keburukan dan kerusakan yang ada di zaman kita dibandingkan yang ada pada zaman mereka.

ISLAM KEMBALI MENJADI ASING

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 386)

Yang terasing bukanlah namanya akan tetapi syari’at-syari’atnya. Oleh sebab itu, seorang yang berpegang teguh dengan ajaran Islam yang sesungguhnya pada saat itu harus membutuhkan kesabaran dan perjuangan besar. Seperti yang disabdakan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam sebuah hadits:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Kelak akan datang suatu masa kepada manusia, seorang yang sabar berpegang teguh dengan agamanya seperti seorang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi: 2260 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 2/682)

Sebagai penghibur bagi mereka yang berpegang teguh dengan agama pada saat itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan kabar gembira bahwa mereka akan memperoleh ganjaran yang sangat besar. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الْمُتَمَسِّكُ فِيهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمِثْلِ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ لَهُ كَأَجْرِ خَمْسِينَ مِنْكُمْ"قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ:"بَلْ مِنْكُمْ"قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ:"لا، بَلْ مِنْكُمْ"ثَلاثَ مَرَّاتٍ أَوْ أَرْبَعًا

“Sesungguhnya nanti di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran, seorang yang berpegang teguh dengan agamanya pada hari itu seperti kalian hari ini akan memperoleh ganjaran lima puluh dari kalian.” Mereka (para sahabat) bertanya: “Wahai Nabi Allah ataukah dari mereka?” Nabi menjawab: “Bahkan dari kalian.” Mereka kembali bertanya: “Wahai Nabi Allah, ataukah dari mereka?” Nabi menjawab: “Tidak, bahkan dari kalian.” Nabi mengulangi tiga atau empat kali. (HR. Ath-Thabrani dalam al-Kabir, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/812)

TERJADI PERSELISIHAN DAN PERPECAHAN

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا

“Sesungguhnya siapa dari kalian yang hidup setelahku, niscaya akan menyaksikan (mendapati) perselisihan yang banyak.” (HR. Abu Dawud: 4609 dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 42)

Dalam hadits yang lain:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlul kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga, tujuh puluh dua akan masuk neraka, hanya satu yang akan masuk surga dan itulah al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud: 4599 dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/358)

Sebagian ulama mengatakan bahwa pokok (gembong) dari kelompok-kelompok sesat itu ada enam yaitu: al-Haruriyyah, al-Qadariyyah, al-Jahmiyyah, al-Murji’ah, ar-Rafidhah, al-Jabriyyah. Setiap kelompok kemudian terpecah menjadi dua belas sehingga semuanya berjumlah tujuh puluh dua. (Lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis hal. 41)

JALAN KESESATAN LEBIH BANYAK

Al-Imam Ahmad menyebutkan dalam Musnadnya sebuah hadits yang menunjukkan bahwa jalan kesesatan itu lebih banyak daripada jalan keselamatan.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا،ثُمَّ قَالَ: " هَذَا سَبِيلُ اللهِ "، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: " هَذِهِ سُبُلٌ - قَالَ يَزِيدُ: مُتَفَرِّقَةٌ - عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ "، ثُمَّ قَرَأَ: (وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ (

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan: “Rasulullah membuat sebuah garis untuk kami lalu bersabda: ‘Inilah jalan Allah.’ Kemudian beliau membuat beberapa garis di kanan dan kirinya lalu bersabda: ‘Inilah jalan-jalan -Yazid berkata: yang berserakan- setiap jalan tersebut terdapat setan yang mengajak kepadanya.’ kemudian beliau membaca firman Allah: dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.(QS. al-An’am: 153).” (HR. Ahmad:4142, dihasankan oleh al-Albani dalam Misykah al-Mashabih: 1/36)

HARUS KRITIS

Berangkat dari hadits-hadits di atas, maka seorang muslim pada hari ini dituntut untuk bersikap kritis dalam beragama. Sebab, tanpa kejelian dalam memilih jalan dan metode beragama dapat menjatuhkannya ke salah satu dari sekian banyak jalan dan kelompok sesat yang ada.

Begitu pula seorang yang lahir dan besar dalam lingkungan yang Islami, tidak boleh baginya untuk menerima begitu saja  ajaran-ajaran Islam yang ia dapatkan dalam lingkungannya tersebut. Wajib baginya untuk kembali memeriksa apakah ajaran-ajaran tersebut merupakan ajaran Islam yang sesungguhnya ataukah tidak.

Tidak ada celaan bagi mereka yang bersikap kritis tersebut. Dengan kata lain, seorang yang berlepas diri dari sikap fanatik buta yaitu menerima begitu saja apa yang ia dapatkan dari orang tuanya bukanlah seorang yang salah jalan atau bersikap sombong dan tidak menghormati nenek moyangnya. Bahkan, itulah yang dituntut darinya.

Sebab Islam bukanlah agama yang dibagun di atas rasa fanatik buta, akan tetapi dibagun di atas hujjah (dalil) yang kuat yang bersumber dari dua wahyu ilahi; al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

MANHAJ GOLONGAN YANG SELAMAT

Agar dapat selamat, selain sifat kritis ada satu hal lagi yang sangat penting yaitu pemilihan manhaj (metode) beragama yang tepat. Tanpa manhaj yang tepat mustahil seorang dapat selamat. Berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah saja tanpa metode pemahaman yang benar belum cukup. Sebab, tujuh puluh dua golongan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam akan masuk neraka itu pun jika dicermati lebih dalam juga berpegang pada al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Oleh sebab itu, wajib bagi seorang muslim untuk mempelajari dan mengetahui jalan golongan yang selamat sebagaimana di sebutkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam beberapa haditsnya. Di antaranya:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang tampak di atas kebenaran, mereka tidak akan termudharati oleh orang-orang yang menyelisihi mereka.” (HR. Muslim: 53)

Dalam hadits yang lain:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang ditolong, mereka tidak termudharati oleh orang-orang yang mencela mereka sampai terjadi hari kiamat.” (HR. Tirmdzi: 2192, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1/688)

Di antara manhaj golongan yang selamat dalam beragama adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti manhaj Nabi dan sahabat

Manhaj Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang beliau sabdakan sendiri yaitu berpegang teguh dengan al-Qur’an dan haditsnya. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam al-Muaththa’ no. 3338 dihasankan oleh al-Albani dalam Misykah al-Mashabih: 186)

Sebagai umat yang datang di belakangan empat belas abad setelah zaman kenabiaan, perlu ditambahkan dalam hal ini yaitu al-Qur’an dan Sunnah tersebut harus dipahami dengan  pemahaman yang benar. Sebab, perbedaan antara golongan yang selamat dan golongan sesat adalah dalam pemahaman kedua wahyu ini, dan tidak ada pemahaman yang lebih benar selain pemahaman para sahabat Nabi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin) sekalipun ia seorang budak Habsyi. Sebab, barang siapa yang hidup setelahku (berumur panjang) niscaya akan melihat (mendapati) perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan juga sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah dengan geraham dan hati-hatilah dengan perkara yang baru. Karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud: 4609 Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 42)

Jika dicermati, Rasullullah shallallahu 'alaihi wasallamshallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk berpegang kepada sunnah (tuntunan) para al-Khalifah ar-Rasyidin yaitu sahabatnya; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Karena sunnah mereka tersebut berasal dari pemahaman mereka terhadap al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Oleh sebab itu al-Imam Ahmad dalam Ushulus Sunnah mengatakan:

أُصُوْلُ السُنَّة عِنْدَنَا التَمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَالاِقْتِدَاءُ بِهِم

“Pokok sunnah (agama) menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa yang ditempuh oleh para sahabat Rasulullah dan meneladani mereka.” (Ushulu as-Sunnah hal. 14)

2. Kembali kepada Allah dan Rasul-Nya

Golongan selamat akan kembali kepada al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat, sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa’: 59 )

Dan juga firman Allah:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. an-Nisa’: 65)

3. Mendahulukan Kalamullah dan hadits Nabi dari pendapat manusia

Golongan yang selamat menyadari sepenuhnya bahwa al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang shahih adalah sumber kebenaran dan petunjuk yang paling utama. Oleh sebab itu, mereka mendahulukan keduanya dari semua ucapan dan pendapat siapa saja sekaligus  sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.” (QS. al-Hujurat: 1)

Maksud dari jangan mendahului Allah dan Rasul-Nya adalah tidak boleh mendahului dalam menetapkan hukum. Sebab, penetapan hukum adalah hak mutlak Allah. Tidak diperbolehkan kepada seorang pun tanpa izin-Nya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan:

“Di dalam ayat ini, terdapat larangan keras mendahulukan ucapan atau pendapat orang lain di atas ucapannya Shalallahu ‘alaihi wasallam. Apabila telah jelas ucapan beliau maka wajib mengikutinya, mengedepankannya dari ucapan siapa saja selain beliau.” (Taisir Karimir Rahman hal. 864)

Ibnu ‘Abbas pernah mengatakan:

أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَقُولُ نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Hampir saja mereka binasa, aku katakan: ‘Nabi bersabda’, mereka malah mengatakan: ‘Abu Bakar dan Umar melarang.’” (HR. Ahmad: 3121)

4. Memprioritaskan tauhid

Sebab tauhid adalah pokok dari agama. Syaikul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وَالتَّوْحِيْدُ هُوَ أَصْلُ الدِّيْنِ الَّذِي لَا يَقْبَلُ اللّهُ مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ دِينًا غَيرَهُ، وَبِهِ أَرْسَلَ اللّهُ الرُّسُلَ، وَأَنْزَلَ الكُتُبَ

“Tauhid adalah pokok agama yang Allah tidak menerima dari orang-orang yang terdahulu atau belakangan agama selainnya. Karena tauhid itu pula Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab.” (Nadhratu an-Na’im 4/1304)

Dan tauhid juga merupakan tujuan penciptaan seluruh makhluk. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Hanya disebutkan jin dan manusia, karena dua makhluk inilah yang sering lupa dan banyak membangkang.

5. Menghidupkan sunnah Nabi

Mereka menghidupkan serta merealisasikan sunnah Nabi dalam semua aspek kehidupan mereka. Tidak hanya dalam akidah namun juga pada akhlak dan mu’amalah mereka sehari-hari.
Rasulullah n bersabda:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam bermula dalam keadaan asing, dan kelak akan kembali asing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim: 386)

Dalam riwayat lain:

إِنَّ الإِسْلَامَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاء . قِيْلَ : مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ الله ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يَصْلَحُوْنَ إِذَا فَسَدَ النَّاِس 

“Sesungguhnya Islam berawal dalam keterasingan dan akan kembali asing sebagaimana ia berawal maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Ada yang bertanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Orang-orang yang tetap dalam keshalihan tatkala manusia rusak.” (HR. Abu ‘Ammar ad-Dani dalam as-Sunanu al-Waridah fi al-Fitan, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 3/267)

6. Memuliakan para imam tapi tidak fanatik buta

Golongan yang selamat memuliakan para Imam dan ulama kaum muslimin. Karena mereka memiliki keutamaan dalam menyebarkan agama dan membimbing umat ke jalan yang benar. Namun, hal itu tidak membuatnya fanatik terhadap salah satu dari para imam tersebut. Sebab, sikap fanatik buta adalah sikap yang tercela. Para imam tersebut tidak seorang pun dari mereka yang membolehkan fanatik buta kepada pendapat mereka, bahkan mereka mencela sikap tersebut dan menganjurkan untuk berpegang teguh dan mendahulukan al-Qur’an dan hadits Nabi.

Setiap manusia siapapun dia, tidak pernah lepas dari kesalahan kecuali para nabi dan rasul Allah. Rasulullah bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam banyak kesalahan dan sebaik-baik orang yang berbuat salah mereka yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi: 2499 dihasankan oleh al-Albani dalam Misykah al-Mashabih: 2341)

Oleh karena itu, Imam malik pernah mengatakan:

لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَبي صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم إِلَّا وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِه وَيُتْرُكُ إِلَّا النَبِيَّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم

“Tidak ada seorang pun setelah Nabi melainkan diambil dan ditinggalkan ucapannya keluali Nabi.”

Berikut beberapa ucapan para Imam dalam masalah ini: (Disadur dari kitab Sifat Shalatin Nabi hal. 46-54)

I. Imam Abu Hanifah

Beliau pernah berkata:

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا مَا لَم يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

“Tidak boleh bagi seorang pun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya.”

Beliau juga pernah mengatakan:

إِذَا قُلْتُ قَوْلًا يُخَاَلِفُ كِتَابَ اللهِ تعالى وَخَبَرَ الرَسُوْلِ صلى الله عليه وسلم فَاتْرُكُوْا قَوْلي

“Jika aku mengatakan satu pendapat yang menyelisihi kitabullah dan hadits Rasulullah maka tinggalkanlah pendapatku.”

II. Imam Malik

Beliau mengatakan:

 إِنَّماَ أنَاَ بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ فَانْظُرُوْا في رَأْيِي فَكُلُّ مَا وَافَقَ الكِتَابَ وَالسُّنة فَخُذُوْهُ وَكُلُّ مَا لم يُوَافِق الكِتَابَ وَالسُنَّة فَاتْرُكُوْه

“Aku hanyalah seorang manusia biasa terkadang salah dan terkadang benar. Maka perhatikanlah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan keduanya tinggalkanlah.”

Ibnu Wahb pernah mengatakan:

 سَمِعْتُ مَالِكًا سُئِلَ عَنْ تَخْلِيْلِ أَصَابِع الرِجْلَين فِي الوُضُوْء فَقَالَ : لَيْسَ ذَلِكَ عَلَى النَّاس . قَالَ : فَتَرَكْتُهُ حَتَّى خَفَّ النَّاسُ فَقُلْتُ لَهُ : عِنْدَنَا فِي ذَلِكَ سُنَّةٌ فَقَالَ : وَمَا هِيَ قُلْتُ : حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بنُ سَعْدٍ وَابْنُ لَهِيْعَةَ وَعَمْرُو بنُ الحَارِثِ عَنْ يَزِيْد بْنِ عَمْرٍو المُعَافِرِي عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَحمَنِ الحَنْبَلِي عَنْ المِسْتَوْرِدِ بْنِ شَدَّاد القُرَشِي قَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمِ يُدَّلِكُ بِخِنْصِرِهِ مَا بَيْنَ أَصَابِع رِجْلَيْهِ . فَقَالَ : إِنَّ هَذَا الحَدِيْث حَسَنٌ وَمَا سَمِعْتُ بِهِ قَطُّ إِلَّا السَّاعَة ثُم سَمِعْتُهُ بَعْدَ ذَلِكَ يُسْأَلُ فَيَأْمُرُ بِتَخْلِيْلِ الأَصَابِع

“Aku pernah mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari kaki ketika berwudhu, lalu menjawab: ‘Hal itu tidak disyari’atkan’, maka aku biarkan hal itu sampai orang-orang telah sepi lalu aku katakan kepadanya: ’Dalam hal ini kita memiliki sunnah (dalil)’. Ia bertanya: ‘Mana dia?’ Aku katakan: ’al-Laits bin Sa’ad, Ibnu Lahi’ah dan Amr bin al-Harits menyampaikan kepadaku dari Yazid bin Amr al-Mu’afiri dari Abi Abdurrahman al-Hanbali dari al-Mistaurid bin Syaddad al-Qurasyi, ia berkata: Aku melihat Rasulullah mengosok-gosok bagian antara jari-jari kakinya dengan jari kelingkingnya. Lantas ia (Malik) berkata: ‘Hadits ini hasan, belum pernah aku mendengarnya sekali pun kecuali saat ini.’ kemudian aku mendengarnya setelah kejadian tersebut ditanya lalu ia memerintahkan untuk menyela-nyela jari-jari kaki.”

III. Imam Syafi’i

Beliau pernah berkata:

إِذَا وَجَدْتُم فِي كِتَاِبي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُوْلُوْا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم وَدَعُوا مَا قُلْتُ

“Apabila engkau menemukan sesuatu yang menyelisihi sunnah Rasulullah dalam kitabku, ambillah sunnah Rasulullah tersebut dan tinggalkan pendapatku.”

Beliau juga pernah berkata:

كُلُّ حَدِيْثٍ عَنِ النَّبي صلى الله عليه وسلم فَهُوَ قَوْلي وَإِنْ لمَ تَسْمَعُوْهُ مِنِّي

“Setiap hadits dari Rasulullah itulah pendapatku meskipun engkau tidak mendengarnya dariku.”

IV. Imam Ahmad bin Hambal 

Beliau pernah berkata:

لَا تُقَلِّدْني وَلَا تُقَلِّد مَالِكًا وَلَا الشَّافِعي وَلَا الأَوْزَاعِي وَلَا الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوْا

“Jangan taklid kepadaku, jangan pula taklid kepada Malik, asy-Syafi’i, al-Auza’i, dan ats-Tsauri. Ambil dari tempat mereka mengambil.”

7. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar

Hal ini merupakan hal yang penting bagi golongan yang selamat. Sebab, Allah memuji umat ini dengan sebaik-baik umat karena salah satu sifat mereka adalah menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali Imran: 110)

Dalam ayat yang lain:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali Imran: 104). Wallahu a’lam.