Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juli 2018

PEMBANGKANG DAN KEPALA BATU


Mengikuti perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah jalan keberkahan dan kebahagiaan. Sebaliknya, menyelisihi dan kepala batu terhadap perintah beliau shallallahu alaihi wasallam adalah pokok kesengsaraan.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menceritakan: "Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah menjenguk seorang Arab Badui yang sedang sakit. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila menjenguk orang sakit biasa mendoakannya dengan: 'La ba'sa thahur in syaa Allah' (tidak mengapa, in syaa Allah sakit ini bisa menyucikan dari dosa-dosa). Lalu Nabi shallallahu alaihi wasallam pun mendo'akan Arab Badui tersebut; 'La ba'sa thahur in syaa Allah.' Namun orang itu justru mengatakan:

قُلْتَ طَهُوْرٌ؟! كَلَّا، بَلْ هِيَ حُمَّى تَفُوْرُ أَوْ تَثُوْرُ عَلَى شَيْخٍ كَبِيْرٍ تُزِيْرُهُ القُبُوْرَ

'Apa yang kau katakan? Thahur? Akan menyucikan dari dosa-dosa?! Tidak sama sekali, bahkan ini adalah demam panas yang menimpa seorang tua renta yang akan menghantarkannya ke dalam kubur.'

Lantas kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun mengatakan; 'Iya, tidak apa-apa kalau memang demikian yang kamu inginkan.'" (HR. Bukhari: 3616) Disebutkan dalam riwayat yang lain, "Lalu laki-laki itu akhirnya pun mati." (HR. Abdurrazzaq)

Itu adalah diantara contoh nyata akibat menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Menentang ajaran beliau dan tidak mau berittiba' kepadanya adalah kehinaan dan kerugian karena Allah berfirman:

 وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisa': 115)

Oleh sebab itu, berhati-hatilah jangan sampai menyelisi. Baca dan pelajarilah hadits-hadits beliau. Kalau tidak demikian, bisa jadi kita nanti memang tidak mengucapkan dengan lisan "menyelisihi sunnah beliau" tapi amal perbuatan kitalah yang menunjukkan akan hal itu, karena kita beramal tidak sesuai dengan tuntunan beliau shallallahu alaihi wasallam.


Kamis, 19 Juli 2018

LARI KENCANG DARI SYUBHAT



Penyakit ada dua jenis yaitu penyakit yang menyerang badan dan penyakit yang menyerang hati dan akal. Jenis kedua inilah yang lebih dikenal dengan "syubhat." Menyerang agama seseorang sehingga ia tak dapat lagi mengenali mana yang hak dan batil.

Penyakit syubhat ini jauh lebih berbahaya daripada penyakit yang menyerang badan. Maka dari itu, harus ekstra hati-hati. Terlebih di zaman ini, di saat semua orang bebas bicara dalam agama, tanpa batas, tanpa takut dan bahkan terkadang tanpa "rasa malu."

Hati-hatilah mengambil agama, karena sekarang banyak da'i penebar syubhat. Orang-orang yang lihai memoles hingga haram kelihatan halal, hak jadi batil dan sebaliknya. Tak perlu heran, karena memang sudah zamannya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala mengabari tentang kabut kerusakan di akhir zaman di antaranya beliau mengatakan:

دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا

"Para da’i (penyeru) yang mengajak ke pintu Jahannam. Siapa yang memenuhi seruan mereka maka akan dilemparkan ke dalamnya." (HR. Bukhari: 7084, Muslim: 1847)

Sekarang tugas kita yaitu berhati-hati, menghindari sumber-sumber penyebar syubhat. Menjauh dan lari sekencang-kencangnya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ

Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari: 5707)

Jika seandainya itu dalam hal kusta, penyakit yang menyerang badan, lantas bagaimana dengan "syubhat", penyakit yang menyerang pikiran dan agama?!

Tak usah "coba-coba", ingat bahwa hati kita ini lemah, maka jangan sembarangan mengambil ilmu agama nanti bisa terkena syubhat. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan:

يَرَوْنَ أَنَّ القُلُوْبَ ضَعِيْفَةٌ والشُبَهَ خَطَّافَةٌ

"Mereka (mayoritas ulama salaf) memandang bahwa hati itu lemah dan syubhat itu menyambar-nyambar.” (Siyar A’lamin Nubala‘: 7/261).

Oleh sebab itu, jangan gadaikan diri pada kebinasaan. Ektra hati-hatilah memilih rujukan ilmu agama. Jangan mentang-mentang ia hebat bicara, mahir beretorika, terkenal, lantas dijadikan rujukan. Berusaha keras dan berdo'a agar kita selamat dari para penyebar syubhat.

CINTA DAN BENCI PADA TEMPATNYA



Satu hal yang hilang dari sebagian besar kita umat Islam yang hidup di hari ini adalah kebencian kepada kekafiran dan kesyirikan. Seringkali kita salah menempatkan antara cinta dan benci. Kita malah membenci saudara kita sesama muslim kemudian mencintai orang-orang kafir dan menjadikannya sosok yang dikagumi.

Tidak sedikit diantara kita yang lebih tahu dan kenal dengan figur kafir dari kalangan aktor film, pemain sepakbola, pembalap, musisi, politikus, ilmuan serta inteleknya, dan seterusnya. Daripada figur teladan dari kalangan sahabat dan orang-orang shalih terdahulu.

Jika tidak percaya, silahkan ambil kertas dan pena, kemudian tulis nama-nama mereka. Yakin, kebanyakan dari kita lebih lancar untuk menuliskan list nama-nama tokoh kafir ketimbang nama sahabat dan orang shalih. 

Padahal, di antara pokok akidah Ahlussunnah wal Jama'ah adalah mencintai orang-orang yang beriman dan membenci orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Meskipun mereka adalah orang dekat. Tidak terbawa perasaan, jika memang jelas mereka memusuhi Allah dan Rasul-Nya maka mereka harus dibenci. Allah berfirman:

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. (QS. Al-Mujadilah: 22)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: "Said bin Abdul Aziz dan yang lain mengatakan, ayat ini diturunkan untuk Abu Ubaidah Amir bin Abdillah bin al-Jarrah radhiyallahu anhu ketika ia membunuh ayahnya di perperangan Badr. 

Karenanya Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu pada saat menetapkan pemilihan khalifah setelahnya berdasarkan musyawarah, ia mengatakan kepada enam orang ahlu syura tersebut:

وَلَوْ كَانَ أَبُوْ عُبَيْدَةَ حَيًّا لَاسْتَخْلَفْتُهُ

'Andaikata Abu Ubaidah masih hidup niscaya aku akan menjadikannya khalifah.'" (Tafsir al-Qur'an al-Azhim: 8/25)

Karena apa?! Karena Abu Ubaidah bin Jarrah dipuji oleh Allah serta direkomendasi bahwa ia memang seorang yang beriman kepada-Nya dan hari akhir. Karena ia meletakkan cinta dan benci pada tempatnya. Tak segan untuk memerangi ayahnya sendiri lantaran ayahnya jelas dan terang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Oleh sebab itu, sekarang mari memuhasabah diri. Sudah benarkah kita meletakkan antara cinta dan benci?! Jika memang kita masih menyenangi, mengidolakan musuh-musuh Allah yaitu orang-orang kafir maka segeralah berbenah, karena keimanan kita berada dalam tanda tanya besar. Jangan-jangan selama ini hanya status saja sedang kita tak paham dan tak kenal apa Islam itu yang sebenarnya.

Kamis, 28 Juni 2018

KAROMAH WALI


Berbicara tentang wali dan karomah maka di Indonesia ada banyak cerita. Karena memang masyarakatnya dikenal mudah menyematkan gelar wali kepada seorang yang mempunyai sesuatu luar biasa. Sampai-sampai kepada mereka yang sangat jauh dari agama. Tidak shalat, tidak puasa, bahkan orang gila yang tidak pakai baju pun ada yang dianggap wali.

Jika Anda mampu berjalan di atas bara api yang menyala, terbang di udara, menyeberangi sungai dengan berjalan di atasnya, maka Anda punya kesempatan masuk jajaran "wali Indonesia", karena Anda punya ilmu yang luar biasa, "karomah" kata mereka.  Akan tetapi, jika kita berbicara dalam prespektif Islam yang sesungguhnya, tentu urusannya jadi berbeda.

Mempercayai karomah wali-wali Allah adalah salah satu diantara pokok keyakinan ahlussunnah wal jamaah. Yang dimaksud dengan karomah, sebagaimana yang didefinisikan oleh para ulama, di antaranya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, beliau mengatakan:

وَالكَرَامَةُ هِيَ أَمْرٌ خَارِقٌ لِلْعَادَةِ ، يُجْرِيْهِ اللَّهُ تَعَالَى عَلَى يَدِ وَلِيٍّ ؛ تَأْيِيْدًا لَهُ، أَوْ إِعَانَةً، أَوْ تَثْبِيْتًا، أَوْ نَصْرًا لِلدِّيْنِ 

"Karomah adalah suatu yang menyalahi adat kebiasaan, yang diberikan oleh Allah kepada seorang wali, untuk menguatkan, membantu dan memberikan keteguhan kepadanya atau pertolongan bagi agama." (Majmu Fatawa wa Rasail Syaikh Ibnu Utsaimin: 8/626)

Itulah karomah yaitu sesuatu yang diluar kebiasaan. Akan tetapi yang perlu diingat, bahwa tidak semua sesuatu diluar kebiasaan lantas disebut karomah. Karomah hanya diberikan kepada wali Allah. Siapa wali Allah? Mereka adalah yang disebutkan oleh Allah mempunyai dua sifat. Allah berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ، الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada ketakutan atas mereka dan mereka juga tidak bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. (QS. Yunus: 62-63)

Maka jika ada seorang yang jauh dari agama, meninggalkan ajaran-ajaran agama, lalu mampu melakukan sesuatu diluar kebiasaan maka itu bukan karomah. Itu adalah tipuan setan, mereka bukan wali Allah tetapi walinya setan, meski mereka berjubah dan bersorban.

Jangan gampang tertipu dan mudah terpedaya dengan sesuatu yang terlihat luar biasa. Ingat pesan Imam Syafi'i rahimahullah:

إِِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى المَاءِ وَيَطِيْرُ فِي الهَوَاء؛ فَلَا تَغْتَرُّوْا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوْا أَمْرَهُ عَلَى الكِتَابِ وَالسُنَّةِ.

"Apabila kalian melihat ada seorang yang dapat berjalan di atas air atau terbang di udara maka jangan terpedaya dengannya  sampai kalian timbang ahwalnya dengan kitab al-Qur'an dan Sunnah." (Tafsir Ibnu Katsir: 1/233, tafsir surat al-Baqarah ayat 34)

Oleh sebab itu, kesesuaian amalan dengan al-Qur'an dan Sunnah merupakan salah satu timbangan penentunya. Ingat, karomah hanya milik wali Allah yaitu orang yang beriman dan bertakwa saja.

Rabu, 30 Mei 2018

PELAJARAN AKIDAH DARI SYARIAT MENYEGERAKAN BERBUKA


Miris memang, ketika kita melihat umat Islam yang ikut-ikutan meniru orang-orang non Islam. Baik dari model berpakaian, gaya bergaul, pola pikir, dst. Akhirnya, saat kita berada di tempat-tempat umum seperti pasar, bandara, terminal, jalanan, dst, kita tak dapat lagi membedakan antara muslim dengan yang bukan.

Padahal di dalam Islam salah satu syariat yang harus dipegang erat yaitu menyelisihi orang-orang kafir. Bahkan, kemulian serta kehinaan umat berbanding lurus dengan sikap umat Islam itu sendiri terhadap syari'at ini. Dalam banyak hal baik besar seperti akidah, maupun hal kecil.

Coba renungkan, dalam urusan berbuka puasa saja, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan kita untuk menyegerakannya. Tujuannya untuk apa?  Salah satunya adalah untuk menyelisihi orang-orang kafir. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ

Islam akan senantiasa jaya ketika manusia (kaum muslimin) menyegerakan waktu berbuka karena Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya.” (HR. Abu Daud: 2353, Shahih Abi Dawud: 2063)

Dalam hadits ini selain terdapat perintah menyegerakan berbuka untuk menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nasrani, terdapat pula keterangan sebab kejayaan dan kemuliaan Islam yaitu ketika pemeluknya menyelisihi kebiasaan orang-orang ahlul kitab tersebut. Artinya juga, bahwa sebaliknya sebab kehinaan umat Islam adalah ketika mereka tidak mau menyelisi atau malah mengikuti dan meniru mereka.

Para sahabat yang merupakan generasi terbaik dari umat ini memahami betul hal ini. Amr bin Maimun pernah mengatakan:

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا

"Para sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah orang-orang yang paling bersegera berbuka dan paling lambat (mengakhirkan) sahur." (Zadul Muslim: 4/568)

Sehingga karena sikap mereka itulah, mereka menjadi umat terbaik. Punya harga diri dan mulia. Sejarah kehidupan mereka tekenang manis sampai hari ini.

Sebenarnya ibadah puasa Ramadhan ini memberikan pelajaran tentang pentingnya menyelisihi orang-orang kafir. Seorang muslim punya harga diri dan kemulian, Islam lebih mulia dari apa yang ada pada mereka. Pantang untuk mengagumi, apalagi untuk meniru dan mengikuti mereka. Oleh sebab itu mari menyelisihi orang-orang kafir diantaranya dengan menyegerakan berbuka puasa. Zahir al-Minangkabawi

Selasa, 22 Mei 2018

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (KabaUrangDulu026)


Abdullah bin Utsman itulah nama beliau. Namun kita lebih mengenalnya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu. Khalifah pertama dan sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari Zaid bin Aslam, ia menceritakan bahwa ayahnya pernah mengatakan:

رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ الصَّدِيْقِ رَحِمَهُ اللّٰهُ آخَذَ بِطَرْفٍ لِسَانَهُ،
 فَقَالَ : هَذَا أَوْرَدَنِيْ المَوَارِدَ.

"Aku melihat Abu Bakar As-Shiddiq rahimahullah memegang ujung lisannya, kemudian mengatakan: 'Inilah yang mengantarkanku pada kebinasaan.'" (Kitabuz Zuhd Abu Dawud as-Sijistani: 55) alih bahasa atsar: Retno Palupi, Bekasi

____________________

Lisan, sebuah nikmat yang besar. Ia ibarat pisau bermata dua. Dapat memberikan manfaat dan juga sebaliknya dapat menjadi sebab kecelakaan dan penyesalan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari: 6478)

Oleh sebab itu, kunyah lebih dahulu sebelum ditelan. Pikirkan dengan matang apa yang akan kita ucapkan, karena ingat, bahwa lisan ini yang akan mendatangkan kebinasaan jika ia dibiarkan begitu saja.

Sabtu, 19 Mei 2018

IBRAHIM AN-NAKHA'I (KabaUrangDulu024)


Seorang tabi'in, guru dari Imam Abu Hanifah, yaitu Imam Ibrahim an-Nakha'i rahimahumullah, ia pernah mengatakan:

صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ يَوْمٍ، وَتَسْبِيْحَةٌ فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ تَسْبِيْحَةٍ وَرَكْعَةٌ فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ رَكْعَةٍ.

"Berpuasa satu hari di bulan Ramadhan lebih baik daripada berpuasa seribu hari, bertasbih satu kali di bulan Ramadhan lebih baik daripada bertasbih seribu kali dan satu rakaat shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu rakaat (di bulan lain)." (Latha'iful Ma'arif: 286) alih bahasa atsar: Elin Hermawati, Bogor

____________________

Pahala sebuah amalan terkadang menjadi berlipat ganda karena beberapa sebab. Di antaranya adalah kemuliaan suatu waktu. Bulan Ramadhan adalan bulan yang paling mulia dari bulan-bulan lainnya. Sehingga amal kebajikan pada bulan itu akan bernilai besar dan berlipat ganda dibanding bulan yang lain. Oleh sebab itulah dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda:

 عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

"Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan pahala haji." (HR. Bukhari: 1863, Muslim: 1256)

Sungguh berlipat ganda. Maka dari itu sangat rugi rasanya bilamana kita tak menyadari hal ini sehingga kita kehilangan banyak kebaikan. Oleh sebab iru, jangan biarkan bulan Ramadhan berlalu begitu saja. Mari bersemangat dan bersegera melakukan kebajikan, sekarang dan jangan tunda, karena kita tak tahu apakah masih hidup esok atau tidak. Zahir al-Minangkabawi

Jumat, 18 Mei 2018

PUASA BAGI MUSAFIR


Kadang kita tak habis pikir, mengapa semakin banyak saja orang yang menyukai jalan-jalan. Belakangan, sering terdengar istilah generasi millennials yaitu generasi yang lahir antara tahun 1985-1994M.

Salah satu ciri mereka adalah gemar traveling lintas negara. Dengan kata lain, generasi ini adalah generasi suka jalan-jalan. Padahal, se ”enak” apapun perjalanan tersebut tetap saja itu bagian dari adzab. Sebab Rasulullah pernah bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ

“Perjalanan itu adalah potongan (bagian) dari adzab.” (HR. Bukhari: 1804, Muslim: 1927)

Tapi biarlah generasi millennials itu, yang ingin kita bicarakan adalah kaitan antara safar dengan puasa. Sebab, mana tahu di bulan Ramadhan ini kita memiliki keperluan yang mengharuskan untuk melakukan safar, sebelum hal itu terjadi kita harus "baraja" dulu.

Salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada orang-orang yang sedang dalam perjalanan jauh (musafir) yaitu memberikan rukhsah (keringan) berupa boleh tidak berpuasa. Hanya saja, ternyata dalam hal ini ada perinciannya juga disebabkan keadaan musafir yang berbeda-beda.

Pertama, jika puasa sangat memberatkannya atau bahkan khawatir membahayakan dirinya, maka puasa haram baginya. Dengan kata lain ia wajib berbuka.

Dalilnya adalah hadits tentang kisah fathul makkah. Dimana kondisi sangat berat, sampai-sampai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbuka. Tapi, ada sebagian sahabat yang tetap memaksakan diri untuk puasa, sehingga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pun bersabda:

أُولَئِكَ الْعُصَاةُ أُولَئِكَ الْعُصَاةُ

“Mereka itu orang yang bermaksiat, mereka itu orang yang bermasiat.” (HR. Muslim: 1114)

Kedua, jika puasa tidak terlalu memberatkannya, maka berbuka lebih utama, sedangkan puasa dalam kondisi demikian dibenci karena dia berpaling dari keringanan Allah.

Ketiga, jika puasa sama sekali tidak memberatkannya maka hendaknya ia mengambil yang mudah, antara puasa atau berbuka. Sebab, Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah: 185)

Namun, ada satu pertanyaan manakah yang lebih afdhal? Berbuka atau puasa?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan (Syarh al-Mumthi’ 6/330): “Bila antara puasa dan berbuka sama-sama mudah, maka yang lebih utama adalah berpuasa, ditinjau dari empat alasan:

1. Mencontoh perbuatan Rasulullah, berdasarkan hadits Abu Darda’ yang mengatakan:

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ حَتَّى إِنْ كَانَ أَحَدُنَا لَيَضَعُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ

“Kami pernah berpergian bersama Rasullah di bulan Ramadhan ketika hari sangat panas, sampai ada seorang di antara kami meletakkan tangannya di atas kepala karena saking panasnya hari itu. Di antara kami tidak ada yang puasa kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah.” (HR. Bukhari: 1945, Muslim: 1122)

2. Lebih cepat melepaskan diri dari tanggungan

3. Lebih ringan, karena berpuasa bersama di bulan Ramadhan lebih ringan. Dan apa yang lebih ringan maka lebih utama.

4. Puasanya di bulan Ramadhan, sedangkan bulan Ramadhan lebih utama daripada bulan yang lain.”

Jadi, bagi Anda yang ingin melakukan perjalanan di bulan Ramadhan ini, pahami dulu baik-baik. Agar tidak salah mengambil tindakan. Semoga bermanfaat. Zahir al-Minangkabawi

BERPUASA TAPI MASIH SAJA MELONTARKAN TUDUHAN DUSTA (Art.Salayok113)


Hari-hari ini memang sedang panasnya tuduhan dusta dan cercaan kepada mereka yang berjenggot atau wanita yang bercadar akibat imbas dari kasus teroris beberapa hari belakangan.

Banyak orang yang kemudian termakan isu dan bisikan busuk setan-setan itu, sehingga lantas kemudian turut menghina dan memojokkan sebagian orang yang berpenampilan tidak seperti dirinya. Padahal dia muslim dan yang dia tuduh itu juga muslim atau muslimah.

Dengan mudah lidahnya berucap, tangan ringan untuk berkomentar dan menulis sesuatu yang tidak layak bagi seorang muslim apalagi dalam keadaan berpuasa. Ingatlah nasehat singkat dari sahabat mulia, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الطَعَامِ وَ الشَّرَابِ، وَلَكِنْ مِنَ الكَذِبِ وَالبَاطِلِ وَاللَّغْوِ

"Puasa itu tidak hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, juga menahan diri dari perkataan dusta, bathil dan sia-sia." (Mausu'ah Nadhratin Na'im: 2661) Alih bahasa atsar: Nurhapni Munthe, Jonggol

Inilah yang wajib kita ketahui dan harus selalu kita ingat. Agar kita tidak termasuk dalam kelompok besar manusia yang merugi itu. Berpuasa, tetapi mulutnya tidak henti-hentinya juga mengeluarkan barang busuk. Celakaan, hinaan, makian, tuduhan dusta, ghibah, dst.

Namun, kalau tidak mau berhenti dan menahan diri juga, ya silahkan saja. Tapi ingat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)

Sungguh rugi besar. Sebabnya kenapa? Tidak lain karena dua bibir dan daging tak bertulang itu. Mulut yang tidak dijaga dari sesuatu yang diharamkan Allah. Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumannya.” (HB. Bukhari: 1903)

Oleh sebab itu, kita yang mengaku muslim atau muslimah dan sedang berpuasa, maka tinggalkanlah semuanya. Baik hinaan dan tuduhan dusta secara langsung maupun dengan tulisan berupa komentar di akun media massa, tahan lisan kalau tidak mau puasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Zahir al-Minangkabawi

Kamis, 17 Mei 2018

SUFYAN ATS-TSAURI (KabaUrangDulu023)


Ustman bin Zaidah rahimahullah pernah menuturkan perihal nasehat yang disampaikan Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah kepadanya. Ia mengatakan:

كَتَبَ إِلَيَّ سُفْيَانُ الثَوْرِي : إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَصِحَّ جِسْمُكَ،  وَيَقِلَّ نَوْمُكَ، فَأَقِل مِنَ الْأَكْلِ

Sufyan ats-Tsauri pernah menuliskan pesan untukku: "Apabila kamu ingin memiliki badan yang sehat dan sedikit tidur maka kurangilah makan." (Jamiul Ulumi wal Hikam: 2/472) Alih bahasa: Ismianti, Bogor

__________________

Salafunas shalih menyadari betul hakikat hidup di dunia ini. Hidup hanya sekali, untuk menyiapkan bekal menuju perjalanan panjang bertemu Allah. Mereka sangat memahami Firman Allah:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian. (QS. Al-Hijr: 99)

Hidup ini adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah, maka sangat di sayangkan jika hidup hanya untuk banyak tidur. Oleh sebab itu, memperhatikan makanan supaya jangan berlebihan adalah satu hal yang dapat menyehatkan badan dan mengurangi tidur.

BAHAGIA SAAT YANG DINANTI TELAH TIBA


Oleh: Zahir al-Minangkabawi

YANG DINANTI

Ramadhan telah tiba. Menggoreskan kesan tersendiri bagi tiap-tiap orang. Berbeda antara satu dengan yang lain sesuai dengan harapan dan cara pandang masing-masing.

Sebenarnya, bulan ini sudah dinanti oleh banyak kalangan jauh-jauh hari. Karena ia setali mata uang dengan moment setelahnya. Apalagi kalau bukan lebaran idul fitri.

Anak-anak kelas satu sekolah dasar yang tinggal di asrama selalu bertanya-tanya. “Ustadz, bulan puasa masih lama ya? Berapa hari lagi?” “Memangnya kenapa?” Ustadznya balik bertanya. “Biar bisa pulang dan libur panjang, bisa mainan sepuasnya, Ustadz.” Jawab mereka dengan polosnya.

Mungkin adik-adik mereka juga bertanya pada mereka kapan bulan puasa datang. Kenapa? Sebenarnya, bukan bulan puasanya yang mereka tunggu tapi baju barunya. Untuk lebaran bersama teman-teman.

Para perantau, terutama di kota Jakarta dan sekitarnya, bahkan sudah pusing duluan. Berdebar-debar, antara bahagia dan khawatir jauh sebelum Ramadhan datang. Bagaimana tidak? Kebahagiaan mudik di akhir Ramadhan harus tercemari dengan kenyataan yang ada.  Tiket yang harus berebut jika tidak ingin kecewa .

Di lingkungan asrama pondok pesantren, temanya pun tidak jauh-jauh dari itu. Di mana-mana terdengar perbincangan seputar Ramadhan. Tapi kebanyakannya masih ada kaitannya juga dengan cerita di atas. Apa lagi kalau bukan masalah tiket; tiket kereta api, bus, kapal, dan pesawat terbang. Terutama tiket kereta. Maklum, pemesanan dibuka 90 hari sebelum keberangkatan. Sementara ia adalah favorit banyak kalangan. Tidak hanya orang-orang bawah, tapi menengah ke atas juga doyan. Makanya, kalau tidak pesan jauh-jauh hari, nanti bisa kehabisan.

Ibu-ibu rumah tangga juga ikut serta. Ramadhan sudah dinanti, siap dengan strategi serta skedul untuk menu berbuka dan makan sahur. Tidak lupa menu kue yang akan dibuat untuk hari lebaran yang akan menjelang.

Anak-anak muda tanggung yang sedikit “nakal” pun ikut menanti-nanti bulan ini. Bukan karena apa-apa, tapi karena prosesi bakar mercon di malam-malam bulan Ramadhan. “Meski menganggu banyak orang tapi ini mengasyikkan, siapa yang peduli.” Kata mereka.

Kalau para pedagang jangan ditanya. Bahkan mereka mengaharapkan semua bulan itu bulan Ramadhan. Sebab, omset di bulan itu sangat menjajikan. Terlebih sepuluh akhir, bisa berlipat ganda dari bulan-bulan biasa. Memang bulan Ramadhan punya daya tarik tersendiri bagi banyak kalangan. Makanya tidak heran selalu dinanti kedatangnannya.

APA MOTIVASINYA?

Mari berkaca pada kehidupan salafus shalih. Ternyata mereka juga menantikan kehadiran bulan Ramadhan.

Ma’la bin al-Fadhl menuturkan:

كَانُوْا يَدْعُوْنَ اللهَ تَعَالَى سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ يَدْعُوْنَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْهُمْ

“Mereka (salafus shalih) berdo’a kepada Allah selama enam bulan semoga Allah menyampaikan mereka pada bulan Ramadhan, lalu mereka berdo’a selama enam bulan berikutnya semoga amalan mereka di bulan itu diterima.”

Yahya bin Abi Katsir juga pernah berkata:

كَانَ مِنْ دُعَائِهِمْ: اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّم لِي رَمَضَان وَتَسْلِمهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا.

“Di antara do’a mereka (salaf shalih): ‘Ya Allah, selamatkanlah aku hingga Ramadhan, serahkanlah (berilah) Ramadhan kepadaku, dan terimalah amalanku di bulan itu.’” (Lathaif al-Ma’arif, cet. Dar Ibnu Hazm 1/148)

Sebenarnya ada apakah di bulan Ramadhan? Rasanya, tidak mungkin para salaf shalih dengan harapan sebesar itu motivasinya hanya karena bisa lebaran bersama keluarga di kampung halaman tercinta. Lantas apa?

INI SEBABNYA

Harus kita akui, mereka jauh lebih paham terhadap hakikat bulan Ramadhan daripada kita semua. Mereka tahu keutamaan besar bulan itu, hafal dan mengerti sabda-sabda Nabi berkenaan dengan hal itu. Mereka insaf bahwa Nabi kita pernah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari: 38 Muslim: 760)

Mereka pun tahu bahwa di bulan itu ada malam istimewa yaitu malam lailatul qadr yang dikenal sebagai malam terbaik dalam cerita kehidupan. Nilainya lebih utama dari seribu bulan. Selalu dinanti kehadirannya. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ

“Sesungguhnya bulan ini telah datang, di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan (dihalangi) dari malam itu maka sungguh ia telah diharamkan dari kebaikan semuanya." (HR. Ibnu Majah: 1644 dihasan shahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah 4/144)

Di bulan ini juga, pahala amal kebajikan dilipatgandakan. Persis seperti omset para pedagang. Hanya saja ini bukan perdagangan dunia tetapi perdagangan akhirat. Bahkan nilai kelipatannya hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Nah, ini dia alasannya. Siapa yang tidak rindu dengan kesempatan itu. Kesempatan untuk melebur dosa, membersihkan diri dari kotoran batin. Sekaligus merengkuh pahala besar untuk bekal menghadap Allah nanti di hari akhir.

MELURUSKAN NIAT

Oleh sebab itu, mari menata niat kembali. Menapaki jejak salaf shalih dalam menanti dan menyambut bulan suci ini.
Kebahagiaan kita berjumpa dengan Ramadhan bukan semata-mata karena libur panjang, baju baru, ramai-ramai lebaran, mudik bareng, atau THR. Tidak. Tetapi karena ia memiliki keutamaan, membuka kesempatan untuk memperbaiki diri bagi kita hamba yang lemah, tak berdaya dan banyak dosa ini.

Jangan biarkan ia berlalu begitu saja. Sambut dan manfaatkanlah kesempatan yang ada, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua. Bersungguh-sungguh dalam beribadah. Jangan sampai shalat tarawih atau ibadah lainnya justru luput karena sibuk menunggui loyang-loyang bolu dalam oven. Atau sibuk dengan persiapan mudik, dan seterusnya.

Mari menjadi pedagang-pedagang akhirat. Tawarannya sudah dibuka dengan harga yang luar biasa. Oleh sebab itu, jangan sampai Ramadhan ini lewat begitu saja karena sibuk mencari omset besar untuk perdagangan dunia saja. Marhaban ya Ramadhan, selamat datang, kami sangat merindukanmu. Wallahu a’lam bishshawab.

MENGHIDUPKAN BULAN RAMADHAN


Oleh: Zahir al-Minangkabawi hafizhahullah 

Bulan Ramadhan adalah bulan kebahagiaan, dikarenakan banyaknya pintu kebaikan yang ada di dalamnya. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada para sahabat dengan sabdanya:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa atas kalian. Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini juga, ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalangi dari kebaikannya maka sungguh ia terhalangi untuk mendapatkannya.” (HR. Ahmad 12/59)

Oleh sebab itu, bulan Ramadhan harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Menghidupkan siang dan malamnya dengan amal-amal kebajikan.

DI ANTARA AMALAN UNTUK MENGHIDUPKAN BULAN RAMADHAN

Pertama, makan sahur. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari: 1923)

Meski hukumnya tidak wajib, namun hendaknya kita berusaha untuk tidak meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Makan sahur itu penuh berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan walaupun hanya seteguk air. Sesungguhnya Allah dan Malaikatnya bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR. Ahmad: 11086)

Kedua, tidak melakukan perbuatan sia-sia dan meninggalkan perkataan kotor. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)

Apa sebabnya? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumannya.” (HB. Bukhari: 1903)

Ketiga, memperbanyak sedekah. Ibnu Abbas menuturkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Bulan dimana Jibril menemuinya pada setiap malam Ramadhan untuk mengajari al-Qur’an. Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari: 6)

Keempat, menyegerakan berbuka dan memberi makan orang yang berbuka. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari: 1957)

Dan jika mampu, jangan lupa untuk memberi makan orang lain yang berbuka karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberi makan orang yang berbuka, maka baginya pahala semisal pahala orang itu tanpa dikurangi dari pahalanya sedikit pun.” (HR. Tirmidzi: 807)

Kelima, shalat tarawih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa yang mengerjakan shalat malam di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari: 37)

Dan hendaknya mengerjakan shalat tarawih bersama imam, jangan pulang sebelum imam selesai. Berapa pun jumlah rakaatnya. Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ

“Barang siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, akan ditulis baginya shalat sepanjang malam.” (HR. Tirmidzi: 806)

Keenam, berinteraksi dengan al-Qur'an. Allah berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ 

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dan yang bathil. (QS. al-Baqarah: 185)

CARA INTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN

1. Banyak membacanya. Mu’adz bin Jabal radliyallaahu anhu menceritakan:

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ: أَيُّ الْجِهَادِ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا. قَالَ: فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ: أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذِكْرًا 

“Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah kemudian bertanya: “Jihad apakah yang paling besar pahalanya?” Rasulullah menjawab: “Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah.” Kemudian orang itu bertanya lagi: “Siapakah orang yang berpuasa yang paling banyak pahalanya?” Rasulullah menjawab: “Mereka yang paling banyak dzikirnya kepada Allah.”’

Para ulama telah menjelaskan bahwa dzikir yang paling utama adalah membaca al-Quran. Kenapa? Karena membaca al-Qur’an mengandung obat bagi hati serta penyembuh segala penyakit. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

Oleh sebab itu, memperbanyak membaca al-Quran dan mempelajari al-Qur’an dibulan ini termasuk amalan yang sangat dianjurkan. Bahkan, Malaikat Jibril selalu datang setiap malam Ramadhan untuk mengecek dan membacakan al-Qur’an kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam.

2. Mengamalkan dan merenungi kandungannya.

Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an adalah sebagai pentunjuk bagi umat manusia. Bagaimana seorang akan mendapat pentunjuk jika ia tidak mau merenungi dan mengamalkan kandungan al-Qu’an.

Abu Abdirrahman as-Sulami menceritakan: “Dahulu para sahabat Nabi mengajarkan kami al-Qur’an, semisal Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud dan yang lainnya, mereka jika belajar sepuluh ayat, tidak pindah hingga mengamalkannya. Mereka belajar dan mengamalkan al-Qur’an bersamaan.” (Syarh Muqaddimah Tafsir hal. 22)

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS. Shad: 29)

Bahkan Allah mencela orang-orang yang tidak mau merenungi dan mempelajari al-Qur’an:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad: 24)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengatakan:

“Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang yang tidak mentadaburi al-Qur’an dan mengisyaratkan bahwa hal itu termasuk tanda terkuncinya hati dan terhalanginya kebaikan dari mereka.” (Ushul fi Tafsir hal. 25)

Demikianlah beberapa amalan untuk menghidupkan bulan suci ini. Semoga bermanfaat.

USIA BAGI ORANG YANG BERIMAN



Oleh: al-ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron hafizhahullah

Sebagian ulama berkataberkata: “Usia adalah modal hidup seorang hamba, ia membelanjakan untuk dirinya, walaupun banyak, pada hakikatnya sedikit, walaupun umurnya panjang hakikatnya pendek, cita-cita manusia terputus dengan kematiannya.” Dari sinilah Islam menganjurkan kita agar segera beramal shalih dan tidak boleh menyia-nyiakan waktu tanpa ada manfaat untuk akhiratnya walaupun hanya sebentar. (Fatawa Ulama Azhar: 10/331)

Abu bakar pernah berkhutbah, “Ketahuilah wahai hamba Allah! Kalian hidup pada waktu pagi dan sore. Kalian tidak tau ajal kalian. Jika kalian mampu menggunakan umurmu untuk beribadah kepada Allah, tentunya kalian tidak akan mampu tanpa pertolongan Allah, maka bersegeralah beramal shalih waktu hidupmu sebelum berakhir ajalmu, agar kamu tidak mengakhiri hidupmu dengan kejahatanmu.” (Hilyatul Auliya: 1/17)

Dari Ibnu Umar beliau berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda:

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.’”

Ibnu umar berkata, “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhari: 21/268)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh berkata:

"Jika manusia mau memahami hadist ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realita. Sesungguhya manusia (Nabi Adam) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Allah adalah surga.

Sesungguhnya adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engaku mau merenungkan hal ini maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prisip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan olah Nabi.

Betapa indah perkataan Ibnul Qayyim ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena Iblis telah menawan bapak kita Adam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak. Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan seorang penyair:

Palingkan hatimu pada apa saja yang kamu cintai.Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu. Yaitu Allah jalla wa’ala. Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seorang. Dan selamanya kerinduan hanya pada tempat tinggal yang semula, yaitu surga. (Hadits Arba’in no.40 oleh Abu Fatah Amrullah)

Orang yang rugi adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya untuk perkara yang tidak diridhai oleh Allah. Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ

Katakanlah: “sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar [39]:15)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Dia merugikan dirinya sendiri, karena dia tidak bisa mengambil faedah sedikitpun dari umurnya, dan rugi pula keluarganya walaupun mereka orang yang beriman, mereka di surga, tetapi tidak bisa bersenang-senang dengan mereka di akhirat apabila mereka masuk di neraka.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibn Utsaimin: 9/95)

SA'ID BIN MUSAYYIB (KabaUrangDulu022)



Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, diriwayatkan dari seorang tabi'in yang mulia Sa'id bin Musayyib rahimahullah, bahwa ia pernah berkata:

مَنْ هَمَّ بِصَلَاةٍ، أَوْ صِيَامٍ، أَوْ حَجٍّ، أَوْ عُمْرَةٍ، أَوْ غَزْوٍ، فَحِيْلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذٰلِكَ، بَلَّغَهُ اللّٰهُ تَعَالَى مَانَوَى.

"Barang siapa yang berniat untuk shalat, puasa, haji, umrah atau berperang kemudian ada penghalang antara dia dengan yang ia niatkan maka Allah akan (menyampaikannya) memberikan pahala atas apa yang di niatkan." (Jami'ul Ulumi wal Hikam: 2/320) Alih bahasa atsar: Elin Hermawati, Bogor
________________________

Itulah kemurahan Allah subhanahu wata'ala kepada para hamba-Nya. Niat dan tekad yang kuat untuk melakukan kebaikan, itulah yang tidak boleh kita lupakan. Sebab Allah memang Maha Pemurah, memberikan ganjaran pahala terhadap niat-niat itu, meski belum melakukannya.

Apabila niat baik itu terwujud melalui perbuatan maka akan dibalas minimalnya sepuluh pahala dan maksimalnya tak terhingga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

"Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan kejahatan, kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berniat kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat lantas ia amalkan, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan, bahkan lipatganda tidak terbatas. Barang siapa yang berniat melakukan kejahatan kemudian tidak jadi ia amalkan, Allah menulis satu kebaikan sempurna disisi-Nya, dan jika ia berniat jahat lalu ia lakukan maka Allah menulisnya sebagai satu kejahatan saja." (HR. Bukhari: 6491, Muslim: 131)

Oleh sebab itu, sekecil apapun niat untuk berbuat kebaikan, niatkanlah, karena Allah Maha Pemurah.

Rabu, 16 Mei 2018

MARHABAN YA RAMADHAN (RMD Art.010)


Alhamdulillah, itulah kata yang pantas kita ucapkan. Bagaimana tidak, ternyata Allah masih berkenan menyampaikan kita pada bulan Ramadhan. Tentu, hal itu adalah sebuah kebahagiaan bagi kita semua. Dan yang menambah kebahagiaan kita itu, kebersamaan mengawali bulan Ramadhan. Mudah-mudahan ke depan hal ini selalu terjaga, di bumi persada yang kita cintai ini.

Salah satu sunnah adalah bergembira sekaligus memberikan kabar gembira kepada orang lain dengan kedatangan bulan Ramadhan. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada sahabat-sahabatnya dengan sabdanya:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

“Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan puasa atas kalian. Pada bulan ini, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan ini juga, ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalangi dari kebaikannya maka sungguh ia terhalangi untuk mendapatkannya.” (HR. Ahmad 12/59)

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan: “Sebagian ulama mengatakan bahwa hadits ini adalah dalil bolehnya mengucapkan selamat antara sebagian manusia kepada yang lain berhubungan dengan datangnya bulan Ramadhan. Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak gembira dengan dibukanya pintu surga?! Bagaimana tidak bergembira orang yang berdosa dengan ditutupnya pintu neraka?! Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira dengan waktu yang setan dibelenggu pada saat itu, waktu mana yang menyerupai waktu saat itu?!” (Lathaiful Ma’arif hal.279)

Oleh sebab itu, mengawali bulan suci ini kami mengucapkan: "Marhaban ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1439 H. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita dalam beribadah kepada-Nya di bulan suci ini serta menerima amalan kita tersebut. Amin." Zahir al-Minangkabawi

Selasa, 15 Mei 2018

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (KabaUrangDulu021)


Manusia termulia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sahabat agung yang memiliki banyak keutamaan; Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah mengatakan:

لَا خَيْرَ فِيْ قَوْلٍ لاَ يَرَادُ بِهِ وَجْهُ اللهِ، وَ لَا خَيْرَ فِيْ مَالٍ لَا يُنْفَقُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ يَغْلِبُ جَهْلُهُ حِلْمَهُ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ يَخَافُ فِيْ اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"Tidak ada kebaikan pada ucapan yang tidak mengharapkan wajah Allah. Dan tidak ada kebaikan pada harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan pada seseorang yang kebodohannya mengalahkan sifat santunnya. Dan tidak ada kebaikan pula pada seseorang yang takut akan celaan manusia padahal ia berada di jalan Allah." (Kitabuz Zuhd Abu Dawud as-Sijistani: 51) alih bahasa atsar: Siti Rismiati, Cileungsi

__________________

Demikianlah nasehat singkat sabahat mulia. Hidup ini adalah untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wata'ala. Oleh sebab itu, tapakilah selalu jalan yang benar, jangan berpaling ke kiri atau ke kanan. Setelah itu, beristiqamah dan jangan pedulikan lagi celaan dan cibiran manusia. Ingat bahwa Allah pernah berfirman:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ 

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS. Al-Maidah: 53)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda tentang golongan yang selamat:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ 

"Akan senantiasa segolongan dari umatku mengerjakan perintah Allah, mereka tidak termudharati oleh orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah." (HR. Muslim: 1037)

Benar kata orang-orang bijak dahulu, "Jika engkau berada di atas kebenaran, teruslah berjalan. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu." zahir

Senin, 14 Mei 2018

MEMAKLUMI DAN MENYADARI KEBAIKAN SUAMI (WasiatUntukIsteri01)


Oleh: al-Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron hafizhahullah

Hal ini sangat penting disadari oleh isteri bahwa Allah menyuruh kaum pria agar berbuat baik kepada isterinya. Ridha mencurahkan waktu, tenaga dan hartanya untuk berbuat baik kepada isterinya. Maka hendaknya isteri tidak mengingkari kebaikan suami, serta tidak mencelanya, karena perkara ini yang menyebabkan pasutri tidak nyaman hidupnya di dunia, dan berakibat isteri masuk neraka. Naudzu billah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada saat khutbah 'id menghadiri jamaah wanita lalu bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّار فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

"Wahai sekalian wanita, bersedekahlah! Karena aku diperlihatkan bahwa kalian adalah kebanyakan penduduk neraka." Mereka bertanya: "Mengapa demikian wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Karena kalian sering melaknat (mencaci) suamimu dan mengingkari kebaikannya." (HR. Bukhori: 293)

Hadits ini juga menunjukkan isteri hendaknya menjaga lisannya, tidak menyakiti hatinya dengan perbuatannya yang keji.

ANTARA ORANG BAWAH DAN ORANG ATAS (RMD Art.009)


Mendekati penghujung bulan Sya’ban, selalu saja membuat kita berdebar-debar. Bukan karena apa-apa, tapi karena penetapan awal Ramadhan di negeri kita masih saja belum ada titik temunya. 

Tidak jarang, awal Ramadhan jadi berbeda. Yang ini hari ini, yang itu esok hari. Siapa yang jadi korban? Siapa lagi kalau bukan orang-orang bawah. “Ikut yang mana ya? Yang ini apa yang itu?” Orang bawah jadi bingung sendiri. 

Tapi, Alhamdulillah agama kita telah memberikan solusi kepada kita sebagai rakyat biasa; “orang-orang bawah” ini. Penetuan awal Ramadhan itu urusannya orang-orang atas, dan tentunya orang atas yang sah, yaitu ulil amri. Sedangkan, tugas kita hanya mengikuti sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

 الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

“Hari puasa adalah ketika kalian semua berpuasa. Hari raya Idul Fitri adalah ketika kalian semua berhari raya Idul Fitri. Hari raya Idul Adha adalah ketika kalian semua berhari raya Idul Adha.” (HR. Tirmidzi: 697, ash-Shahihah: 224)

Artinya, tugas kita hanya mengikuti keputusan orang-orang atas tadi. Sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’: 59)

Oleh sebab itu, jika Anda “orang atas” maka berusahalah untuk memberikan yang terbaik bagi umat, mewujudkan Maqashidush Syari’ah dari puasa, yaitu salah satunya sebagai syi’ar kebersamaan umat Islam. Dan jika Anda “orang bawah,” jangan naik ke atas nanti “jatuh” bisa membahayakan orang lain. Kalau yang jatuh Anda sendiri, ya ndak terlalu masalah. Tapi kenyataannya Anda juga menyeret orang banyak, ini yang masalah.

Singkatnya, tempatkan diri pada posisi masing-masing. Kalau kita orang bawah tidak perlu bingung ikut yang mana. Ikuti saja tuntunan Nabi kita shallallahu alaihi wasallam. Semoga bermanfaat. Zahir al-Minangkabawi

SALAFUS SHALIH (KabaUrangDulu020)


Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menyebutkan bahwa ada di antara salafus shalih yang dahulu pernah mengatakan:

أَدْرَكْتُ قَوْمًا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ عُيُوْبٌ، فَذَكَرُوْا عُيُوْبَ النَّاسِ، فَذَكَرَ النَّاسُ لَهُمْ عُيُوْبًا.  وَأَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَتْ لَهُمْ عُيُوْبٌ، فَكَفُّوْا عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ  فَنُسِيَتْ عُيُوْبُهُمْ

"Aku mendapati suatu kaum yang tidak punya aib sama sekali, lalu mereka menyebut-nyebut aib orang lain, maka orang lain pun menyebut-nyebut aib mereka.  Dan aku juga mendapati kaum lain yang memiliki banyak aib, namun mereka menutupi aib-aib orang lain maka aib mereka pun dilupakan orang." (Jami'ul Ulum Wal Hikam: 2/291) Alih bahasa atsar: Rahmat, Padang

____________________

Siapa dia antara kita yang ingin aibnya terbongkar dan diketahui oleh orang-orang. Semua kita ingin agar aib-aibnya terkubur bersama berjalannya waktu, sehingga tak seorang pun yang tahu. Dan ternyata, cara terbaik untuk mendapatkan hal itu adalah dengan menutupi aib-aib orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim: 2699)

Karena memang balasan sesuai dengan amal yang telah dilakukan. Oleh sebab itu, pejamkan mata, sumbat telinga dan jaga hati, untuk menutupi aib saudara kita yang lain. Zahir al-Minangkabawi

BOM MELEDAK SEBELUM BULAN RAMADHAN


Untuk kesekian kalinya, bom meledak di bumi pertiwi. Menghilangkan nyawa dan mengalirkan darah manusia. Membunuh diri untuk membunuh orang lain. Merusak suasana hati, karena hari-hari ini adalah hari menanti dan mempersiapkan diri menyambut tamu yang mulia, bulan Ramadhan.

Siapa pun yang melakukannya, maka Islam berlepas diri dari mereka. Jika itu orang yang mengaku muslim, maka tentu mereka bukan muslim yang sesungguhnya.Karena Islam bukan agama radikal, muslim bukan teroris. Mengapa? Karena Rabb mereka telah jelas berfirman:

وَلاَتَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّباِلْحَقِّ

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al-An’am: 151).

Dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi rahimahullah bahwa: "Ayat ini adalah larangan membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah baik dari kalangan kafir musta’man atau kafir mu’ahad kecuali dengan sebab yang dapat dibenarkan.” (Jami’ul Ahkamil Qur'an: 9/109 cet.Muassasah ar-Risalah)

Karena itulah, barang siapa yang mengaku muslim atau muslimah kemudian membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah maka ia akan mendapatkan balasan yang sangat pedih. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ رِيحَهَا تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

"Barangsiapa yang membunuh seorang kafir mu’ahad, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari perjalanan sejauh 40 tahun.” (HR. Bukhari no.3166)

Disamping itu, membunuh diri sendiri juga dilarang dan dikecam keras dalam syariat Islam. Allah subhanahu wata'ala berfirman:
 
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﺍ ﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻜُﻢْ ﺭَﺣِﻴﻤًﺎ

“Dan janganlah kamu membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.“ (QS. An-Nisaa: 29)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَتَوَجَّأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi tajam maka besi itu diletakkan di tangannya, ditusukkan ke perutnya di neraka jahannam dia kekal di dalamnya.” (HR. Bukhari: 5778, Muslim: 109)

Dari sana, maka tampaklah bahwa bom bunuh diri, membunuh orang lain non muslim, bukan ajaran Islam. Islam berlepas diri dari mereka. Oleh sebab itu, jika memang para pelakunya mengaku muslim maka jangan sampai menjelekkan dan memojokkan agama Islam. Cukup orangnya saja karena agama Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan hal yang demikian.