Tampilkan postingan dengan label Tulisan KH.Aunur Rofiq bin Ghufron. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan KH.Aunur Rofiq bin Ghufron. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Juli 2018

MANHAJ DAKWAH AHLI BID'AH


Oleh: al-ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Di antara manhaj dakwah bid'ah penyesat umat yang harus kita ketahui dan kita jauhi adalah sebagai berikut:

1. Berdakwah dengan mendirikan partai atau golongan

Lembaga apa pun namanya yang memecah belah umat karena fanatik kepada golongan atau kelompok, hukumnya haram. Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ 

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. (QS. Al-An'am: 159)

2. Berdakwah dengan nasyid atau syair-syair

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: "Tidak benar ada nasyid Islam, kita tidak menjumpai kitab ulama salaf membolehkan hal itu, akan tetapi ini perbuatan orang sufi yang mereka sebut samma'." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil al-Mulimmah: 1/177)

3. Berdakwah dengan musik 

Nyanyian dan musik hukumnya haram berdasarkan firman Allah di dalam surat Luqman: 6 dan sabda Rasulullah shallallahu wasalam:

 لَيَكُوْنَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ والحَرِيْرَ وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ

"Sungguh akan ada diantara umatku ini kaum yang menghalalkan zina, sutra (untuk pria), khamar, dan alat musik." (HR. Bukhari: 17/296)

4. Berdakwah dengan cerita dan dongeng

Imam Malik rahimahullah berkata: "Sungguh aku membenci cerita-cerita yang dibaca di masjid, tidak boleh duduk bersama mereka, karena dongeng itu bid'ah dan mereka tidak boleh menjadi khatib." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/183)

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: "Boleh orang itu bercerita bila cerita itu ada di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahih seperti menceritakan keberadaan umat yang dahulu bila bermaksud untuk mengambil pelajaran." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/183)

5. Berdakwah dengan sandiwara

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: "Sandiwara tidak boleh dilakukan di masjid atau di tempat lain, akan tetapi di masjid lebih berat dosanya. Sandiwara termasuk hal yang sia-sia dan permainan. Tidak boleh diamalkan dan bukan termasuk amalan umat Islam, akan tetapi pekerjaan orang kafir." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/182)

Untuk lebih jelasnya silakan baca kitab at-Tamtsil Haqiqatuhu, Tarikhuhu wa Hukmuhu oleh Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.

6. Wisata atau safari dakwah hizbiyah

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya tentang wisata atau safari dakwah, maka beliau menjawab: "Kamu jangan tinggalkan masjid dan majelis ilmu, tinggalkan wisata yang mereka sebut wisata dakwah, karena kita tidak tahu hakikatnya dan di balik itu dan tidak tahi siapa pematerinya, tapi kalian telah memiliki masjid dan sekolah serta ma'had, tekuni majelis mereka. Karena waktu sekarang waktu fitnah, orang Islam bagaikan kambing hidup di antara serigala. Dia ingin menerkam, maka tekuni di masjid dan majelis mereka dan jangan banyak keluar ikut safari dakwah." (al-Ijabah Muhimmah fi Masyakil Mulimmah: 1/193)

Dan masih banyak metode dakwah yang sesat dan menyesatkan. Misalnya dakwah dengan melawak, mendahulukan khilafah, mewajibkan keluar atau khuruj beberapa  beberapa hari setiap bulannya, memperingati hari ulang tahun bid'ah dan perbuatan maksiat lainnya.
_____________________

Sumber: Majalah Al-Furqon 82 tahun 1429H/2008M. Penerbit Lajnah Dakwah Ma'had Al-Furqon, Srowo, Sidayu, Gresik, Jawa Timur 61153

Jumat, 01 Juni 2018

KAPAN MULAI MENGENALKAN IBADAH KEPADA ANAK?


Oleh: al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

Hal ini sangat penting diketahui oleh orang tua, karena orang tua yang diamanahi untuk menjaga fitrah anak, jangan sampai fitrahnya berubah menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi atau ateis karena kelalaian orang tua yang tidak mau menjaga kesucian hati buah hatinya. Ketahuilah bahwa Allah menciptakan manusia agar beribadah hanya kepada-Nya, tidak menyekutukan Dia dengan siapa pun dari makhluk-Nya. Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. al-Bayyinah: 5)

Apakah ibadah itu?

Ketika orang tua sudah mengenal tujuan Allah menciptakan hamba agar beribadah hanya kepada-Nya, maka orang tua harus menjaga kesucian hati anak agar menjadi anak yang ahli ibadah. Tentu orang tua harus mengerti terlebih dahulu apakah maksud dari ibadah itu sendiri, sehingga bisa mengajari anaknya agar beribadah kepada Allah dengan cara yang benar.
Ibadah bukan hanya shalat atau mengerjakan rukun Islam saja, tetapi makna ibadah yang luas ialah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, seperti yang dijelaskan oleh ahli tafsir semisal Ibnu Katsir. (Tafsir Ibnu Katsir 6/108)

Dan yang lebih jelas lagi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, bahwa ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin. (Iqtidha’ Sirath al-Mustaqim)

Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah yang berkaitan dengan hati. Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisan dan hati. Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah fisik dan hati.

Dengan dasar makna ibadah di atas anak hendaknya dibimbing dalam ibadah semenjak dia punya perhatian atau mengerti, walaupun belum sempurna akalnya. Karena ibadah bukan hanya gerakan anggota badan, tetapi perkataan dan keyakinan dalam hati.

Anak dilatih bicara yang baik 

Anak hendaknya dilatih bicara yang baik ketika dia mulai bisa bicara, walaupun belum sempurna kata-katanya, membaca basmalah pada saat mau makan dan apa yang dibaca setelah makan. mengucapkan alhamdulillah ketika bersin, sekalipun orang tua yang harus menuntunnya. Demikian juga dilatih mendengarkan suara al-Qur’an dan hadits atau doa-doa yang ma’tsur; apa yang dibaca pada saat mau tidur, bangun tidur, diajari menyampaikan salam walaupun belum tegas bicaranya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

“Hendaklah yang kecil menyampaikan salam kepada yang besar, dan orang yang lewat menyampaikan salam kepada yang duduk, dan yang sedikit jumlahnya menyampaikan salam kepada yang banyak.” (HR. al-Bukhari: 6670)

Anak dilatih agar takut kepada Allah

Tatkala anak melakukan perbuatan yang melanggar syar’i seperti mencuri, mengambil barang temannya atau perbuatan dosa lainnya, hendaknya diberitahu agar takut siksa Allah, walaupun dia masih kecil atau umurnya kurang dari dua tahun. Abu Hurairah berkata, “Hasan bin Ali (cucu Rasulullah) pernah mengambil sebiji kurma yang berasal dari kurma zakat, lalu dia menelannya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كِخْ كِخْ ارْمِ بِهَا أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ

'Kikh! Kikh! Muntahkanlah! Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya kita tidak diperbolehkan memakan harta zakat?!'” (HR. Muslim 3/117 no. 518)

Imam an-Nawawi berkata, “Anak kecil diperlakukan seperti orang tua, apabila dia salah, tidak boleh dibiarkan, akan tetapi hendaknya orang tua atau walinya yang menasihati mereka.” (Syarh Shahih Muslim 4/33)

Yang dapat diambil faedah dari hadits ini, bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam mengajari cucunya yang masih kecil agar mengenal zakat walaupun kadar pemahamannya belum sempurna dan belum berkewajiban zakat pula, di sisi lain anak kecil dikenalkan pula perkara yang haram walaupun hanya dengan ucapan. Yaitu bahwa mengambil barang yang bukan miliknya hukumnya haram.

Anak dilatih mengenal amalan shalat

Anak perlu dikenalkan amal shalat walaupun belum saatnya dia dilatih shalat, bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menggendong cucunya pada saat shalat, Hasan dan Husain berada di punggung beliau pada saat beliau sujud, tentu hal ini bila tidak mengganggu orang yang shalat pada saat shalat berjamaah.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin ketika ditanya tentang hukum membawa anak kecil shalat di masjid, beliau menjawab, “Menurut hemat saya, membawa anak-anak yang akan mengganggu jamaah shalat tidak boleh. Karena hanya akan menyakiti jamaah yang sedang menunaikan kewajiban dari Allah…” (Fatawa Islamiyyah 2/8)

Dari Abu Qatadah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

"Aku pernah ingin memanjangkan shalat, namun aku mendengar tangisan bayi. Maka aku pendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya.” (HR. al-Bukhari: 666)

Bila dia sudah berumur tujuh tahun, hendaknya dilatih untuk menjalankan shalat, bahkan lebih utama bila sebelumnya sudah dilatih agar terbiasa menjalankan shalat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ 

”Perintahkan anakmu agar menjalankan shalat tetkala berumur 7 tahun, dan pukullah mereka jika enggan menjalankan shalat tetkala berumur 10 tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka dengan yang lain.” (Shahih, HR. Abu Dawud 2/167)

Anak hendaknya diajari mengenal Allah 

Pada saat anak merengek meminta sesuatu kepada orang tuanya, alangkah indahnya jika orang tua menyisipkan kata-kata yang indah, “Orang tuamu tidak punya apa apa, ini semua miliknya Allah. Mari kita memohon kepada Allah.” Ibnu Abbas berkata. "Pada suatu hari aku berada di belakang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda:

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ احْفَظْ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ 

"Nak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Peliharalah (hak) Allah niscaya Allah akan memeliharamu. Peliharalah (hak) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya berada di hadapanmu (melindungimu). Jika kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Jika meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (Shahih, al-Misykah: 5302 dan Zhilal al-Jannah hal. 316-318)

Adapun maksud menjaga Allah adalah dengan cara menjaga hak-Nya, yaitu menjalankan yang wajib dan sunnah, serta menjauhi larangan-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan penjagaan Allah terhadap manusia ada dua bentuk; Allah menjaga urusan dunianya dalam bentuk menyehatkan badannya, melapangkan rezekinya, menjaga anak, istri dan lain-lain. (Tuhafatul Ahwadzi 6/308)

Membiasakan mengamalkan sunnah semampunya

Walau anak masih kecil, perlu dibimbing amalan kesehariannya agar mengikuti sunnah, terutama tatkala mereka bersama saudara atau temannya, pada saat mau makan atau yang lainnya. Umar bin Abu Salamah a\ berkata, “Pada waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah n\, tanganku berkeliaran di nampan saat makan. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

‘Nak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu.’ Maka seperti itulah cara makanku setelah itu.” (HR. al-Bukhari 18/102)

Tapi jika makanan itu di tempat yang terpisah, tentu boleh mengambilnya sesuka hati, akan tetapi hendaknya mendahulukan yang lebih tua sebagai bukti penghormatannya. Jika si kecil tetap sulit diatur, maka orang tua hendaknya memberitahu kakaknya atau yang lebih tua hendaknya mengalah.

Ibnu Baththal berkata, “Jika makanan beraneka macam dan di tempat yang berbeda-beda, maka boleh kita mengambilnya, sekalipun bukan di depan kita.” (Syarh Shahih al-Bukhari, Ibnul Baththal 18/71)

Dilarang banyak gurau dan tertawa 

Kebiasaan anak memang senang senda gurau dan tertawa dengan saudara atau temannya, namun jika berlebihan tentu sangat berbahaya. Bercanda dengan anak dianjurkan, tapi ada batas waktunya, dan orang tua hendaknya memperhatikan dengan cermat, bahwa termasuk kebiasaan anak yang awalnya senda gurau, karena berlebihan akhirnya bertengkar. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ 

“Dan janganlah kamu sering tertawa, karena sering tertawa mematikan hati.” (HR. at-Tirmidzi, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah 2/18)

Umar bin Khaththab berkata, “Barangsiapa sering bersenda gurau, maka dia akan menjadi hina.” (Syu’abul Imam, al-Baihaqi 11/233)

Jangan membebani amal ibadah di luar kemampuannya 

Kemampuan anak yang satu dengan yang lain tentu berbeda, ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang cerdas, yang menengah dan seterusnya. Maka orang tua hendaknya tidak memerintah anaknya kepada hal yang tidak dimampui, dan hendaknya tidak berkeras kepala, suka memukul dan mencela, karena mereka tidak mampu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ

“Jangan memukul wajahnya, jangan menjelek-jelekkannya.” (Shahih Sunan Abu Dawud)

Semoga Allah senantiasa melindungi keluarga kita dari hal yang tidak diridhai-Nya. (Terbit di Majalah Al-Mawaddah, Edisi vol. 96.: Pendidikan Anak Muslim)


Kamis, 10 Mei 2018

BAHAGIA DI USIA SENJA


Oleh: Al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang orang yang zalim seorang penolong pun. (QS. Fathir: 37)

Rambut beruban, tulang menjadi rapuh, kulit keriput, telinga kurang peka, syahwat melemah merupakan tanda dekatnya kematian. Seharusnya hal-hal itu menjadikan seseorang bertambah dzikrullah, tetapi umumnya orang bertambah malas beribadah, semakin rakus dunia, semangat berbuat syirik, bid’ah, dan zina. Apakah demikian fungsi umur kita?

MAKNA AYAT SECARA UMUM

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimallah berkata, “Bukankah Kami (Allah) memberi umur kepadamu sekian tahun sebagai peringatan bagi yang mau beramal dengan mengambil peringatan ini? Kami telah memberi kenikmatan kepadamu di dunia dengan rezeki yang cukup, dan kenikmatan lainnya sehingga hidupmu merasa nyaman, Kami panjangkan umurmu, lalu Kami sertakan pula ayat-ayat Kami, Kami utus pula utusan pemberi peringatan, Kami uni kalian dengan suka dan duka, agar kamu kembali kepada hukum-hukum-Ku, sehingga bilakamu kembali kepada-Ku tgidak lagi menyampaikan udzur kepada-Ku. Akan tetapi, peringatan ini kamu abaikan. Walaupun demikian, Kami tunda siksaan-Ku kepadamu sampai datang kematianmu. Kamu akan meninggalkan kampung duia ini menuju kampung  pembalasan amal, lalu kamu minta dikembalikan di dunia? Sungguh amat jauh dan tidak mungkin, karena waktunya telah lewat. Sungguh Dzat yang Maha Belas Kasihan marah kepadamu, kamu dilupakan ahli surga, silakan kamu menempati neraka selama-lamanya dan rasakan siksa Allah subhanahuwata’ala yang sangat pedih.” (Taisir al-Karimur Rahman: 1/690).

BERAPA UMUR MANUSIA?

Umur kita lebih pendek daripada umat sebelumnya. Umur yang pendek ini menjadi kesempatan emas bagi orang yang mau beriman dan beramal shalih, dan sebaliknya, kerugian besar bagi yang tertutup hatinya. Tahukah berapa umur umat ini? Dari keterangan ayat di atas, ulama berbeda pendapat standar umur yang Allah berikan kepada umat nabi Muhammad. Ada yang berpendapat 40 tahun, 70 tahun, 60 tahun, 23 tahun. Begitulah ahli tafsir dan para ulama sunnah menerangkan ayat di atas. (Syarh Ibnu Bathal: 19/202)

Imam Nawawi berkata, “Sahabat Ibnu Abbas dan para ulama yang dipercaya keilmuannya berkata, ‘Yang benar, umur standar manusia maksimalnya 60 tahun.’ Berdasarkan hadist yang dibawakan Abu Hurairah, Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ، حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

‘Allah telah memberi udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya hingga umur enam puluh tahun.’” ( HR Bukhari no.5940 (Riyadhush Shalihin 1/101) Hadits ini juga diperkuat oleh Abu Hazim dan Ibnu Ajlan dari al-Maqburi.)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Jika umur sudah 60 tahun, sungguh telah tegak hujjah baginya, tidak diterima alasannya jika dia tidak beribadah, karena Allah telah memberi umur 60 tahun, tentu dia mengetahui ayat-ayat Allah, apalagi dia bila hidup di masyarakat mayoritas muslim, ini adalah hujjah dan alasan yang kuat, tiadk ada alasan bagi yang tidak beribadah kepada Allah, berbeda dengan umur 15 tahun atau 20 tahun, mungkin udzur diterima bila dia belum sempat memahami ayat Allah ... Oleh karena itu, kita wajib mempelajari agama Islam dengan baik untuk memenuhi kebutuhan kita setiap harinya.” (Syarah Riyadhush Shalihin oleh Ibnu Utsaimin 13/3).

USIA BAGI ORANG YANG BERIMAN

Sebagian ulama berkata, “Usia adalah modal hidup seorang hamba, ia membelanjakan untuk dirinya, walaupun banyak pada hakikatnya sedikit, walaupun umurnya panjang hakikatnya pendek, cita-cita manusia terputus dengan kematiannya.” Dari sinilah Islam menganjurkan kita agar segera beramal shalih dan tidak boleh menyia-nyiakan waktu tanpa ada manfaat untuk akhiratnya walaupun hanya sebentar. (Fatawa Ulama Azhar: 10/331)

Abu bakar pernah berkhutbah, “Ketahuilah wahai hamba Allah! Kalian hidup pada waktu pagi dan sore. Kalian tidak tau ajal kalian. Jika kalian mampu menggunakan umurmu untuk beribadah kepada Allah, tentunya kalian tidak akan mampu tanpa pertolongan Allah, maka bersegeralah beramal shalih waktu hidupmu sebelum berakhir ajalmu, agar kamu tidak mengakhiri hidupmu dengan kejahatanmu.” (Hilyatul Auliya: 1/17)

Dari Ibnu Umar beliau berkata, “Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.’”

Ibnu umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari: 21/268)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh berkata:

Ibnu umar berkata, “Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah memegang kedua pundakku”, hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada beliau dan saat itu umur beliau masih 12 tahun. Ibnu Umar berkata, “Beliau pernah memegang kedua pundakku. Rasulullah bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan.’”

Jika manusia mau memahami hadist ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan ralita. Sesungguhya manusia (Nabi Adam) memuali kehidupan nya di surga kemudaian diturukan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Pada hal sebenernya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Allah adalah surga.

Sesungguhnya adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engaku mau merenungkan hal ini maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prisip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan olah Nabi.

Betapa indah perkataan Ibnul Qayyim ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seoran gmuslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena Iblis telah menawan bapak kita Adam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak. Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan seorang penyair:

Palingkan hatimu pada apa saja yang kamu cintai
Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu
Yaitu Allah jalla wa’ala
Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditedmpati seorang
Dan selamanya kerinduan hanya pada tempat tinggal yang semula
Yaitu surga. (Hadits Arba’in no.40 oleh Abu Fatah Amrullah)

Orang yang rugi adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya untuk perkara yang tidak diridhai oleh Allah. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ


Katakanlah: “sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 15)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Dia merugikan dirinya sendiri, karena dia tidak bisa mengambil faedah sedikitpun dari umurnya, dan rugi pula keluarganya walaupun mereka orang yang beriman, mereka di surga, tetapi tidak bisa bersenang-senang dengan mereka di akhirat apabila mereka masuk di neraka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibn Utsaimin: 9/95)

MANFAATKAN UMURMU UNTUK KEMATIANMU

Orang berusia tua yang paling baik adalah yang mampu memanfaatkan umurnya untuk beribadah kepada Allah, dan mampu membendung hawa nafsunya dari godaan setan yang terkutuk.

Abdullah bin Busr berkata, “Ada seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam, ‘Wahai Rasulullah siapa manusia yang paling baik?’ Beliau menjawab:

مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.’” (HR. Tirmidzi; shahih: ash-Shahihah: 1836, al-Misyakah: 5285 (tahqiq kedua), ar-Raudh: 926)

Orang yang mampu memanfaatkan sedetik dari umurnya untuk beribadah kepada Allah, paling baiknya manusia di sisi Allah, dia beruntung karena tidak ada waktu bagi mereka melainkan untuk kebahagiaan dirinya dan umat.

Amr bin Maimun al-Audy berkata, “Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pernah menasihati seorang pria:

اغتنمْ خمسًا قبل خمسٍ شبابَك قبل هرمكَ وصحتَك قبل سَقمِكَ وغناكَ قبل فقرِك وفراغَك قبل شغلِك وحياتَكَ قبل موتِكَ

‘Ambillah kesempatan lima sebelum datang lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, senggangmu sebelum sibuk, hidupmu sebelum mati.’” (HR. Hakim, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib: 3/168)

Gunakan kesempatan dan kesehatan untuk beribadah, karena pada umumnya manusia lupa ibadah ketika sehat dan pada waktu luang, sebaliknya semangat inin beribadah tumbuh ketika dilanda kesakitan dan bencana, namun hanya semangat karena kekuatan tidak ada. Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no.5933)

BAGAIMANA SEHARUSNYA BILA KITA SUDAH TUA

Ibnu Hajar berkata, “Sebagian para cendekiawan berkata, ‘Umur manusia ada empat tahapan: umur anak-anak, pemura, kuhulah (umur antara 30 sampai 50 tahun), kemudian lanjut usia. Umur yang terakhir antara 60 dan 70 tahun, maka saat itu mulai tampak menurun kekuatannya sedikit demi sedikit, maka sudah selayaknya bila dia mengingat dan meningkatkan urusan akhiratnya secara menyeluruh, karena tidak mungkin dia akan kuat kembali seperti masa mudanya.’ Sebagian ulama Syafi’i berpendapat bahwa orang yang berumur 60 tahun, dia belum haji padahal mampu menunaikan haji, dia termasuk menyia-nyiakan umurnya, dan berdosa apabila dia meninggal dunia apabila dia belum haji.” (Fathul Bari': 18/229)

Imam Malik berkata, “Saya menjumpai ahli ilmu di negeri kami, mereka mencari kehidupan dunia dan menuntut ilmu bercampur dengan manusai, sehingga apabila salah satu diantara mereka berumur 40 tahun, mereka menjauhi manusia dan menyibukkan dirinya denga ibadah sampai datang ajalnya.” (Syarah Ibnu Bathal 19/201)

Hendaknnya sering istighfar

Imam al-Munawi berkata, “Jika orang sudah berumur 60 tahun, dia sudah dekat dengan ajalnya, maka seharusnya dia memperbanyak istighfar, meningkatkan ketaatan kepada Allah dan selalu mengingat kampung akhirat.” (Faidhul Qadir: 1/712)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pada akhir hayatnya sering beristighfar, bertakbir, dan memuji Allah, khususnya pada saat turunnya Surat an-Nashr yang memberi isyarat dekatnya ajal beliau.

Aisyah berkata, “Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam memperbanyak do’a sebelum meninggal dunia:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَ أَتُوْبُ إِلَيْكَ

‘Maha Suci Engkau wahai Allah, dan aku memuji-Mu dan aku minta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.’ Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah! Mengapa engkau sering membaca kalimat ini?” Beliau menjawab, “Dijadikan untukku sebagai tanda umatku, jika aku melihatnya, aku membaca surat ini (Surat an-Nashr).” (HR.Muslim)

Berkata Syaikh Abu Usamah, “Hadits ini mengingatkan agar orang yang berusia tua banyak beristighfar karena dia mendekati ajalnya dan agar mengakhiri hidupnya dengan amal shalih.” (Bahjatun Nazhirin Syarh Riyadhush Shalihin: 1/195)

Hendaknya berlindung kepada Allah dari jahatnya usia tua

Qatadah berkata, “Ketahuilah bahwa umur panjang adalah hujjah dan alasan, kami berlindung kepada Allah dari tertipu dengan umur panjang.” (Tafsir Ibn Katsir: 6/553)

Anas bin Malik berkata, “Nabi shalallahu 'alaihi wasallam berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَع الدَيْن، وغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita, lemah  dan malas, pengecut dan kikir, dan terlilit hutang serta dikuasai musuh.” (HR. Bukhari no.5892)

Hendaknya lebih mengutamakan ibadah daripada mencari harta benda

Imam Nawawi berkata, “Sesungguhnya penduduk  Madinah, apabila mereka telah berumur 40 tahun maka mereka mengkhususkan dirinya untuk beribadah.” (Riyadhush Shalihin: 1/106)

Hendaknya meningkatkan menuntut ilmu din agar sempurna aqidah dan amal ibadahnya. Jika orang sudah lanjut usia maka dia pensiun dan berhenti kerja; itu benar karena dia akan meninggal dunia. Akan tetapi sebalinya, dia harus lebih banyak menimba ilmu din, agar sempurna ibadahnya. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pada akhir hidupnya lebih banyak menerima wahyu sebagai isyarat sempurnanya ibadah beliau sebelum meninggal dunia dan sempurna pula ilmu din yang beliau sampaikan kepada manusia.

Anas bin Malik berkata, “Allah telah menurunkan wahyu secara berturut-turut kepada Rasulullah sebelum wafatnya, setelah turunnya wahyu sempurna, maka wafatlah Nabi.” (HR. Bukhari no.4599)

Hendaknya tidak mencukupkan dirinya mengamalkan yang wajib, tetapi juga meningkatkan amalan sunnah juga

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pada akhir hidupnya sering mengamalkan sunnah, bengkak kakinya karena lama berdiri ketika shalat malam, beliau i’tikaf dua puluh hari menjelang wafatnya.

Masruq berkata, “Saya bertaya kepada Aisyah, ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Nabi?’ Dia menjawab:

الدَّائِمُ، قُلْتُ: مَتَى كَانَ يَقُومُ؟ قَالَتْ: كَانَ يَقُومُ إِذَا سَمِعَ الصَّارِخَ

‘Yaitu amalan yang dikerjakan secara terus-menerus.’” Masruq berkata, “Tanyaku lagi, ‘Lalu kapankah beliau biasa bangun (pagi)?’ Dia menjawab “Beliau bangun (pagi) apabila mendengar ayam berkokok.’” (HR. Bukhari no.5981)

Dari Anas bin Malik, Nabi shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda:

يَتْبَعُ المَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ : يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Ada tiga hal yang akan mengiringi mayat ke liang kubur, yang dua akan kembali pulang dan yang satu akan tetap bersamanya. Sesungguhnya mayat itu akan diiringi keluarga, harta, dan amal perbuatannya menuju liang kuburnya. Keluarga dan hartanya akan kembali ke rumah, sedangkan amal perbuatannya akan tetap tinggal menemaninya.” (HR. Muslim: 8/211-212 no.2095)

Membiasakan beramal shalih sekalipun hanya sebentar

Aisyah berkata, “Amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus oleh pelakunya.”

Abu Hurairah berkata, “Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

سَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَاغْدُوا وَرُوحُوا، وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ، وَالقَصْدَ القَصْدَ تَبْلُغُوا

“... Maka beramallah kalian sesuai dengan sunnah dan berlakulah dengan imbang, berangkatlah di pagi hari dan berangkatlah di sore hari, dan (lakukanlah) sedikit waktu (untuk shalat) di malam hari, lakukan terus-menerus maka kalian akan sampai.” (HR. Bukhari No.5982)

Hendaknya tidak rakus dunia

Orang tua yang masih rakus mencari kekayaan dunia, termasuk orang yang rugi, tertipu, dan sia-sia hidupnya, karena harta benda yang mereka peroleh akan ditinggal di dunia, kecuali dia gunakan untuk ibadah.

Abdullah bin asy-Syikhir berkata: Saya pernah mengunjungi Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sendang membaca ayat: “Bermegah-megahan telah membuatmu lalai.” (QS. At-Takatsur [102]:1) lalu beliau bersabda:

قَالَ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي , وَإِنَّمَا لَكَ مِنْ مَالِكَ إلا ما أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ صَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

“Manusia mengatakan, ‘Hartaku, hartaku!” Lalu beliau bersabda, “Hai manusia, tidak ada harta yang kamu miliki melainkan apa yang telah kamu makan dan habis, atau pakaian yang kamu kenakan lalu rusak, atau apa yang kamu sedekahkan, lalu menjadi tabunganmu.” (HR. Muslim 8/211 no.2187)

Hendaknya bershadaqah sebelum datang kematian

Harta menjadi milik si mayit apabila ia shadaqahkan sebelum meninggal dunia.

Abu Hurairah berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?" Beliau menjawab:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلا تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلانٍ كَذَا وَلِفُلانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلانٍ

“Kamu bershadaqah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi fakir dan berangan0angan menjadi orang kaya. Maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorokanmu. Lalu kammu berkata, ‘Si fulan punya in i dan si fulan punya ini’, padahal harta itu milik si fulan.” (HR. Bukhari no.1330)

Hendaknya lebih mencintai masjid daripada pasar

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلا ظِلُّهُ : ..... وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ

“Ada tujuh golongan yang Allah melindungi mereka dalam lindungan-Nya pada hari kiamat, di hari ketika tiada perlindungan selain perlindungan-Nya, yaitu ... seseorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid ...” (HR. Bukhari 3/116 no.6308)

Imam Nawawi berkata, “Maksud dari hadits ini orang yang sudah lanjut usia hendaknya lebih mencintai masjid dengan kontinu shalat berjamaah, namun bukan berarti berdiam terus di masjid.” (Syarh Muslim 7/121)

PENYAKIT USIA TUA

Penyakit orang tua ada dua macam: (1) penyakit yang menimpa badan, dan (2) penyakit yang menimpa hati. Penyakit yang menimpa badan, seperti kencing manis, darah tinggi, asam urat, kolesterol, jantung, paru-paru, dan lainnya – umumnya penyakit ini menmpa mereka yang sudah lanjut usia. Kami tidak membahas penyakit ini karena umumnya mereka sudah tahu dan berusaha untuk mengobatinya dnegan menghindari makanan yang berbahaya dan meminum obat untuk mencegahnya.

Adapun yang kami maksud penyakit tua ialah penyakit hati yang pernah dialami pada masa mudanya, seperti ingin berbuat zina padahal syahwatnya sudah menurun, tamak mencari harta benda sampai melupakan ibadahnya padahal kebutuhan tiap harinya telah terpenuhi. Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ: حُبُّ المَالِ، وَطُولُ العُمُرِ

“Anak Adam akan semakin tumbuh dewasa dan semakin besar pula bersamanya dua perkara, yaitu: cinta harta dan panjang umur.” (HR. Bukhari no.5942)

Anas bin Malik berkata, “Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُ مِنْهُ اثْنَتَانِ : الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ , وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمْرِ

“Anak Adam pasti akan menjadi tua, namun tetap muda dalam dua perkara: tamak akan harta dan selalu ingin panjang umur.” (HR. Muslim: 3/99 no.568)

Sudah tua masih berbuat zina

Perbuatan zina merusak ibadah dan rumah tangga dan juga merusak keturunan dan harta benda. Abu Hurairah berkata, Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا يُزَكِّيهِمْ، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ، وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ، شَيْخٌ زَانٍ، وَمَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ

“Ada tiga golongan yang pada hari kiamat kelak tidak akan diajak bicara oleh Allah, tidak akan disucikan oleh Allah, mereka akan mendapat adzab yang pedih, Yaitu: orang tua yang berzina, penguasa yang berdusta, dan orang miskin yang sombong.” (HR. Muslim 1/72 no.1796)

Malas beribadah, padahal sudah lama mengenal agama

Allah berfirman:

فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ

Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di atnara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hadid: 16)

Sudah tua masih berbuat syirik, meminta kepada dukun atau wali, dan berdo’a kepada orang mati. Sudah tua masih sendang mengamalkan bid’ah.

SUDAH TUA MASIH SENANG HAL YANG SIA-SIA

Hidup di  dunia bukan untuk main-main, bukan untuk maksiat. Hidup adalah untuk beribadah kepada Allah, melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Allah berfirman:

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (QS. al-Mu’minun [23]: 115)

Sering kita menjumpai kaum muslimin yang sudah lanjut usia, hobinya menonton sepak bola, tinju, main karambol, melawak, main gitar, menyanyi, dan permainan lainnya.

Syaikh Shalih Fauzan pernah ditanya: “Bagaimana hukumnya menonton sandiwara yang disiarkan di televisi?” Beliau menjawab: “Orang islam hendaknya menjaga waktunya, memanfaatkan waktu untuk dunia dan akhiratnya, karena Allah akan menanyakan untuk apa waktunya (dihabsikan)? Allah berfirman:

أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ

Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? (QS. Fathir [35]: 37)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallamshalallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa manusia akan ditanya tentang umurnya, untuk apa dia menghabiskannya. Orang islam tidak pantas menonton film dan sandiwara karena termasuk menyia-nyiakan waktunya, apalagi sandiwara yang menampilkan wanita dengan keindahan wajah dan badannya, sandiwara yang disertai musik dan nyanyian, sandiwara yang menampilkan pemikiran yang merusak dinul Islam dan akhlak yang mulia, sandiwara yang membangkitkan nafsu birahi merusak akhlak para pemuda. Semua sandiwara ini , kita dilarang menontonnya.” (Al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan)

SIAPKAN JAWABAN SEBELUM DITANYA

Jangan dikira bahwa umur panjang tidak ada pertanyaan, karena setiap kenikmatan yang kita terima pasti akan ditanya untuk apa dan dari mana memperolehnya. Allah berfirman:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. At-Takatsur [102]: 8)

Ibnu Mas’ud berkata, “Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:


لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

“Tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba – melangkah – di sisi Allah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai lima perkara: (1) tentang umurnya untuk apa dihabiskannya; (2) masa mudanya, digunakan untuk apa; (3) hartanya, dari mana ia mendapatkannya, dan (4) untuk apa ia membelanjakannya; dan (5) apa yang telah ia amalkan dari apa yang dia ketahui (ilmunya)?” (HR. Tirmidzi; shahih: ash-Shahihah: 946, at-Ta’liq ar Raghib 1/76, dan ar-Raudh an-Nadhir: 648)

BILA ORANG BODOH DITERIMA UDZURNYA

Sering kita jumpai orang tua apabila disuruh melaksanakan yang wajib dan sunnah atau dilarang mengerjakan yang haram, dia menjawab: “Saya tidak tahu dalilnya.” Apakah alasan dia bisa diterima?

Syaikh bin Abdul Aziz bin Abdullah al-Rajihi berkata, “Ibnu Abil Izzi di dalam kitab Syarh ath-Thahawiyyah berkata:

Kesimpulannya: Orang jahil (tidak tahu ajaran Islam) ada dua golongan: (1) orang bodoh yang tidak ingin mencari kebenaran, dan (2) orang bodoh yang ingin mencari kebenaran.

Orang bodoh mampu bertanya dan mampu menuntut ilmu, maka tidak diterima alasan tidak tahu ajaran Islam jia dia mau mencari kebenaran, karena dia wajib menuntut ilmu dan bertanya, karena orang bodoh yang mau mencari kebenaran berbeda dengan orang bodoh yang tidak ingin mencari kebenaran.

Adapun orang bodoh yang ingin mencari kebenaran, jika dia telah berusaha mencari kebenaran, sedangkan dia belum menjumpainya, maka udzurnya diterima.

Kesimpulannya, orang bodoh ada dua macam. Orang bodoh yang tidak mempunyai keinginan mencari kebenaran dan tidak mau belajar dan tidak mau bertanya, maka tidak diterima udzurnya adapun orang bodoh dia ingin mencari kebenaran dan sudah berusahan untuk mencarinya akan tetapi belum menjumpainya maka dia diterima udzurnya. Wallahu A’lam.” (As’ilah wa Ajwibah fil Imani wal Kufri: 1/73)

Orang bodoh yang tidak mau menuntut ilmu akan berkata kepada Allah:

أَخِّرْنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ نُّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ

“Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikan lah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (QS. Ibrahim [14]:44)

Lalu Allah menjawab:

 أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُم مِّن قَبْلُ مَا لَكُم مِّن زَوَالٍ

“Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?" (QS. Ibrahim [14]:44) Allah membantahnya dengan Surat Fathir: 37.

Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Tidak diterima udzur atau alasan apa pun apabila sudah berumur 60 tahun dia enggan beribadah, sedangkan dia mampu beribadah, karena waktu ini mestinya digunakan untuk beristighfar, bertaubat,d an meingkatkan ketaatan dia kepada Allah dan memusatkan perhatiannya kepada urusan akhirat.” (Fathul Bari 18/229)

Imam Badruddin al-Aini al-Hanafi berkata, “Orang apabila sudah tua, berumur 60 tahun, Allah mencabut udzurnya, maka tidak layak umur ini krcuali untuk memperbanyak istighfar, meningkatkan ibadah, dan menyiapkan akhiratnya, karena dia tidak bisa beralasan lagi di sisi Allah, karena Allah telah memanjangkan umurnya dan diberi kemampuan beribadah seperti keterangan ayat di atas.” (Umdatul Qari Syarh Shahih al-Bukhari 33/179)

PENYESALAN BAGI ORANG YANG TAKLID BUTA

Banyak orang yang sudah lanjut usia ketika diberi peringatan dan dibacakan al-Quran beralasan: “Kami mengikuti bapak-bapak dan kyai kami.” Ini berbahaya, karena manuisa meninggal dunia dihisab (diperhitungkan amalnya) oleh Allah , bukan kembali kepada bapak dan kyainya.

Taklid adalah mengikuti pendapat orang tanpa mengikuti dalilnya yang benar. Taklid hukumnya haram dan berbahaya di dunia dan di akhirat. Berbahaya di dunia, karena dia bingung dengan hawa nafsu dan membodohi dirinya. Berbahaya di akhirat karena orang dijadikan pijakan tidak bertanggung jawab dan tidak mampu menolak siksaan Allah sedikitpun yang menimpa kepadanya. Allah berfirman:

وَبَرَزُوا لِلَّهِ جَمِيعًا فَقَالَ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنتُم مُّغْنُونَ عَنَّا مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ ۚ قَالُوا لَوْ هَدَانَا اللَّهُ لَهَدَيْنَاكُمْ ۖ سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَجَزِعْنَا أَمْ صَبَرْنَا مَا لَنَا مِن مَّحِيصٍ

Dan mereka semua (di padang mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami adzab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar, sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri” (QS. Ibrahim  [14]:21)

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Kamu jangan taklid kepadaku, jangan taklid kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i, Imam ats-Tsauri, tetapi ambillah dari (tempat) mana mereka mengambil.” (Ibnul Qayyim dalam I’lamul muwaqqi’in: 2/302)

Imam Ahmad berkata, “Ittiba’ yaitu orang yang mengikuti apa yang didatangkan oleh Rasulullah dan sahabatnya, sedangkan orang sesudah mereka yaitu para tabi’in, mereka boleh memilihnya.” (Abu Dawud dalam Masail al-Imam Ahmad hlm.276-277)

Akhirnya, kita memohon kepada Allah:

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah jhatiku untuk berpegang kepada agama-Mu.”

_________________

Majalah Al-Furqon edisi: 120, Muharram 1433H Hlm. 4-11. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had al-Furqon al-islami, Srowo, Sidayu, Gresik, Jatim (61153). Disalin kembali oleh: dr.Halimah Chairunnisa