Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2018

KADAR BACAAN IMAM KETIKA SHALAT TARAWEH


Jika kita menengok ke belakang, di zaman terbaik dari sejarah kehidupan umat Islam, kita akan menemukan semangat dan kekuatan yang luar biasa dalam menunaikan ibadah shalat taraweh. Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:

كَانَ عُمَرُ قَدْ أَمَرَ أُبَيْ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيْمًا الدَّارِي أَنْ يَقُوْمَا بِالنَّاسِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فَكَانَ القَارِىء يَقْرَأُ بِالمِائَتَيْنِ فِي رَكْعَةٍ حَتَّى كَانُوْا يَعْتَمِدُوْنَ عَلَى العَصَى مِنْ طُوْلِ القِيَام وَمَا كَانُوْا يَنْصَرِفُونَ إِلَّا عِنْدَ الفَجْرِ وفي رواية: أَنَّهُمْ كَانُوا يَرْبطُوْنَ الحِبَالَ بَيْنَ السَوَارِي ثُمَّ يَتَعَلَّقُوْنَ بِهَا 

"Umar bin Khaththab memerintahkan Ubay bin Ka'ab dan Tamim ad-Dari untuk mengimami orang-orang pada bulan Ramadhan. Imam membaca dua ratus ayat dalam satu rakaat, sampai-sampai mereka harus bertumpu pada tongkat karena panjangnya berdiri. Dan mereka baru selesai menjelang fajar. Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka mengikatkan tali temali diantara dinding-dinding kemudian mereka bergelantungan dengan tali-tali tersebut." (Lathaiful Ma'arif: 316 cet. Dar Ibni Katsir, Beirut)

Demikian berlanjut ke generasi berikutnya yaitu zaman tabi'in, meski tidak sebanyak di zaman Umar. Mereka membaca surat al-Baqarah sempurna dalam delapan rakaat. Jika ada imam yang menyelesaikan surat al-Baqarah dalam dua belas rakaat maka mereka akan menganggap imam tersebut telah meringankan shalat. (Lihat: Lathaiful Ma'arif: 316)

Subnallahu, itulah potret generasi salafunas shalih. Akan tetapi, demikianlah perjalanan waktu. Zaman bergulir bersamaan dengan tergerusnya semangat manusia dalam menunaikan ibadah. Sehingga, jika seandainya hal itu juga dilakukan pada zaman sekarang tentu imam tidak punya teman. Paling satu dua orang saja yang sanggup, sedangkan kebanyakan jamaah lebih memilih shalat tarawih dirumah atau tempat lain karena memberatkan.

Dari sana perlu menimbang antara mashlahat dan mafsadat serta memperhatikan maqashid syar'iyah. Hukum terkadang bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman. Oleh sebab itulah patokan untuk panjang bacaan imam dalam shalat taraweh dikembalikan kepada kesanggupan jamaahnya. Sehingga berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lain. Inilah yang diterangkan oleh Al-Imam al-Faqih al-Kasani rahimahullah, ia mengatakan:

وَأَمَّا فِي زَمَانِنَا فَالأَفْضَلُ أَنْ يَقْرَأَ الإِمَامُ عَلَى حَسَبِ حَالِ القَوْمِ، فَيَقْرَأ قَدْرَ مَا لَا يُنَفِّرُهُم عَنِ الجَمَاعَةِ، لِأَنّ تَكْثِيْرَ الجَمَاعَة أَفْضَلُ مِنْ تَطْوِيْلِ القِرَاءَةِ.

"Adapun di zaman kita maka yang lebih afdhal adalah seorang imam membaca ayat sesuai dengan keadaan kaumnya (jama'ah). Ia membaca ayat dengan kadar yang tidak membuat mereka lari dari jama'ah. Karena, memperbanyak jumlah jama'ah lebih afdhal daripada memperpanjang bacaan." (Diterjemahkan dari Tweet Syaikh Dr. Abdul Aziz as-Sadhan hafizhahullah tanggal 21 Mei 2018)

Oleh sebab itu, bagi Anda yang menjadi imam pada shalat taraweh, perhatiankanlah kondisi jama'ah. Bacalah sesuai dengan kemampuan mereka. Jangan terlalu panjang sehingga membuat jamaah merasa berat untuk melakukan shalat taraweh berjama'ah. Zahir al-Minangkabawi

Rabu, 09 Mei 2018

YAZID BIN HARUN (KabaUrangDulu015)


Ahmad bin Sinan menuturkan tentang seorang sosok yang mulia. Teladan yang sangat layak bagi kita yang hidup di hari ini. Beliau mengatakan:

مَارَأَيْتُ عَالِماً قَطُّ أَحْسَنَ صَلَاةً مِنْ يَزِيْدَ بْنِ  هَارُوْن، يَقُوْمُ كَأَنَّهُ أُسْطُوَانَةٌ

"Aku belum pernah melihat alim seorang pun yang lebih baik shalatnya daripada Yazid bin Harun. Ia berdiri dalam shalatnya seperti tiang." (Munajjid Al-Khatib : 2/203) Alih bahasa: Rahmat, Padang

____________________

Kekhusyukan adalah ruh dari shalat. Makanya Allah mengandengkan antara perintah shalat dan perintah agar khusyu dalam mengerjakannya. Allah berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalatmu, dan peliharalah shalat wustha (Ashar). Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'. (QS. Al-Baqarah: 238)

Gerakan yang khusyu hanya akan timbul dari hati yang khusyu. Itulah yang terlihat dari potret salafus shalih, hati mereka benar-benar merasakan ruh dari shalat sehingga terbias dari gerakannya.

Bandingkan dengan kita, pernahkah kita shalat berdiri bagaikan tiang?! Yang ada malah seringnya kita bagaikan cacing yang terpanggang, terlebih jika imam membaca surat yang agak panjang. Kenapa?!  Tidak lain karena kita belum mampu menghadirkan hati dalam shalat kita sehari-hari. Semoga bermanfaat. Zahir al-Minangkabawi

Minggu, 06 Mei 2018

AS-SALAFUS SHALIH (KabaUrangDulu013)


Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam al-Kabair sebuah ucapan yang sangat berharga. Beliau mengatakan:

وَكَانَ بَعْضَ السَّلَفِ يَقُوْلُ : مَا فَاتَتْ اَحَدًا صَلاَةُ  الجَمَاعَةِ إِلَّا بِذُنُوْبِ اَصْحَابِهِ

Sebagian salaf terdahulu mengatakan: "Tidaklah seorang terluput dari shalat berjama'ah kecuali karena sebab dosa-dosanya." (al-Kabair: 31) Alih bahasa: Nunung Nuryani, Bogor

___________________

Ternyata, memang dosalah yang membuat kita menjadi lemah untuk beribadah, meski tubuh kuat dan kekar. Bukankah Allah telah berfirman:

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ، وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

Dan ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (QS. Al-Lail: 8-10)

Jumat, 04 Mei 2018

UMAR BIN AL-KHATHTHAB (KabaUrangDulu011)


Putranya Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma pernah menceritakan:

خَرَجَ عُمَرُ يَوْمًا إِلَى حَائِطٍ لَهُ فَرَجَعَ وَقَدْ صَلَّى النَّاسُ العَصْرَ فَقَالَ عُمَرُ : إِنَّ لِلَّهِ وَإِنَّ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ فَا تَتْنِيْ صَلَاةُ العَصْرِ بِالجَمَاعَةِ. أَشْهَدُكُمْ أَنَّ حَائِطِيْ عَلَى المَسَاكِيْنِ صَدَقَةٌ لِيَكُوْنَ كَفَارَةً لِمَا صَنَعَ عُمَرُ

"Suatu hari Umar keluar menuju kebun miliknya, dan ketika kembali dia mendapatkan bahwa orang-orang telah selesai melaksanakan shalat Ashar. Lalu Umar pun berkata: "Inna lillahi wainna ilaihi raji'un. Aku telah luput dari sholat Ashar berjama'ah. Persaksikanlah, bahwa kebunku itu adalah sedekah untuk orang-orang miskin, sebagai kafarat atas apa yang sudah dilakukan oleh Umar." (al-Kabair Imam adz-Dzahabi: 31) Alih bahasa: Eka Nurhasanah, Cileungsi

__________________

Begitulah potret generasi terbaik dalam hal menjaga shalat berjama'ah. Umar bin Khaththab menyedekahkan kebunnya karena ia menganggap bahwa kebun itu telah menyibukkan serta melalaikan dirinya dari shalat Ashar. Sementara shalat Ashar adalah shalat yang disebutkan oleh Allah secara khusus agar selalu dijaga. Allah berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalatmu, dan peliharalah shalat wustha (Ashar). Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'. (QS. Al-Baqarah: 238)

Kalau kita, bagaimana? Alih-alih seperti Umar dan shalat berjama'ah di masjid. Seringnya kita malah telat shalat Ashar, kemudian beralasan: "Tanggung, jam kerjanya belum selesai. Kerjaan tinggal dikit lagi." Bukankah begitu?!

Selasa, 17 April 2018

ANTARA KITA DAN SHALAT (Art.Salayok107)


Seberapa besarkah shalat di hati kita???  Sudahkah shalat itu menjadi bagian dari hidup di setiap helaan nafas?? Kita merasa tenang, ringan dan bahagia dengannya. Perhatian kita curahkan, ingat dengan waktu-waktunya. Bahkan, kita merasa rindu dan selalu menantikannya.

Ataukah sebaliknya??? Shalat bagaikan beban. Melaksanakan shalat hanya sebatas penggugur kewajiban. Tanpa ada perhatian, kita lebih memilih pergi menunaikan hajah, membeli ini dan itu, tepat beberapa saat sebelum waktu shalat masuk, hingga luputlah shalat berjamaah. Padahal, hajah itu bisa saja kita tunda sebentar sampai kita selesai menunaikan shalat.

Di dalam ash Shahihain dari sahabat Abu Barzah radhiyallahu anhu ia mengatakan:

َأَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْل العِشَاءِ وَالحَدِيْثَ بَعْدَهَا

"Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membenci tidur sebelum isya dan berbincang (tanpa faidah) setelahnya." (HR. Bukhari: 568, Muslim: 647)

Mengapa??? Agar kita lekas tidur sehingga bisa bangun lebih awal. Dapat shalat malam dan subuh berjamaah.

Sekarang, kita seringnya sengaja untuk menunda tidur, bukan untuk yang bermanfaat, hanya untuk berbincang, bercengkrama, atau menonton sinetron, kemudian paginya kita pulas saat muazdin mengumandangkan, "ash shalatu khairum minannaum."

Adil atau curangkah kita???  Saat kita berharap banyak kepada Allah, "Ya Rabbi, berikanlah aku ini, ini dan itu. Jadikanlah aku begini dan begitu." Akan tetapi, pada saat yang sama ketika Ia memanggil kita tak tergerak memenuhi panggilan-Nya. Seolah kita tidak punya telinga. Padahal, shalat itu adalah jalan kebahagian, sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ 

"Hal pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka sungguh ia telah sukses dan selamat. Sebaliknya, apabila rusak maka sungguh ia telah gagal dan merugi." (HR. Abu Dawud: 864, Tirmidzi: 413, an Nasa'i: 465)

Sebagai seorang muslim, coba tanyakan pada diri sendiri, di manakah ayat yang sering kita baca ini??

{فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)} [الماعون : 4-5]

"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya" (QS. Al-Ma'un: 4-5)

Jika seorang tidak memperhatikan shalatnya tidak ada lagi yang patut ia banggakan. Imam Hasan al Bashri mengatakan:

يَا ابْنَ آدَمَ أَيُّ شَيْءٍ يَعِزُّ عَلَيْكَ مِنْ دِيْنِكَ إِذَا هَانَتْ عَلَيْكَ صَلَاتُكَ وَأَنْتَ أَوَّلُ مَا تُسْأَلُ عَنْهَا يَوْمَ القِيَامَةِ

"Wahai anak Adam, apa yang berharga dari agamamu jika shalatmu saja tidak berharga bagimu?!  Padahal, pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepadamu pada hari kiamat nanti adalah shalatmu." (Al Kabair: 28 cet. Darul Fikr)

Balasan sesuai dengan amalan, sejauh mana kita menelantarkan shalat sejauh itulah kita akan ditelantarkan. Semakin tidak berharga shalat di mata kita semakin kita tidak berharga di sisi-Nya. Barang siapa yang terbiasa menunda shalatnya, maka ia harus siap tertunda dalam segala urusan dunia, terlebih akhiratnya.