Tampilkan postingan dengan label Kaba Urang Dulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaba Urang Dulu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2018

SALAFUS SHALIH - MENGHARAPKAN AR-RAYYAN


Disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah, bahwa sebagian orang-orang shalih terdahulu mengatakan sebuah ungkapan indah yang dapat dijadikan pedoman bagi seorang yang menginginkan kesuksesan yang sejati. Mereka mengatakan:

طُوْبَى لِمَنْ تَرَكَ شَهْوَةً حَاضِرَةً لِمَوْعِدٍ غَيْبٍ لَمْ يَرَهُ

"Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya, karena mengharap janji Allah yang tidak tampak di hadapannya." (Lathaif al-Ma'arif: 288) alih bahasa: Rahmat, Padang

_____________________

Kebanyakan dari balasan baik itu bersifat tertunda dan tidak dapat diindra. Karena hikmah yang besar yaitu untuk memisahkan antara orang-orang yang benar-benar beriman terhadap yang ghaib dengan mereka yang hanya bisa mengucapkan dengan lisan.

Seorang muslim sejati berpuasa karena perintah sekaligus mengharapkan janji Allah, bukan karena terbawa suasana dimana orang-orang sekitarnya berpuasa. Ia meninggalkan syahwat makan, minum,  dst, karena mengharap dapat masuk surga melalui sebuah pintu yang bernama Ar-Rayyan.

Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut ar-rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain mereka tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa.” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika mereka telah memasukinya, maka akan tertutup sehingga setelah itu tidak ada seorang pun yang memasukinya” (HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152).

Di dalam riwayat yang lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ

“Surga memiliki delapan buah pintu. Di antara pintu tersebut ada yang dinamakan pintu Ar Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa” (HR. Bukhari no. 3257).

Jadi, beginilah seorang muslim atau muslimah sejati. Tergiur dengan ganjaran yang telah dijanjikan. Mereka adalah orang-orang cerdas, mengorbankan kenikmatan yang sedikit dan semu untuk mendapatkan kenikmatan yang besar dan abadi. Berpuasa bukan karena ikut-ikutan namun karena keimanan dan mengharap balasan ilahi. Zahir al-Minangkabawi

Rabu, 30 Mei 2018

IMAM MUJAHID - GHIBAH DAN DUSTA SAAT BERPUASA


Imam Mujahid rahimahullah, salah seorang ulama rujukan dalam tafsir di zaman tabi'in. Beliau rahimahullah pernah mengatakan:

خَصْلَتَانِ مَنْ حَفِظَهُمَا سَلِمَ لَهُ صَوْمُهُ : الغِيْبَةُ والكَذِبُ

"Ada dua kebiasaan buruk yang barang siapa menjaga diri darinya maka puasanya akan selamat yaitu bergunjing serta berdusta." (Umdatul Qari': 10/394) alih bahasa atsar: Fahmi Idris, Bekasi
___________________

Puasa itu bisa rusak dan bahkan bisa jadi tidak memberikan apa-apa selain rasa lapar dan dahaga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

Betapa banyak orang berpuasa yang tidak ada bagian dari puasanya kecuali hanya lapar semata.” (HR. Ibnu Majah: 1690)

Apa sebabnya? Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan amalannya, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumannya.” (HB. Bukhari: 1903)

Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan ghibah dan perkataan dusta, karena keduanya adalah sebab rusaknya puasa kita.

Senin, 28 Mei 2018

SYAIKH ABDURRAHMAN AS-SA'DI (KabaUrangDulu030)


Adakah rasa belas kasih di hati kita? Lihat tandanya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-sa'di rahimahullah mengatakan:

وَعَلاَمَةُ الرَّحْمَةِ المَوْجُوْدَةِ فِيْ قَلْبِ العَبْدِ أنْ يَكُونَ مَحِّبًا لِوصُولِ الخَيْرِ لِكَافَّةِ الخَلْق عُمُومًا، وَلِلمُؤمِنِينَ خُصُوصًا، كَارَهًا حُصُولَ الشَرِّ وَالضَّرَرِ عَلَيهِمْ

"Tanda adanya belas kasih di hati seorang hamba, ia senang berbuat baik kepada semua makhluk, terutama kepada orang-orang mukmin, dia benci berbuat buruk dan menyakiti mereka." (Bahjah Qulubil Abrar: 170) alih bahasa atsar: Muliani

____________________

Seperti satu tubuh, demikianlah perumpamaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bagi sesama orang mukmin dalam hal kasih sayang dan kecintaan mereka. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Permisalan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, kasih sayang,  dan rasa simpati mereka seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuhnya merasa sakit maka semuanya akan turut  terjaga semalaman dan merasa panas demam." (HR. Bukhari: 5665, Muslim: 2586)

Seorang mukmin, ketika melihat saudaranya, ia melihat dengan padangan kasih sayang. Jika saudaranya terjerumus dalam maksiat ia bukan malah menjauhi serta berlaku kasar padanya. Akan tetapi, justru sebaliknya, ia dekati kemudian ia bantu agar saudaranya dapat kembali.

Ingat, bahwa kita ingin menjadi hamba terbaik. Menjadi orang shalih dan mushlih yaitu menjadi pribadi yang baik sekaligus memperbaiki. Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Terlalu egois, jika kita hanya memikirkan diri sendiri kemudian tidak peduli. Hidup di dunia hanya sekali, jadikanlah ia lebih berarti.

Minggu, 27 Mei 2018

IBNUL MUNKADIR


Muhammad bin al-Munkadir,  seorang imam yang pernah dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah sebagai sayyidul qurra' (w: 130H), beliau yang dikenal dengan Ibnul Munkadir rahimahullah pernah mengatakan:

الصَائِمُ إِذَا اغْتَابَ خَرَّقَ، وَ إِذَا اسْتَغْفَرَ رَقَعَ 

"Seorang yang sedang berpuasa jika mengumpat dan memfitnah maka dia telah menyobek, apabila dia beristighfar maka ia telah menambalnya." (Jamiul Ulumi wal Hikam: 803) alih bahasa atsar: Ismianti, Bogor

_________________

Puasa itu adalah perisai, yang akan melindungi dan menghalangi seorang dari perbuatan maksiat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ

"Puasa adalah perisai, maka jangan mengatakan ucapan yang keji dan melakukan perbuatan bodoh. Bilamana ada seorang mengajak bertengkar dan mencaci maki maka katakanlah: 'Aku sedang berpuasa.'" (HR. Bukhari: 1894)

Karena ia perisai, makanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan seorang yang sedang puasa untuk menjaga lisan dan menahan emosinya agar perisainya itu tidak rusak.

Oleh sebab itu, jagalah perisai itu jangan sampai ia rusak dan berlubang. Jaga lisan agar tidak menfitnah, mengumpat, dst, tahan emosi. Jika terlanjur mengucapkan perkataan yang tidak pantas, segeralah untuk bertaubat dan beristighfar agar perisai itu kembali tertambal.

Kamis, 24 Mei 2018

IMAM SYAFI'I DAN KEDERMAWANAN DI BULAN RAMADHAN (KabaUrangDulu028)


Muhammad bin Idris, itulah nama dari Imam Asy-Syafi'i. Hafalkan nama beliau, karena sekarang banyak orang yang mengaku-ngaku mengikuti madzhab Syafi'i namun jangankan membaca kitab-kitab beliau, nama beliau saja tidak mereka kenal. Akhirnya terjadilah yang terjadi. Mengaku bermadzhab syafi'i akan tetapi amalan mereka sangat jauh menyimpang dari madzhabnya Imam Syafi'i yang sebenarnya.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam sebuah petikan kalimatnya berkaitan dengan bulan Ramadhan, beliau menuturkan:

أُحِبُّ لِلرَّجُلِ الزِّيَادَةَ بِالجُوْدِ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ إِقْتِدَاءً بِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمُ وَلِحَاجَةِ النَّاسِ فِيْهِ إِلَى مَصَالِحِهِمْ وَلِتَشَاغُلِ كَثِيْرٍ مِنْهُمْ بِالصَّوْمِ والصَّلَاةِ عَنْ مَكَاسِبِهِمْ

"Aku suka, hendaknya seseorang itu bertambah kedermawanannya di bulan Ramadhan guna meneladani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan karena kebutuhan manusia akan hal itu untuk kemaslahatan hidup mereka serta karena tersibukkannya kebanyakan mereka dengan puasa dan sholat dari pekerjaan (urusan dunia)." (Lathaiful Ma'arif: 315) alih bahasa atsar: Nunung Nuryani, Bogor
__________________________

Benar, sungguh sangat dianjurkan untuk menjadi orang yang lebih dermawan,  bersedekah menyisihkan sebagian harta di bulan Ramadhan yang mulia. Rasullullah shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang sedekah yang paling afdhal, maka beliau menjawab:

أَفْضَلُ الصَدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ

"Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan." (HR. Tirmidzi: 663)

Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, beliau adalah sosok yang dermawan, dan bertambah kedermawanan beliau itu tatkala di bulan Ramadhan. Ibnu Abbas radhiyallahu anhu menuturkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ (أَجْوَدَ) مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Bulan dimana Jibril menemuinya pada setiap malam Ramadhan untuk mengajari al-Qur’an. Rasulullah lebih dermawan dalam kebaikan dari pada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari: 6)

Oleh sebab itu, jadilah seperti angin yang berhembus, menjadi lebih dermawan di bulan Ramadhan. Banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Jangan tunda, karena kita tidak tahu apakah masih akan merasakan bulan Ramadhan berikutnya ataukah tidak.

Rabu, 23 Mei 2018

IMAM AZ-ZUHRI (KabaUrangDulu027)


Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullah, seorang imam dalam hadits dan termasuk generasi tabi'in. Disebutkan oleh para ulama tentang apa yang beliau lakukan pada saat masuk bulan Ramadhan, di antaranya yaitu apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah:

وَكَانَ الزُّهْرِيُّ إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ قَالَ؛ فَإِنَّمَا هُوَ تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ، وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ

"Dahulu Az-Zuhri ketika masuk bulan Ramadhan mengatakan: Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan membaca al-Qur'an dan memberi makan.'" (Lathaiful Ma'arif :318) alih bahasa atsar: Hendri

_________________

Bulan panen pahala bagi orang yang benar sungguh dan jujur dengan niatnya. Disamping berpuasa dan amalan wajib lainnya, disyari'atkan memperbanyak membaca al-qur'an dan memberi makan kepada orang lain, terutama untuk santapan berbuka mereka. Karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barang siapa yang memberi makan seorang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala semisal pahala orang itu tanpa dikurangi dari pahalanya sedikit pun.” (HR. Tirmidzi: 807)

Oleh sebab itu, bagi Anda yang berkelapangan rezki, ini adalah bulan untuk meraup keuntungan besar. Jangan sia-siakan, berikan makanan pada orang yang sedang berpuasa agar Anda mendapatkan pahala semisal pahala mereka.

Selasa, 22 Mei 2018

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (KabaUrangDulu026)


Abdullah bin Utsman itulah nama beliau. Namun kita lebih mengenalnya dengan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu. Khalifah pertama dan sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari Zaid bin Aslam, ia menceritakan bahwa ayahnya pernah mengatakan:

رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ الصَّدِيْقِ رَحِمَهُ اللّٰهُ آخَذَ بِطَرْفٍ لِسَانَهُ،
 فَقَالَ : هَذَا أَوْرَدَنِيْ المَوَارِدَ.

"Aku melihat Abu Bakar As-Shiddiq rahimahullah memegang ujung lisannya, kemudian mengatakan: 'Inilah yang mengantarkanku pada kebinasaan.'" (Kitabuz Zuhd Abu Dawud as-Sijistani: 55) alih bahasa atsar: Retno Palupi, Bekasi

____________________

Lisan, sebuah nikmat yang besar. Ia ibarat pisau bermata dua. Dapat memberikan manfaat dan juga sebaliknya dapat menjadi sebab kecelakaan dan penyesalan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari: 6478)

Oleh sebab itu, kunyah lebih dahulu sebelum ditelan. Pikirkan dengan matang apa yang akan kita ucapkan, karena ingat, bahwa lisan ini yang akan mendatangkan kebinasaan jika ia dibiarkan begitu saja.

Minggu, 20 Mei 2018

JABIR BIN ABDILLAH (KabaUrangDulu025)


Seorang sahabat yang mulia, Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma pernah mengatakan:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ وَ بَصَرُكَ وَ لِسَانُكَ عَنِ الكَذِبِ وَ الآثَمِ، وَ دَعْ أَذَي الخَادِمِ، وَ لْيَكُنْ عَلَيْكَ وَقَارٌ وَ سَكِيْنَةٌ يَوْمَ صِيَامِكَ، وَ لاَ تَجْعَلْ يَوْمَ صِيَامِكَ وَ فِطْرِكَ سَوَاء

"Jika kamu berpuasa maka puasakanlah juga pendengaranmu, penglihatanmu dan perkataanmu dari kedustaan dan segala dosa. Hindarkanlah dari menyakiti pelayanmu. Jadikanlah dirimu penuh kewibawaan dan ketenangan di hari puasamu. Janganlah kau jadikan hari puasamu sama dengan hari berbukamu." (Shahih Muslim: 1116) alih bahasa atsar: Fahmi Idris, Bekasi

____________________

Memang demikianlah seharusnya, ketika kita tengah berpuasa pada hakikatnya kita tidak hanya menghalangi diri dari makan dan minum saja. Banyak hal yang mesti kita jauhi, sesuatu yang dibulan biasa haram dan terlarang maka dibulan Ramadhan jauh lebih haram.

Ramadhan adalah kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri. Dengan berpuasa kita berusaha menjadi lebih baik. Oleh sebab itu perintah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tatkala ada orang lain yang menghina dan mencoba menghidupkan api kemarahan kita, cukuplah dengan mengatakan aku sedang berpuasa. Beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

"Apabila seorang dari kalian tengah berpuasa maka janganlah ia mengucapkan ucapan yang keji dan melakukan perbuatan bodoh. Apabila ada seorang yang menghina dan mengutuknya maka hendaklah ia mengatakan: 'Aku sedang berpuasa.'" (HR. Bukhari: 1894, Muslim: 1151)

Maka dari itu, marilah menjadi seorang yang benar-benar mewujudkan puasa yang sesungguhnya. Menahan diri dari segala bentuk dosa.

Sabtu, 19 Mei 2018

IBRAHIM AN-NAKHA'I (KabaUrangDulu024)


Seorang tabi'in, guru dari Imam Abu Hanifah, yaitu Imam Ibrahim an-Nakha'i rahimahumullah, ia pernah mengatakan:

صَوْمُ يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ يَوْمٍ، وَتَسْبِيْحَةٌ فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ تَسْبِيْحَةٍ وَرَكْعَةٌ فِيْهِ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ رَكْعَةٍ.

"Berpuasa satu hari di bulan Ramadhan lebih baik daripada berpuasa seribu hari, bertasbih satu kali di bulan Ramadhan lebih baik daripada bertasbih seribu kali dan satu rakaat shalat di bulan Ramadhan lebih baik dari seribu rakaat (di bulan lain)." (Latha'iful Ma'arif: 286) alih bahasa atsar: Elin Hermawati, Bogor

____________________

Pahala sebuah amalan terkadang menjadi berlipat ganda karena beberapa sebab. Di antaranya adalah kemuliaan suatu waktu. Bulan Ramadhan adalan bulan yang paling mulia dari bulan-bulan lainnya. Sehingga amal kebajikan pada bulan itu akan bernilai besar dan berlipat ganda dibanding bulan yang lain. Oleh sebab itulah dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alahi wasallam bersabda:

 عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

"Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan pahala haji." (HR. Bukhari: 1863, Muslim: 1256)

Sungguh berlipat ganda. Maka dari itu sangat rugi rasanya bilamana kita tak menyadari hal ini sehingga kita kehilangan banyak kebaikan. Oleh sebab iru, jangan biarkan bulan Ramadhan berlalu begitu saja. Mari bersemangat dan bersegera melakukan kebajikan, sekarang dan jangan tunda, karena kita tak tahu apakah masih hidup esok atau tidak. Zahir al-Minangkabawi

Kamis, 17 Mei 2018

SUFYAN ATS-TSAURI (KabaUrangDulu023)


Ustman bin Zaidah rahimahullah pernah menuturkan perihal nasehat yang disampaikan Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah kepadanya. Ia mengatakan:

كَتَبَ إِلَيَّ سُفْيَانُ الثَوْرِي : إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَصِحَّ جِسْمُكَ،  وَيَقِلَّ نَوْمُكَ، فَأَقِل مِنَ الْأَكْلِ

Sufyan ats-Tsauri pernah menuliskan pesan untukku: "Apabila kamu ingin memiliki badan yang sehat dan sedikit tidur maka kurangilah makan." (Jamiul Ulumi wal Hikam: 2/472) Alih bahasa: Ismianti, Bogor

__________________

Salafunas shalih menyadari betul hakikat hidup di dunia ini. Hidup hanya sekali, untuk menyiapkan bekal menuju perjalanan panjang bertemu Allah. Mereka sangat memahami Firman Allah:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian. (QS. Al-Hijr: 99)

Hidup ini adalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah, maka sangat di sayangkan jika hidup hanya untuk banyak tidur. Oleh sebab itu, memperhatikan makanan supaya jangan berlebihan adalah satu hal yang dapat menyehatkan badan dan mengurangi tidur.

SA'ID BIN MUSAYYIB (KabaUrangDulu022)



Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, diriwayatkan dari seorang tabi'in yang mulia Sa'id bin Musayyib rahimahullah, bahwa ia pernah berkata:

مَنْ هَمَّ بِصَلَاةٍ، أَوْ صِيَامٍ، أَوْ حَجٍّ، أَوْ عُمْرَةٍ، أَوْ غَزْوٍ، فَحِيْلَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ ذٰلِكَ، بَلَّغَهُ اللّٰهُ تَعَالَى مَانَوَى.

"Barang siapa yang berniat untuk shalat, puasa, haji, umrah atau berperang kemudian ada penghalang antara dia dengan yang ia niatkan maka Allah akan (menyampaikannya) memberikan pahala atas apa yang di niatkan." (Jami'ul Ulumi wal Hikam: 2/320) Alih bahasa atsar: Elin Hermawati, Bogor
________________________

Itulah kemurahan Allah subhanahu wata'ala kepada para hamba-Nya. Niat dan tekad yang kuat untuk melakukan kebaikan, itulah yang tidak boleh kita lupakan. Sebab Allah memang Maha Pemurah, memberikan ganjaran pahala terhadap niat-niat itu, meski belum melakukannya.

Apabila niat baik itu terwujud melalui perbuatan maka akan dibalas minimalnya sepuluh pahala dan maksimalnya tak terhingga. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

"Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan kejahatan, kemudian menjelaskannya. Barang siapa yang berniat kebaikan lantas tidak jadi ia amalkan, Allah mencatat satu kebaikan disisi-Nya secara sempurna, dan jika ia berniat lantas ia amalkan, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kebaikan, bahkan lipatganda tidak terbatas. Barang siapa yang berniat melakukan kejahatan kemudian tidak jadi ia amalkan, Allah menulis satu kebaikan sempurna disisi-Nya, dan jika ia berniat jahat lalu ia lakukan maka Allah menulisnya sebagai satu kejahatan saja." (HR. Bukhari: 6491, Muslim: 131)

Oleh sebab itu, sekecil apapun niat untuk berbuat kebaikan, niatkanlah, karena Allah Maha Pemurah.

Selasa, 15 Mei 2018

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ (KabaUrangDulu021)


Manusia termulia setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sahabat agung yang memiliki banyak keutamaan; Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu anhu pernah mengatakan:

لَا خَيْرَ فِيْ قَوْلٍ لاَ يَرَادُ بِهِ وَجْهُ اللهِ، وَ لَا خَيْرَ فِيْ مَالٍ لَا يُنْفَقُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ يَغْلِبُ جَهْلُهُ حِلْمَهُ، وَلَا خَيْرَ فِيْمَنْ يَخَافُ فِيْ اللهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

"Tidak ada kebaikan pada ucapan yang tidak mengharapkan wajah Allah. Dan tidak ada kebaikan pada harta yang tidak dibelanjakan di jalan Allah. Tidak ada kebaikan pada seseorang yang kebodohannya mengalahkan sifat santunnya. Dan tidak ada kebaikan pula pada seseorang yang takut akan celaan manusia padahal ia berada di jalan Allah." (Kitabuz Zuhd Abu Dawud as-Sijistani: 51) alih bahasa atsar: Siti Rismiati, Cileungsi

__________________

Demikianlah nasehat singkat sabahat mulia. Hidup ini adalah untuk mencari keridhaan Allah subhanahu wata'ala. Oleh sebab itu, tapakilah selalu jalan yang benar, jangan berpaling ke kiri atau ke kanan. Setelah itu, beristiqamah dan jangan pedulikan lagi celaan dan cibiran manusia. Ingat bahwa Allah pernah berfirman:

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ 

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (QS. Al-Maidah: 53)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda tentang golongan yang selamat:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي قَائِمَةً بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ أَوْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ 

"Akan senantiasa segolongan dari umatku mengerjakan perintah Allah, mereka tidak termudharati oleh orang-orang yang menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah." (HR. Muslim: 1037)

Benar kata orang-orang bijak dahulu, "Jika engkau berada di atas kebenaran, teruslah berjalan. Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu." zahir

Senin, 14 Mei 2018

SALAFUS SHALIH (KabaUrangDulu020)


Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah menyebutkan bahwa ada di antara salafus shalih yang dahulu pernah mengatakan:

أَدْرَكْتُ قَوْمًا لَمْ يَكُنْ لَهُمْ عُيُوْبٌ، فَذَكَرُوْا عُيُوْبَ النَّاسِ، فَذَكَرَ النَّاسُ لَهُمْ عُيُوْبًا.  وَأَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَتْ لَهُمْ عُيُوْبٌ، فَكَفُّوْا عَنْ عُيُوْبِ النَّاسِ  فَنُسِيَتْ عُيُوْبُهُمْ

"Aku mendapati suatu kaum yang tidak punya aib sama sekali, lalu mereka menyebut-nyebut aib orang lain, maka orang lain pun menyebut-nyebut aib mereka.  Dan aku juga mendapati kaum lain yang memiliki banyak aib, namun mereka menutupi aib-aib orang lain maka aib mereka pun dilupakan orang." (Jami'ul Ulum Wal Hikam: 2/291) Alih bahasa atsar: Rahmat, Padang

____________________

Siapa dia antara kita yang ingin aibnya terbongkar dan diketahui oleh orang-orang. Semua kita ingin agar aib-aibnya terkubur bersama berjalannya waktu, sehingga tak seorang pun yang tahu. Dan ternyata, cara terbaik untuk mendapatkan hal itu adalah dengan menutupi aib-aib orang lain. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

"Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim: 2699)

Karena memang balasan sesuai dengan amal yang telah dilakukan. Oleh sebab itu, pejamkan mata, sumbat telinga dan jaga hati, untuk menutupi aib saudara kita yang lain. Zahir al-Minangkabawi

Minggu, 13 Mei 2018

IMAM ASY-SYAFI'I (KabaUrangDulu019)


Imam Adzahabi rahimahullah menyebutkan di dalam kitab Siar A'lamin Nubala' bahwa Imam Asy Syafi'i rahimahullah pernah mengatakan:

نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ الَّتِيْ جَاءَ بِهَا الْقُرْآنُ وَوَرَدَتْ بِهَا السُّنَةُ وَنَنْفِيْ التَّشْبِيْهَ عَنْهُ كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ فَقَالَ: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْئٌ

"Kita menetapkan sifat-sifat Allah ini yang dijelaskan al-Qur'an dan Sunnah dan kita meniadakan tasybih (penyerupaan) dari-Nya sebagaimana Allah telah meniadakan tasybih itu dari diri-Nya sendiri, Allah berfirman: Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengannya. (QS. Asy-Syura: 11)" (Siyar 'Alaam An Nubala 20/341, 'Itiqad Al Aimmah Al Arba'ah: 42) Alih bahasa atsar: Dede Manshurullah, Karawang

___________

Demikianlah Imam Syafi'i menetapkan semua sifat-sifat Allah yang disebutkan di dalam Al qur'an dan Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam tanpa menyerupakannya dengan makhluk-Nya.
Ketika Allah dan Rasul-Nya mengabarkan bahwa Allah di atas langit istiwa' (bersemayam) di atas 'Asy-Nya, sebagaimana firman-Nya:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Tuhan Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas 'Arsy. (QS. Thaha: 5)

Maka kita sebagai mukmin berkewajiban untuk menetapkannya. Dengan mengatakan: "Allah di atas langit beristiwa' (bersemayam) di atas 'Asry, namun bersemayamnya Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya."

Jangan mengaku bermadzhab Syafi'i tapi dalam masalah akidah tidak mau ikut Imam Syafi'i. Jika memang kita benar-benar jujur mengikuti jejak Imam Syafi'i, maka ikuti beliau juga dalam masalah akidah.

Jumat, 11 Mei 2018

HASAN AL-BASHRI (KabaUrangDulu018)


Sebagai seorang mukmin kita harus tahu bagaimana sikap yang benar dalam bermuamalah dan berinteraksi dengan sesama manusia. Hasan al-bashri pernah mengatakan:

الْمُؤْمِنُ لاَ يَجْهَلُ وَإِنْ جُهِّلَ عَلَيْهِ حَلِمَ، وَلَا يَظْلِمُ وَإِنْ ظُلِمَ غَفَرَ، وَلاَ يَبْخَلُ وَإِنْ بُخِّلَ عَلَيْهِ صَبَرَ

"Seorang mukmin itu tidaklah bodoh, dan jika dibodohi maka dia akan bersikap santun. Dia bukanlah seorang yang zalim dan ketika dizalimi, dia memaafkan. Dia bukanlah orang yang bakhil, ketika dibakhili, dia bersabar." (Rasail Ibnu Abid Dunya: 27) Alih bahasa: Nunung Nuryani, Bogor

__________________

Demikianlah seorang mukmin yang sesungguhnya. Ia tidak akan mau berpegang pada konsep "keburukan harus dibalas dengan keburukan yang serupa", namun sebaliknya, dadanya lapang menerima perlakuan yang menyakitkan. Ia senantiasa ingat bahwa Allah berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ ۚ 

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. (QS. Al-Mu'minun: 96)

Dengan begitu, hidupnya terasa lapang. Karena ia yakin dengan janji Allah dan hari pembalasan.

Rabu, 09 Mei 2018

RAJA' BIN HAIWAH (KabaUrangDulu017)


Seorang tabi'in, ulama, sekaligus sosok yang pernah menjabat sebagai menteri pada masa kekhilafahan Bani Umayyah, Raja' bin Haiwah rahimahullah mengatakan:

مَنْ لَمْ يُؤَاخ إِلًّا مَنْ لَا عَيْبَ فِيْهِ قَلَّ صَدِيْقُهُ، وَمَنْ لَمْ يَرْضَ مِنْ صَدِيْقِهِ إِلَّا بِالْإِخْلَاصِ لَهُ،  دَامَ سَخَطُهُ، و من عَاتَبَ إِخْوَانَهُ عَلَى كُلِّ ذَنبٍ كَثُرَ عَدُؤُهُ

"Barang siapa yang tidak mau bersaudara kecuali dengan orang yang tidak ada kekurangannya, pastilah sedikit temannya. Dan barang siapa yang tidak ridha terhadap temannya kecuali dengan keikhlasan kepadanya, dia akan selalu merasa marah. Dan barang siapa yang banyak mencela saudaranya atas setiap kesalahan, maka banyak musuhnya." (Munajjid al-khatib: 2/18) Alih bahasa: Ismianti, Bogor
_________________

Begitulah, jika kita masih hidup dan berteman dengan sesama manusia, maka ketahuilah bahwa manusia siapa pun ia pasti tidak lepas dari salah, cacat dan kurang. Hanya para Nabi dan Rasul saja yang ma'shum (terjaga dari kesalahan), selain mereka tetaplah anak Adam. Sedangkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

"Setiap anak Adam pasti bersalah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi: 2499, dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Oleh sebab itu kita ini hidup untuk saling melengkapi bukan untuk saling membanggakan diri.

IMAM ASY-SYAFI'I (KabaUrangDulu016)


Muhammad bin Idris asy-Syafi'i, satu diantara Imam empat madzhab yang terkenal. Orang shalih yang patut kita tapaki jejak langkahnya. Beliau rahimahullah pernah mengatakan:

مَا شَبِعْتُ مُنْذُ سِتَّ عَشْرَةَ سَنَةً إِلا شُبْعَةً اطَّرَحْتُهَا ، لأَنَّ الشِّبَعَ يُثْقِلُ الْبَدَنَ ، وَيُزِيلُ الْفِطْنَةَ ، وَيَجْلِبُ النَّوْمَ ، وَيُضْعِفُ صَاحِبَهُ عَنِ الْعِبَادَةِ

"Aku tidak pernah kenyang selama enam belas tahun kecuali sekali. Karena kenyang itu memberatkan badan, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan rasa kantuk dan melemahkan diri dalam beribadah." (Jami'ul Ulum Wal Hikam : 2/474) Alih bahasa: Rahmat, Padang

________________

Makanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda memperingatkan kita agar tidak terlalu banyak makan dan kenyang dalam sebuah sabdanya:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ

"Tidaklah anak Adam memenuhi tempat yang lebih buruk daripada perutnya." (HR. Tirmidzi: 2380, Ibnu Majah: 3349)

Makan dan minum adalah kebutuhan, hanya yang perlu diperhatikan jangan sampai melampaui batas. Allah berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raf: 31)

YAZID BIN HARUN (KabaUrangDulu015)


Ahmad bin Sinan menuturkan tentang seorang sosok yang mulia. Teladan yang sangat layak bagi kita yang hidup di hari ini. Beliau mengatakan:

مَارَأَيْتُ عَالِماً قَطُّ أَحْسَنَ صَلَاةً مِنْ يَزِيْدَ بْنِ  هَارُوْن، يَقُوْمُ كَأَنَّهُ أُسْطُوَانَةٌ

"Aku belum pernah melihat alim seorang pun yang lebih baik shalatnya daripada Yazid bin Harun. Ia berdiri dalam shalatnya seperti tiang." (Munajjid Al-Khatib : 2/203) Alih bahasa: Rahmat, Padang

____________________

Kekhusyukan adalah ruh dari shalat. Makanya Allah mengandengkan antara perintah shalat dan perintah agar khusyu dalam mengerjakannya. Allah berfirman:

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Peliharalah semua shalatmu, dan peliharalah shalat wustha (Ashar). Berdirilah untuk Allah dengan khusyu'. (QS. Al-Baqarah: 238)

Gerakan yang khusyu hanya akan timbul dari hati yang khusyu. Itulah yang terlihat dari potret salafus shalih, hati mereka benar-benar merasakan ruh dari shalat sehingga terbias dari gerakannya.

Bandingkan dengan kita, pernahkah kita shalat berdiri bagaikan tiang?! Yang ada malah seringnya kita bagaikan cacing yang terpanggang, terlebih jika imam membaca surat yang agak panjang. Kenapa?!  Tidak lain karena kita belum mampu menghadirkan hati dalam shalat kita sehari-hari. Semoga bermanfaat. Zahir al-Minangkabawi

Selasa, 08 Mei 2018

FUDHAIL BIN 'IYADH (KabaUrangDulu014)


Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah mengatakan:

لَا يَزَالُ العَالِمُ جَاهِلاً حَتَّى يَعْمَلُ بِعِلْمِهِ فَإِذَا عَمَلُ بِهِ صَارَ عَالِمًا

"Seorang yang berilmu masih dianggap bodoh sampai ia beramal dengan ilmunya. Bila ia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah ia orang yang benar-benar berilmu." (Hushul Ma'mul: 16) Alih bahasa: Siti Rismiati, Cileungsi

__________________________


Demikianlah memang ilmu itu. Buahnyalah yang  diharapkan, bukan sekadar pohon. Oleh sebab itu, yang akan ditanya kelak bukan seberapa banyak kita telah menghafal ilmu, namun apa yang telah kita amalkan dari ilmu-ilmu itu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

 لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

"Tidak akan bergeser kaki Anak Adam pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dengan ilmunya." (HR. Tirmidzi: 2416)

Minggu, 06 Mei 2018

AS-SALAFUS SHALIH (KabaUrangDulu013)


Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam al-Kabair sebuah ucapan yang sangat berharga. Beliau mengatakan:

وَكَانَ بَعْضَ السَّلَفِ يَقُوْلُ : مَا فَاتَتْ اَحَدًا صَلاَةُ  الجَمَاعَةِ إِلَّا بِذُنُوْبِ اَصْحَابِهِ

Sebagian salaf terdahulu mengatakan: "Tidaklah seorang terluput dari shalat berjama'ah kecuali karena sebab dosa-dosanya." (al-Kabair: 31) Alih bahasa: Nunung Nuryani, Bogor

___________________

Ternyata, memang dosalah yang membuat kita menjadi lemah untuk beribadah, meski tubuh kuat dan kekar. Bukankah Allah telah berfirman:

وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ، وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ

Dan ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. (QS. Al-Lail: 8-10)